Minggu, 30 November 2014

Diamlah,,,


Pagi ini aku sempatkan duduk
di jendela tanpa kaca di istana kecilku
sedikit merangkai aksara di kertas kusutku,
lalu mendendangkannya sebagai barisan puisi sederhanaku,

“Hei , berhentilah menulis tentangku, karena aku tak akan pernah bisa membalas tulisanmu itu...”

Apa? Aku hanya bisa bermain kata-kata tidak dengan hati... duduk dan diamlah...

Biarkan aku membannjiri kertasku dengan puisi......tentangmu....

pict : from google

Kamis, 16 Oktober 2014

Nyanyian Pilu

Lantunan indah melodi itu,
alunannya yang menyayat-nyayat kalbu,
seakan menceritakan sebuah cerita pilu,
bila langit pun tahu,
mendung yang pekatpun akan menghiasi ,
penghuni langit akan bersimpati,
Dan bumipun akan menangisi,

“Nak, hari ini tak ada yang bisa ibu berikan,
tidurlah, karena malam akan membuatmu lupa akan keroncongan,
esok akan Ibu berikan yang lebih dari hari ini...”
Ibu muda itu mendekap pilu perempuan kecil itu
dengan membuncahkan segala tangis tertahan,

Fajar menyingsing dan tak ada lagi rengekan itu,
sang gadis kecil itu tidur dengan lelapnya didekapan sang Bunda,
tapi apa yang terjadi ?
Tak terasa lagi hembusan hangat nafasnya,
dekapan tangannya mengendor dan terasa dingin,
wajahnya memucat tapi masih terselip senyumnya,
sang gadis kecil telah berpulang kepada-Nya

Pagi itu terasa begitu gelap,
mendung pekat memayungi rumah ibu muda itu,
benar dia tinggal sebatang kara,
setelah sewindu ditinggal sang imamnya,
kini harta berharga satu-satunya diambil pula oleh yang Kuasa,
Ibu muda itu hanya menangis pilu,,,


Pict : from google

Kamis, 07 Agustus 2014

Di pertemukan Sajak Singkat


Gadis itu,,,

aku sempat bertemu dengannya beberapa waktu lalu.
Kita tidak sengaja bertemu di satu sudut toko buku langgananku.
Kita memilih buku yang sama, seleranya bagus juga...
Dia pecinta sajak juga ternyata...

Hari berikutnya,
kita bertemu di tempat yang sama,
masih tentang bacaan yang sama pula,
Aku duduk bersamanya dengan dua cangkir di meja.
Dia penikmat kopi juga. Batinku.
Hanya saja aku masih enggan untuk menyapanya.
Sore itu berlalu dengan kebisuan diantara dua anak manusia yang enggan untuk saling menyapa.

Keesokan harinya,,,
Lagi-lagi kita duduk di tempat yang sama.
Buku yang dia baca, minuman yang dia pesan, dan posisi duduk yang nyaris mirip denganku.
Aku, seperti melihat diriku sendiri dalam chasing yang berbeda.

Kali ini , aku memutuskan untuk menghampirinya dan mengajaknya ngobrol.
Namanya gadis, tinggal tak jauh dari toko buku itu, makanya dia sering datang ke toko buku itu.
Kita berbagi cerita, kita banyak bertukar pikiran.

Satu jam, dua jam, hampir tiga jam kita berbincang.
Selama itu, kita tak menghiraukan orang-orang yang berlalu-lalang di depan kita, memandang dengan penuh heran.

Pikirku, mungkin mereka kagum melihat kita berdua.
Dua orang gadis cantik yang sedang bercengkrama.

Obrolan kita terhenti,
karena langit sudah mulai gelap,
Gadis memberiku sebuah buku , kumpulan sajak-sajak romantis.
Katanya, sebagai tanda persahabatan yang manis.

Baru kali ini aku merasa cepat akrab dengan teman baru,
dan dia tak sungkan menjadikanku seorang sahabat baru,
Terima kasih wong ayu.... :)


Aku mengantarkan Gadis sampai ke rumahnya dengan motor matic ku.
Rumahnya tidak jauh dari toko buku langganan ku,
Rumah yang cukup besar dan megah,
berhasil membuatku terperangah.

Hari itu berlalu dengan sangat cepat,
karena hariku kini tak membosankan,
aku tak lagi sendiri, karena ada Gadis,,,,
sahabat baruku,,,

Sore itu,,,
Tidak seperti biasa, aku tak melihat Gadis di toko buku.
Gadis kemana ya ? Padahal dia kan yang lebih rajin datang ke toko buku.

Sampai menjelang malam, Gadis tak juga menampakkan batang hidungnya.
Akhirnya aku memutuskan untuk mendatangi kediamannya.

Sampainya di depan gerbang rumah Gadis,
aku melihat beberapa orang sedang mengenakan pakaian berkabung,
Itu seperti akan mengadakan tahlilan di rumah duka.

Tapi, siapa yang meninggal?!

Aku memberanikan diri untuk melangkahkan kakiku memasuki gerbang rumah mewah itu.

Ibu, permisi,,,Gadisnya ada?”, tanyaku kepada seorang ibu di depan pintu rumah.
Gadis,,,,?”, tanyanya sedikit terkejut.
Iya bu, Gadis....”, tanyaku kembali.
Kamu siapa nak? Kenapa mencari Gadis? Apa kamu tidak tahu nak? Gadis sudah meninggal , hari ini 7 harinya dia. Maafkan Gadis kalau Gadis anak saya banyak salah.”Ibu itu bercerita tanpa aku meminta dengan suaranya yang bergetar.

Tujuh hari yang lalu?
Lalu, kemaren itu siapa?
Aku mengobrol dengan siapa selama ini?
Aku bercanda dengan siapa beberapa hari ini?

Aku masih tidak percaya dengan apa yang aku lihat,
Tapi Ibu Gadis meyakinkan aku dengan segala ceritanya.

Gadis sahabat baruku,,,
Benar-benar sudah tiada,,,
Gadis yang aku temui di toko buku itu mungkin “hatinya” Gadis yang masih hidup,
gumpalan air melewati pipiku dan meninggalkan bekas, basah.

Tiba-tiba Aku ingat sesuatu di dalam tasku,
ada buku yang diberikan Gadis kepadaku beberapa waktu yang lalu,

Aku segera membacanya, lembar demi lembar halaman buku itu,
di pertengahan buku itu aku menemukan sepucuk surat warna merah hati,
wangi, dan dihiasi pita di ujung amplopnya.

Aku buka amplop merah hati itu,
Di belakang amplop tidak tertera untuk siapa surat itu ditujukan,
Jadi aku fikir aku boleh untuk membacanya.

Bait demi bait aku baca surat itu,
Sajak demi sajak yang aku baca sungguh dalam dan sangat indah,
Ada arti dibalik puisi yang Gadis tulis itu,

Itu surat cinta yang dituliskan gadis untuk seseorang,
tapi tidak tahu siapa?

Aku melanjutkan membaca lagi barisan kata-kata yang indah itu.
Sampai aku menemukan satu nama yang aku baca.

P.E.T.R.A
Bila puisi itu dibaca dari atas ke bawah, dan setiap huruf pertama dari sajak itu menyusun sebuah nama.

Petra, seorang pria salah satu pengunjung di toko buku langganan kami juga,
ternyata diam-diam Gadis menyimpan perasaan kepadanya.
Tidak pernah terlihat sedikitpun dari rona wajah Gadis selama ini, ya meskipun aku baru mengenalnya dalam hitungan hari.

Gadis belum sempat menyampaikan perasaannya kepada PETRA,
Dia hanya menyimpannya dalam hati tanpa ada yang tahu,
sampai dia tak lagi terlihat sekarang,
sang pujaan hatinya tak pernah mengetahui jika ada seorang Gadis yang rela meluangkan setiap waktunya untuk sekedar melihatnya, pun sampai akhir hayatnya.

Tersenyumlah Gadis,,,,, :')
Kini cintamu abadi,

Dalam dekapan sang Illahi,


Rabu, 06 Agustus 2014

Long Distance....

Hi ,,,,

Have you ever been waiting for someone until you feel so bored?
Now, i'm in this situation...
Feel so bored, even in basicly this is an usual feel,
Because there is no time like before anymore,
Because there is no text as usual that I get from him anymore,,,
Because there is no Love as deep as before,,,

Now, all of the feel like dissappear, lost....


We are in Long Distance Relationshi(t)p now,
We are in Backstreet Relationshi(t)p too,
and We are in Busy Relationshi(t)p again,

Just trying to fight and stand in this way,
but this isn't as easy as I think at the first,

Should I stop it ?




pict : from google.



Rabu, 04 Juni 2014

GAJAH

Satu lirik dari Tulus yang mengingatkan kan ku dimasa-masa kecil :D
Dulu julukanku "Gajah" karena ukuran badanku yang lebih besar dari mereka. Ahahhaha....selalu marah kalau mereka menyebutku Gajah, tapi kira-kira sekarang teman - temanku masih inget gak ya ama julukan ini :'D

GAJAH
By: TULUS

Setidaknya punya tujuh puluh tahun
Tak bisa melompat kumahir berenang
Bahagia melihat kawanan betina
Berkumpul bersama sampai ajal
Besar dan berani berperang sendiri
Yang aku hindari hanya semut kecil
Otak ini cerdas kurakit berangka
Wajahmu tak akan pernah ku lupa
Waktu kecil dulu mereka menertawakan
Mereka panggilku gajah, ku marah
Kini baru ku tahu puji di dalam olokan
Mereka ingatku marah
Jabat tanganku panggil aku gajah
Kau temanku kau doakan aku
Punya otak cerdas aku harus tangguh
Bila jatuh gajah lain membantu
Tubuhmu disituasi rela jadi tamengku
Kecil kita tak tahu apa-apa
Wajar bila terlalu cepat marah
Kecil kita tak tahu apa-apa
Yang terburuk kelak bisa jadi yang terbaik
Yang terburuk kelak bisa jadi yang terbaik
Kau temanku kau doakan aku
Punya otak cerdas aku harus tangguh
Bila jatuh gajah lain membantu
Tubuhmu disituasi rela jadi tamengku
Kau temanku kau doakan aku
Punya otak cerdas aku harus tangguh
Bila jatuh gajah lain membantu
Tubuhmu disituasi rela jadi tamengku

Minggu, 25 Mei 2014

SENJA PENANTIAN



Aku hanya bisa mengingat paras wajahnya
aku rekam baik-baik dalam memori otakku,
aku bingkai dalam pigura kenanganku,

Sore itu,,,
senja yang menjadi saksi kala dia mengucap janji,
janji sehidup semati bersama sang kekasih hati...

Tulus,,,
aku lihat itu jelas dari matamu,
seperti malam yang selalu menantikan bulan dan bintang,
seperti tepi pantai yang selalu merindukan deburan ombak,

Jangan menangis lagi,
aku tak Ingin melihat butiran kristal itu keluar dari indah matamu,
itu terlalu berharga bila kamu menangisinya.
Dia yang selalu kamu banggakan bermain hati dengan perempuan lain
tanpa kamu sadari...

Kamu tak tahu karena kamu dibutakan oleh cinta....

Hai perempuan....
Air matamu sangat berharga hanya untuk sekedar menangisi seorang pengkhianat,

Sekarang,,,
bajakan hatimu, lanjutkan mimpimu,
karena tak seharusnya engkau terus terpuruk
di dalam penyesalanmu...

Tersenyumlah,
karena mentari selalu senantiasa memelukmu dengan hangatnya,

Di sanalah...

ada seorang anak manusia yang sedang memperhatikanmu bangkit dari kegagalan...

Senin, 12 Mei 2014

11:11 PM


Waktu di mana semua hal di dunia nyata terhenti, menghilang, dan takkan pernah kembali.”

Denting jam ditembok, seolah seperti sebuah simphony yang memekakan telinga, dan mengiris ulu hati. Alunan pilu not-not yang entah dari mana sumbernya, merangkai menjadi alunan dentingan yang syahdu. Teriris.

Dentingan yang tidak biasa yang pernah aku dengar. Jam dinding itu selalu berdenting di putaran-putarannya dan selalu sama. Tapi, tepat pukul 11: 11, dentingannya sangat lembut, lebih lama, dan selalu berhasil membuat bulu kudukku berdiri tiap kali aku mendengarnya.Mungkin saja kalau jam dinding itu bisa bicara,dia ingin sekali mengatakan sesuatu kepada setiap seseorang yang melewatinya, tapi....jam dinding hanyalah jam dinding, dia benda mati dan tak akan bisa berkata.......

Jam dinding itu menempel di dinding diantara rak-rak buku milik omaku, jam dinding yang selalu menyita perhatianku tiap kali aku berada di ruangan baca itu. Karena bentuknya yang unik, terkesan klasik, dan usianya melebihi usia anak sulung omaku- itu lebih dari 45 tahun lalu-serta karena suara dentingan yang tidak biasa.

Setelah sekitar 10 jam perjalanan, akhirnya siang itu, aku dan kedua orang tuaku tiba di kediaman omaku. Semenjak opah meninggal beliau hanya tinggal sendiri di rumah yang cukup besar itu, dan hanya ditemanin beberapa pembantu dan sopir yang bekerja paruh waktu.
Kulitnya yang keriput, rambutnya yang memutih, badannya yang tak lagi tegap ketika berdiri, selalu menyambut setiap orang yang mampir di rumah itu dengan hangatnya, menyiapkan semuanya sendiri, detail. Sampai handuk mandi untuk para tamunya beliau siapkan juga. Mentari yang bersinar sangat terik di hari itu membuatku enggan untuk berkeliling jalan-jalan ke kebun bunya milik omaku. Padahal dulu aku suka sekali beramain di sana ketika aku kecil kata oma, entahlah kapan waktu itu ,bahkan aku tidak ingat jika aku pernah suka bermain di kebun bunga oma.

Aku berjalan meninggalkan ruang keluarga dan menuju tempat istirahatku yang sudah disipakan oleh oma, tapi langkahku terhenti di ruang baca. Keinginanku untuk bersantai di kamar seolah terkalahkan oleh ketertarikanku untuk berdiam di ruang baca. Ruang baca itu selalu tertata rapi persis seperti terakhir kali aku ke tempat ini, setahun lalu. Entah kenapa aku suka sekali berada di ruangan ini, mungkin karena nyaman, bersih dan pasti banyak buku-buku langka di sini. Jane Austin, Mary Shelley, Sir Walter Scott, Robert Shouthey, William Blake, dan William Shakespeare dengan master piecenya “Romeo & Juliet”, telah menjadi penghuni di ruang baca ini sejak bertahun-tahun lalu.

Semua koleksi buku-buku yang ada di ruang baca ini adalah milik Opa. Sering kali Opa menghabiskan waktunya di ruangan ini – kata Oma. Sayangnya, aku belum sempat bertemu dengan Opa, beliau meninggal tepat 7 hari sebelum aku lahir. Aku hanya melihat wajah Opa dalam foto keluarga yang dipajang Oma di ruang keluarga. Tapi kata ayah, aku mirip Opa, bukan wajahnya melainkan cara berpikirnya, tingkahlakunya, celetukku yang spontan dan sering kali mengingatkan ayah kepada Opa.

Aku mulai asik memilih-milih buku untuk aku baca nantinya, tapi ketika tanganku asik bermain diantara buku-buku, ekor mataku melihat suatu benda tergeletak di atas meja di pojok ruangan. Itu seperti sebuah photo album. Aku menghentikan aktifitasku dengan buku-buku di rak lemari dan menghampiri album foto itu. Aku duduk di kursi goyang kesayangan oma sambil melihat-lihat foto-foto yang ada di album itu.

Keasyikanku terhenti ketika aku melihat foto seorang gadis dalam album, gadis yang belum pernah aku lihat sebelummya. Memakai baju coklat , rambutnya dikepang dua dengan pita-pita kecil menghiasainya. Hanya saja, dari foto yang aku lihat itu, gadis itu seperti mengidap Downsyndrom, gadis yang berumur belasan tapi di dalamnya terdapat jiwa balita. Tapi dia manis.

Berbagai pertanyaan muncul dibenakku, sebenarnya siapa gadis ini? Mengapa aku tidak pernah tahu selama ini? Kenapa tidak ada yang menceritakan kepadaku siapa gadis ini?
Aku terus mencari tahu sebenarnya siapa gadis album itu. Dan, aku menemukan satu foto kartu ucapan ulang tahun. “Selamat Ulang Tahun, Merlyn...” -Peluk Cium Papa Mama- Merlyn ? Siapa Merlyn?

Aku tertidur di ruang baca Oma sekitar satu jam, ibuku membangunkan aku dan menyuruhku untuk mandi dan bersiap makan malam bersama. Saat itu pertanyaan-pertanyaan tentang Merlyn yang sebelum aku tertidur terus saja bertengger di kepalaku, saat itu juga entah hilang kemana. Seperti ada sesuatu yang hilang, yang seharusnya aku tanyakan kepada ayah dan omaku, tapi apa?

Selama di meja makan aku hanya terdiam dan memakan makanan sekenanya saja,sepertinya cacing dalam perutku kali ini sedang malas untuk mendendangkan keluhan laparnya kepadaku, tidak seperti biasanya.
“Kinan, masakan Oma tidak enak? Kenapa kamu tidak semangat begitu makannya? Kamu sakit?”, pertanyaan Oma yang berentet membuyarkan lamunanku.
“Tidak Oma, makanannnya enak kok, mungkin Kinan kecapeka aja Oma”, kataku sambil tersenyum manis kepada Oma.
“Ya sudah, kamu habiskan makan malammu terus kembali ke kamarmu buat istirahat”Ayah menambahkan.
“Iya yah...”

Aku masih termenung, memikirkan apa yang sebelumnya aku pikirkan, kenapa aku tidak bisa ingat sama sekali? Rasa penasaranku semakin membesar ketika aku melewati ruang baca itu lagi. Album fotonya masih tergeletak di tempat yang sama. Berharap dari album itu aku bisa teringat kembali apa yang sehrusnya aku tanyakan.

Merlyn.
Satu nama yang membuat aku penasaran, kali ini aku harus bertanya tentang gadis itu.Dan, entah kenapa perasaan penasran ini tidak biasa, aku biasanya tidak seperti ini bila penasaran akan sesuatu, tapi kali ini, beda. Aku tulis nama itu dalam ponselku sebagai reminder, bila aku nanti lupa lagi setelah tertidur di ruangan ini. Bener sekali, seketika rasa kantuk melandaku, mataku seakan tak bisa diajak kompromi, aku melihat jam saat itu tepat pukul 11:11 malam. Kenapa tiba-tiba malam terasa sangat cepat sekali? Bukankah baru saja aku makan malam bersama keluargaku.

Tubuhku serasa lemas, kakiku terasa lemah untuk menopang tubuh ini. Kurebahkan badanku di sofa ruang baca itu masih dengan memegang album ditangan. Mataku akhirnya terpejam, aku tertidur lagi.

Gelap.
Aku berjalan melewati sebuah lorong tanpa cahaya, terlihat satu titik cahaya di ujung lorong yang membuatku berjalan ke arahnya. Ternyata lorong itu membawaku kesebuah ruangan. Tapi di mana itu?

Mimpi yang mengerikan. Aku melihat sebuah pembunuhan dengan mata kepalaku sendiri. Seorang gadis yang dibunuh dengan kejam dan meninggal di ruangan itu dengan keadaan tragis. Sayangnya ruangan yang terlalu redup membuatku sulit melihat siapa-siapa saja yang membunuh gadis itu, Kejadiannya sangat cepat. Tidak banyak yang bisa aku rekam dalam ingatanku dari mimpi itu, hanya saja, yang paling aku ingat wajah dari gadis di mimpiku itu. Wajahnya mirip dengan gadis yang pernah aku lihat di album foto Oma. Sebenernya siapa dia?

Sentuhan dan panggilan lembut ibu membangunkan ku perlahan. Aku terjaga dari mimpiku. “Kamu, kenapa tidur di sini, Kinan?”.”Iya bu, aku ngantuk banget tadi bu, jadi tertidur di sini.”

Aku melihat arloji yang aku pakai, waktu itu menunjukkan pukul 9.15 malam. Seketika aku kaget, karena ketika aku masuk ke ruang baca tadi jam sudah menunjukkan pukul 11.11malam . Aku pikir arlojiku yang rusak. Aku memastikan penglihatanku dengan melihat jam dinding di ruang baca itu. Astaga, jam tua itu menunjukkan jam 9.15 malam. Entahlah apa yang terjadi, mungkin mataku saja yang mulai rusak. Lain kali mungkin aku harus memakai kaca mata.

Malam itu berlalu dengan hati yang tak karuan. Mimpi yang mengerikan, jam didinding dan penglihatanku yang mulai tidak bagus.Dan keganjalan-keganjalan lainnya yang aku alami. Entahlah,,,sebelum aku terlelap lagi dalam tidurku, aku berdo'a semoga aku masih bisa melihat esok pagi yang cerah.

Mentari yang hangat lembut menyentuh wajahku, aku terbangun. Senyum manispun aku berikan kepada sang surya yang masih berkenan datang di pagiku. Aku bergegas mandi dan menyiapkan diri untuk sarapan pagi bersama Oma, ayah dan ibu. Karena Oma pasti akan ngamuk kalau aku tidak ikut sarapan pagi.

Benar saja, Oma yang sedang berada di dapur bersenandung kecil dan sesekali mengencangkan suaranya untuk sekedar memberi tanda jika sarapan sudah siap. Ibu yang ikut menyiapkan sarapan pagi senyum-senyum kecil melihat kelakuan Oma yang seperti orang jatuh cinta. Pagi yang indah.

Kamipun berkumpul kembali di meja makan yang berukuran cukup besar itu, kira-kira cukup untuk tujuh orang itu. Hari itu hari kedua aku berada di rumah Oma, rencananya besoknya kami kembali ke kota karena akan ada acara di kantor ayah yang mengharuskan aku dan ibu ikut menghadirinya. Tapi ternyata kami harus tetap berada di rumah Oma.

Pagi itu juga aku iseng bertanya kepada Oma tentang gadis yang aku lihat di album foto Oma. Ketika itu kita sedang berkumpul di ruang keluarga. Oma yang tadinya begitu berseri wajahnya, mendadak berubah seperti ada duka yang tersimpan. Luka dalam. Dengan pandangan kosong Oma akhirnya menceritakan semuanya.

Merlyn, gadis bungsu Oma, yang mengidap down syndrom atau yang biasa dikenal dengan keterbelakangan metal. Menghilang seperti tertelan bumi di rumah puluhan tahun yang lalu. Ketika kejadian itu Oma tinggal bersama Paman Josh ,Bibi Lisa, dan Merlyn -anak kedua,ketiga,dan keempat dari Oma- sedangkan ayahku anak pertama Oma yang harus kerja keras menjadi tulang punggung keluarga menggantikan Opa yang telah meninggal. Yang mengharuskan Ayah bekerja di negeri Paman Sam serta melanjutkan study-nya di sana.

Malam kejadian itu, Oma sedang menghadiri acara peresmian perusahaan milik kolega Opa yang mengharuskan Oma tidak turut serta mengajak Merlyn menghadiri acara malam itu. Sepanjang acara hati Oma merasa tidak tenang meninggalkan Merlyn di rumah sendirian di kamarnya meskipun di rumah ada Paman dan Bibi. Benar saja, sesampainya di rumah Oma tidak menemukan Merlyn di kamarnya ,pun di tempat lainnya.

Oma mencari Merlyn keseluruh ruangan rumah tapi hasilnya nihil. Keesokan harinya Oma memanggil polisi untuk melacak keberadaan Merlyn. Tapi, pihak polisipun angkat tangan menangani kasus Merlyn ini. Paman dan bibi yang ketika itu berada di rumah ketika kejadian diperikas dan polisi tidak banyak mendapat informasi dari mereka. Merlyn hilang ditelan bumi.

Awalnya Oma percaya pasti Merlyn ada di sebuah tempat, tapi dimana?
Masalah ini berlarut-larut tanpa ada penyelesaian. Oma hanya bisa menangis sepanjang hari menangisi kepergian Merlyn. Masih hidup ataukah sudah meninggal. Bertahun-tahun berlalu dan masih menyisakan misteri tentang keberadaan Merlyn. Akhirnya Oma merelekan kepergian Merlyn, dan membuat satu kuburan yang bertuliskan nama Merlyn pada batu nisan itu.

Bukan waktu yang sebentar untuk menyembuhkan luka kehilangan kedua orang yang Oma sayang. Opah dan Merlyn.

Hingga akhirnya aku lahir ke dunia seperti memberikan warna yang baru untuk hidup Oma. Paling tidak, Oma bisa sedikit melupakan Merlyn yang malang.

Sejam, dua jam, dan hampir 5 jam aku duduk berbincang dengan Oma. Tepukan pundak Oma mengakhiri percakapan kami ketika itu.
Bagitu banyak pertanyaan berkecamuk di kepala, diamku memikirkan Merlyn yang malang. Seharusnya cerita ini sudah dikubur dalam-dalam, bersama jasad Merlyn -yang dianggap ditelan bumi- yang damai. Damai? Aku rasa tidak.

Malam itu aku kembali bercengkrama dengan buku-buku Opah lagi. Sesuatu yang aku cari aku harap bisa aku temukan malam itu juga.

Pukul 11 malam, aku masih tetap di sana, di ruang baca itu. Rasa kantuk bukan lagi merasuki pelupuk mata melainkan hilang entah kemana, biasanya aku jam segini sudah berada di alam mimpiku. Tapi tidak malam itu.

Aku masih berada di alam sadarku. Jelas sekali sekelibatan seseorang mulai masuk ke dalam ruang baca. Siluet wajah seorang perempuan tergambar jelas di dinding depanku. Takut. Aku harap tidak menghinggapi dadaku ketika itu. Tapi ketakutan itu malah semakin membesar dan menguasai dadaku.Sesak !

Aku memejamkan mata. Tak sekalipun aku membuka. Beberapa menit berlalu aku baru sadar, seharusnya aku menyaksikan semuanya. Bukankah ini yang aku cari?
Mungkin jawaban dari petanyaan ku terjawab selama.

Kujadikan ketakutan sebagai kekuatanku ketika itu. Aku takut jantungku akan melemah setelah berdetak begitu cepat. Melihat kejadian yang tak dilihat orang awam, mendengar suara yang bahkan tak terdengar. Baru sekali aku mengalaminya.

Suara tangis, rintihan, ketawa terbahak, cacian-makian. Terdengar jelas, seisi rumah seharusnya mendengar juga.Tapi tidak, hanya aku saja yang mendengar. Ingin sekali berteriak melihat siluet kejadian pembunuhan di depanku.

Tapi aku tidak bisa. Aku pasrah dengan semua yang aku lihat di depanku ketika itu. Aku harap aku kuat, jantungku tidak melemah atau bahkan tiba-tiba berhenti. Lagi-lagi aku tidak bisa mengeluarkan suara dari mulutku, apalagi untuk teriak. Aku bungkam.

Dua orang dewasa, seperti perempuan dan laki-laki sedang mengancam seorang gadis. Dibunuh secara sadis, dan akhirnya dikubur dibalik tembok. Anehnya sejak kapan mereka mempersiapkan branksa besar dibalik tembok itu. Seperti sudah dipersiapkan, tubuh gadis itu dimasukkan ke dalam brankas yang berlapis baja tebal.

Pembunuhan itu seperti sudah dipersiapkan. Brankas besar dibalik tembok itu, seperti ukurannya udah diukur sesuai dengan ukuran tubuh korban. Tapi yang dibunuh itu siapa? Mengapa dia dibunuh? Apa motif pembunuhan itu?

Aku terbangun dengan nafas tersengal, keringat bercucuran, sekujur tubuhku serasa sakit semua. Dan aku menemukan diriku sudah berada di kamarku sendiri. Seingatku aku berada di ruang baca Opah. Lalu siapa yang memindahkanku ke tempat tidur ini? Apa yang terjadi tadi malam hanyalah mimpi? Tapi itu terlalu nyata untuk sebuah mimpi.

Aku menceritakan semua yang telah aku alami kepada ayah , ibu dan omaku. Hingga akhirnya ayah yang tadinya tidak percaya dengan apa yang aku ceritakan, mau menurutiku untuk membungkar tembok yang berada di balik jam dinding tua di ruang baca Opah.

Sial !
Yang aku takutkan benar terjadi. Jasad Merlyn tersimpan rapi di balik tembok itu. Seharusnya aku tidak mengungkap misteri ini tapi, sebuah kesalahan besar bila aku tak juga membuka tabir misteri kematian sang gadis malang. Merlyn.

Omah shock, ibu memegangi pundak omah dari pertama dibungkarnya tembok itu. Ayah hanya bisa terduduk lemas melihat pihak otopsi memeriksa jasad saudara bungsunya yang terbujur kaku. Dan aku,,,hanya bisa diam.

Tubuh mungil Merlyn dipindahkan dari kotak besi yang dingin ke dalam peti yang memang seharusnya jasad itu bersemayam. Anehnya, belasan tahun jasad Merlyn dikubur di balik tembok itu, dan tidak ada yang mencurigainya. Bahkan dari jasad Merlyn tak tercium bau busuk yang biasa dikeluarkan dari tubuh yang telah mati.

Kini arwah Merlyn sudah tenang dialamnya, ditempat yang seharusnya....





Kamis, 03 April 2014

ILLUSION


Everything has happened and will be happen in the world has a reason. Whether it's rational or irrational, whether it has a wanted reason or not. That's happening with a girl 23 years old. Ennelis. She is a daughter from the most famous businessman in her town. Her Daddy has abundant wealth, his wealth was predicted never all over until his seventh descent. That's not weird if Ennelis accustomed with glamour life. Everything that she wants always she gets, because her father gives it for her. But, only one that never she gets from her father, it is affection. Ennelis spends her time in her room, she called “screet garden”. After her mom passed away, she never goes to school, she never works anymore. She just collects an awkward doll. She likes it. She feels there are so many friends in her screet garden. She just talks to the doll for along day. Sometimes she forgets to eat, to take a bath, even to sleep. It's sound odd habitual, but she has reason why she does it.

Ten years ago.......
It was raining like a storm, the sky seemed like angry to earth, lightning darting seemed like the nature wouldn't be friend, the wheather was very unfriendly at that time. Ennelis, 13 years old, was sleeping on her bed. But, the noise outside bother her. She tried to ingnore her frightened. Sudden, the terrifying wind blowed in her room through the window, and shake easily all of furniture in her room. Praaakkkkk !!! It heard like a something has fallen on the floor, Ennelis presumed to out from her coverlet. She tried to find something has fallen caused the wind, it turns out the family photos frame that has fallen a part on the floor. In that photo, her mom seems like beautiful, her daddy seems like handsome, both of them hugged Ennelis warmly. It wasone years ago when Ennelis was twelve years old. Suddenly, the badly yearning of her happiness pierced into her heart. Her chick was wet, the tears run out from her eyes. She cried. She wanna the happiest moment in her life come back in her family. There is no harmony in her family, anymore. Since her daddy decided to marry again. None who explained about it to Ennelis. She just saw that her mom cries and argument with her daddy everyday. Ennelis, a little girl just silent blank streses when it happened. Kreeeeeeekkkkkk !!! The door opened, the sound of her door interrupt her fantasy. While Ennelis wiped her tears from her cheek, she look toward to the door, it appear her mom opened the door. Ennelis's mom looked like unusual, her face was pale, gave a sign for Ennelis to follow her walked outside from room. Enelis was following her mom from backside. The lihgting was sober, it made Ennelis so difficult to see around, but she knew that her mom invited her to the daddy's rading room. That was very unusual, her mom didn't holding her hands. Ennelis tried to reach her mom's hand, but she cannot.
Then, both Ennelis and her mom were in a reading room.. At that night, her mom wore a white blouse, her hair lefted untidy, and her eyes seemed swollen . If she had been crying? Without expresion, her mom told about all of the true story that happened in their family. It's too early for Ennelis knew about complicated problem. She should enjoyed her adolescence whit cherrfull, happiness, and full of affection from her parents. Her mom took a book on the pile of books. From outside the book, it is looked like ordinary book, but when her mom opened the book, there is a gun. It turnend out that the book it's only imitative, actually it for keeping gun. The gun was father's it suggesed to kill her mom. At least, that told her mother. Ennelis frightened, she just silent, and cried without sound when her mom threatened her with the gun. Her mouth suddenly was mum to disenchant her mom's madness. Her eyes closed, seemed resigned to receive what will happen. The creepy iron touched her head. Cool, dark, silent, frightened ! Dooorrrr... !!!
That's sound explosion from the gun. The noise was very loud so made all of the people who lived in that home awoke. The gun spewed bullet, not to Ennelis's head but in her mom's head. She suicided, and was passed away at that moment. Ennelis found something weird in her mom's hand, her mom huged a doll. But, whereit came from? And Ennelis took that doll.
Ennelis woke up from her bad dream, the sun was shining warmly. The dream always come to her sleep, it was passed but it felt happen on and on in her dream. That's why, she felt so frightened when she went to bed. Ennelis spends her time in her room, she didn't go to the school or went to the work anymore. Oneday, she decided to find another activities in outside because she felt bored. She walked away from her house alone. None who accompenied her. She never felt like that so far. She walked based on her conscience. When she sat on a bench in the garden, downtown. She smile at her self, I t turned there are so many happines in outside, chikdren played happily, the parents chitchat with another parents, partly the people just reading a newspaper and lunch together.
When Ennelis still enjoyed an overview in front her, an unkwon man come to her. The man to the point introduced her self to Ennelis. Ennelis seemed unfriendly, she just nocomment when he was talked. He was called Josh. Almost a half hour, Josh has been talking to the Ennelis, and Ennelis still silent. Josh stoped to talk and looked at Ennelis.
“What do you want?”, Ennelis asked to Josh.
“Finally you are talking.”, Josh felt so relieved.
“What do you want?”, asked Ennelis again.
“Nothing, I just wanna be your friend”, Josh smiled at Ennelis. Ennelis no expresion.
“I wanna u go away from my eyes ! “, said Ennelis angry.
“ Ok, I will go, but tomorrow you have to date with me !”.
“Are u crazy ? I don' t know you , you even don't know me ! How come we go date together?”, Ennelis angry.
“I know you, Ennelis.....”,
“How come you know my name?”, Ennelis was expected.
“Not only your name, but also your dad.” said Josh.
“How come? Don't tell wast story to me,” Enelis bring her bag and let Josh alone, but Josh wont
“Your father married with my mom long long ago, it means i'm your step brother, actually i've been spying you, it around ten years ago, I just wanna know who is my new dad, he never tell anything to me about previous family, and after I am stalking, I know you.” Josh told without Ennelis permission.
“What for you spy my family?”, Ennelis looked at to Josh.
“I wanna make sure that my mom marry with right people, and make sure that my mom happy with her choose.” said Josh.
“And as your expection, your mom live with my dad happily ? But not for my family, my mom despreted about it, and decided to suicide. And me,,,,i don't know,,,,!”, Ennelis cried.
“I'm so sorry, but I don't know if your mom suicide. Sorry....”, Josh felt so guilty.
“I wanna redeem my guilty all this time, give me opportunity.” asked Josh
“You and your mom never get back my happiness like before.” Ennelis went away from Josh quickly.
Josh just felt so guilty to Ennelis's family. He wanna gave Ennelis happiness liked her dad gave before.
Next day, Josh saw Ennelis in the garden and sat on the same bench. She seemed like read a book. Josh wont to disturb her time, she just saw Ennelis from his side . He spied Ennelis everyday. Until oneday Josh decided to meet Ennelis in the same place like before. At this time Ennelis keeped calm and let Josh sat on her side. John talked more than before, Enneliss too. Both of them tried to share anything, Ennelis and Josh laugh together, they get closer. They spend their time together. They was doing everything together. Now, Ennelis has a friend. Her life not dark again, she has new collors not only black or white, but also colorfull, she called Josh. Ennelis fallen in love with Josh, Josh too. But they know that they never can live together like a lover, because they are brothers.
Ennelis's life has changed because Josh, there is no weird habitual, no colected awkward doll again, there is no sadness again. One evening when Ennelis went to bed, she doesn't found her doll. One of collectin doll. The doll which hugged by her mom. Why the doll suddenly lost? She never brought the doll out from her room, who was steal?Ennelis looked for to other side, but there is no result. She was sad. The doll accompanied her as long as her mom passed away now the doll lost.
On other hand, her dad now that Ennelis got closer with Josh, more than brothers, but it seemed like a lover. Her dad very angry, Ennelis banned to meet Josh vice versa with josh. Her dad just gave her sadness,he doesn't care about her happiness. Josh the only one who restore her happiness, and now her dad snatched it from her. Ennelis couldn't to struggle her love again. And one big dream to life with Josh was only dream. Ennelis broken heart. There is no happines in her life, all of back to the dark. Ennelis hopeless,she thought that her life useless. Her mom was passed away, her dad don't care, Josh went away from her because her dad banned Josh met Ennelis.
One night, Ennelis with her sadness looked the moon, the moon seemed invited Ennelis to fly away to the moon. Ennelis felt so comfort, she saw her mom was fly beautifully to the moon, unconscious Ennelis stepped forward, as if her mom invited her to fly away with her. Ennelis flight away not to the moon but to the earth. She has fallen from her room that fourth floor. Ennelis passed away. All people suggesed that Ennelis suicided. In her room Ennelis hoped that none got experience same as with her. Let only her that did it !


Sabtu, 29 Maret 2014

Jingga yang merona orange, memberikan arti lain dari seorang penulis jingga,

hai jingga, aku di sini kembali menulis tentangmu,
Engkau terlihat angkuh dan mempesona,
mau tahu hal apa yang aku lakukan ketika aku menulismu?
Aku duduk di sebuah jendala tanpa kaca,
yang tepat mengarah ke hadapannya,
kali ini aku berani kan melihatmu langsung,
aku berani memandang wajahmu langsung,
bukan lagi dari sisi sampingmu, atau bahkan dari sisi gelapku.

Kali ini aku bercerita tentang betapa lemahnya dirimu.
Aku yang selama ini menulis semua keindahanmu sudah jengah,
karena begitu banyak kata-kata indah yang aku pilihkan untuk membingkaimu
dalam sebuah figuraku.

Orang di sana, tak akan tahu betapa indahnya dirimu
bila aku tak menulismu,
selama aku tak menulis tentangmu, kamu terlihat memudarkan
karena aku yang sebelumnya selalu mengingatkan orang di sana
betapa mempesonanya dirimu dalam tulisanku.
Tak bisa kan kamu tanpaku :)

Tenang saja jingga,
penulismu ini tak pernah berhenti mengagumimu.
Aku tidak peduli dengan apa kata orang di sana.
Karena dengan menulismu aku berada di NEVERLAND ku sendiri.
Dimana aku bisa menjadi diriku sendiri.
Karena hanya dengan menulismu, aku bisa tetap dekat denganmu.

Untukmu, Lukisan sang Ilahi, Langit Sore, Jingga....

pict: google.com

WELCOME BACK PENULIS JINGGA !!!!! ^_^


March, 29 2014 2:20 pm

Harga mati untuk sebuah cinta adalah pengorbanan.

Jangan pernah keluhkan seberapa besar pengorbanan yang telah kamu lakukan untuk pasanganmu bila kamu  masih menginginkan sebuah balasan darinya.
Bukankan cinta itu tak bersyarat?

Semua itu adalah sebuah sebab-akibat, seperti kebaikan atau ketulusan yang kamu berikan kepada pasanganmu akan kamu dapatkan suatu hari nanti meskipun bukan sekarang bisa langsung kamu rasakan. Tetapi ketika kamu mendapatkan yang sebaliknya dari apa  yang telah kamu berikan kepada pasanganmu, percayalah dia bukan terbaik untukmu. Jangan pernah berfrikir keburukan perilaku yang kamu dapatkan itu sebuah karma atau kutukan-kutukan menakutkan lainnya, ini hanya ujian Tuhan kepadamu sejauh mana kamu bisa menghadapinya.( Kamu pernah menghadapi yang lebih berat dari ini kan, kali ini kamu pasti bisa menghadapinya sendiri. :) )

Cinta seseorang kepada kekasihnya adalah karena dia ingin mendapatkan balasan yang serupa yang dia berikan kepada pasangannya adalah ketidaktulusan.

Pada dasarnya ,saya sendiri belum paham apa itu Cinta yang sebenarnya. Yang saya tahu cinta itu memberi tanpa harus diminta, mengerti tanpa harus dijelaskan.
Bila cintamu tak tahu tentang apa yang ada dihatimu sekarang, precayalah mungkin suatu saat nanti dia akan sadar betapa kamu orang paling dibutuhkannya. Dan ketika saat itu datang yakinilah, kamu telah menemukan cintamu yang lain yang lebih tepat mendapatkan ketulusan cinta darimu.

Jangan pernah takut untuk berkorban, terus jalani jalanmu, yakini hatimu, dan kerjarlah mimpimu. Akupun begitu :')





Rabu, 22 Januari 2014

EZA
(Dalam dimensi yang tak tersentuh)

Pernah merasakan jatuh cinta pada pandangan pertama? Kalau istilah kerennya she “love in First sight” , perasaan berbunga-bunga, senyum-senyum sendiri, tiap hari jadi semangat, pokonya indah deh :D udah pernah kan pastinya, nah mungkin perasaan ini yang sedang dialami Eza ketika dia bertemu dengan makhluk tampan nan rupawan, Wira. Dan pertemuan sore itu membuat keduanya tahu bahwa hidup mereka tidak akan pernah sama seperti sebelumnya.
Wira seorang cowok bertubuh atletis , proporsional tinggi, sempat menarik perhatian Eza yang dibuat tertegun beberapa saat ketika melihat sosok Wira di depannya sedang berenang dengan lihainya.
“Akkkkkkhhh,,,,keren banget tuh cowok,namanya siapa ya?”,kata Eza dalam hati.
“Pengen kenalan she, etapi masa iya cewek duluan nyamperin,ahh, tapi kapan lagi cobak ,ketemu cowok jago renang, berbadan atletis, keren pula ! “, pujinya dalam hati.
Otak Eza mulai menari-nari berimajinasi, mencari cara bagaimana agar bisa berkenalan dengan cowok yang membuatnya sempat mematung beberapa detik itu. #Tssaahhhhhhh !
Wira yang sedang asik berenang tidak menyadari dirinya tengah diikuti oleh mata seorang gadis dipingir kolam yang sedang mencari cara berkenalan dengannya.
Akhirnya setelah mengumpulkan keberaniannya, Eza melangkah tanpa ragu menghampiri Wira yang masih terus berenang.
“Mas atlet ya, renangnya bagus.” Eza mulai menarik perhatian Wira
Wira yang sedikit terkejut karena kedatangan Eza hanya melemparkan senyum manis kepada gadis itu tanpa membalas pertanyaan darinya,lalu Wira pun melanjutkan renangnya. Karena rasa penasaran, Eza pun mengikuti Wira dan beranang di belakang mencoba mengejar Wira yang mulai berenang menjauh darinya.
“Kok menjauh mas, aku cuman mau kenalan aja kok, namaku Eza, nama kamu siapa?” .”Ehm, aku Wira”, dengan wajah sedikit malu dan rasa tidak percaya ada cewek manis yang ngajak kenalan di tempat seperti ini. Duh !
Dan akhirnya keduanya pun mulai saling membicarakan hal-hal yang menyenangkan, mulai dari hobi, sekolah , keluarga dan bertukar nomer telfon. “Yeahhhh,,, I get it.”kata Eza dalam hati.
Awal dari petukaran nomer telfon inilah kedekatan mereka mulai terjalin setelah perkenalan sore itu. Mulai dari sekedari saling mengirim pesan singkat sampai saling bertelfon berjam-jam, hem indahnya. :D
Ya, perkenalan yang cukup singkat dan pendekatan yang tidak begitu lama ini memunculkan perasaan lain di hati Eza, “....perasaan apa ini...? uhm,, mungkin hanya perasaan sekedar suka saja,” gumamnya dalam hati Sangkalan Eza terhadap perasaannnya ini semakin hari semakin besar dan mematahkan logikanya. Fix, Eza jatuh cinta kepada Wira !
Eza,,,gadis simple, suple , rame , ceria, kadang pula absurd,berimajinasi tinggi, dan kreatif ini juga termasuk cewek yang sulit jatuh cinta. Tapi setelah bertemu dengan Wira, What happend?
Wira succesed to makes Eza falling in love with him. Tssaahhhhhhhhhhhhhhh !!!
Eza yang tidak bisa menahan perasaan yang semakin hari semakin menggunung ini akhirnya memutuskan untuk mengutarakan perasaannya kepada Wira.
“Apa? Kamu mau nembak Wira? ,”sontak Dara kaget mendengar niatan Eza.
“Iya ra, abis,,,dia gak nembak-nembak aku padahal udah deket banget gitu selama hampir satu bulan ini, ya,,meskipun cuman lewat hape.” kata Eza mencoba meyakinkan Dara.
“Iya, tahu..tapikan kamu cewek za, masa iya cewek duluan yang nembakduluan?gengsi dong.”protes Dara
“Ya ampun, gender banget she kamu ra,,ahahaha,,,lagian kalo nurutin gengsi gak bakal tuh perasaan aku bisa tersampaikan. Yang pentingkan aku berusaha mengungkapakan perasaan ke dia Ra, sebelum aku terlalu terlambat untuk bilang ke dia, gak peduli apa jawabannya ntar.” tiba-tiba hening .
“Ishhh,,,udah neh udah males kalo udah mulai melow gini,,ehehe,,,aku selalu dukung semua yang bisa membuat kamu bahagia Za.” kata Dara sambil memeluk sahabatnya ini.
Ini neh yang membuat Eza tidak bisa jauh dari sahabatnya ini.
Yups, dukungan dari sahabat udah ditangan itu seperti kekuatan yang besar bagi Eza untuk menyampaikan perasaannya kepada Wira. Dan sore itu,....terdengar ringtone ponsel Wira, dengan sigap Wira mengambil ponsel yang tergeletak di meja komputernya.
“Halo....!”, sapa Wira.
“Iya halo Wira, selamat sore.....”balas suara yang di seberang,
“Hay za, sore juga, lagi apa kamu?”, tanya Wira kepada Eza
Dan seperti biasa keduanya terlanrut dalam permbicaraan yang akrab dan hangat. Entah kenapa satu dan yang lain tidak merasa bosan walau sering kali mereka bertelfon berjam-jam dan menanyakan hal yang sama setiap harinya.
You know boy, the smallest something you do it can take up the most room in my heart,”kata Eza dalam hati sambil mendengarkan Wira bercerita tentang kegiatannya hari itu. Smapai pada akhirnya mereka terperangkap dalam pembicaraan yang menjurus ke hati. Duh !
“Hello, za, kok diem? Kamu masih di sana kan?”,suara Wira membuyarkan lamunan Eza.
“Eh, iya mas,ehehe,uhm aku mau bicara sama kamu.” kata Eza terbata-bata.
“Etdah,,kita udah ngobrol hampir satu jam Za, emang ini gak bicara?”,tanya Wira dengan nada bercanda.
“Bukan itu mas, aku mau bicara serius tentang,,,,uhm,,,perasaan,,,perasaanku kepadamu,,,sebenernya aku mulai suka sama kamu mas.”kemudian keduanya terdiam dan hening.
Perasaan Eza yang bercampur aduk antara lega sudah menyatakan perasaannya tapi juga merasa cemas serta penasaran menunggu respon dari Wira yang sedari tadi menyimak pernyataan Eza hanya bisa tersenyum manis dan bilang, “ Ngomong langsung dong, masa cuman lewat telfon?”. Deg....!!!
Perasaan Eza yang semakin tak menentu, terselip rasa takut, iya takut, takut ditolak. Dan setelah berpikir panjang Eza memutuskan untuk bertemu di tempat yang sama saat mereka pertama kali bertemu, hari sabtu pukul 10.00 siang.

Sabtu, pukul 10.00 siang
Dengan setelan kaos polos merah jambu yang dipadukan dengan syal kotak-kotak biru, plus skiny jeans yang dikenakan Eza siang itu membuatnya terlihat suple tapi tetap casual, rambut panjangnya yang sengaja dibiarkan tergerai menambah ayu wajahnya.Eza. Jelas nampak kerisauan diwajah Eza ketika dia mulai memasuki parkiran kolam renang Dayu, tempat di mana pertama kali dia bertemu Wira . Sambil melirik jam tangan yang dikenakannya , Eza baru sadar kalu ternyata dirinya sudah terlambat dari jam yang telah disepakati.
“Duh, telat , pasti mas Wira sudah menunggu lama.” gumamnya sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.
Di kolam renang itu memang disediakan temnpat sejenis kafe kecil yang diperuntukan bagi pengunjung yang sekedar mengantar keluarganya berenang atau sekedar mencicipi kopi yang memang terkanal nikmat di sekitar daerah Dayu. Tidak terlalu lama mencari-cari di dalam kafe, Eza sudah bisa langsung mengenali Wira yang tengah duduk sendiri di sudut kafe, tapi berbeda dengan Eza,Wira terlihat lebih tenang dan santai. Dengan kemeja kotak-kotak dan celana jeans yang terlihat apik di badan Wira , membuat Eza lagi-lagi mematung sebelum akhirnya menghampiri Wira.
“Hai, Eza, sini !', panggil Wira kepada Eza sambil melambaikan tangannya.
“Eh, hay, iya !”, balas Eza sambil berjalan menghampiri Wira.
“Sudah lama?', tanya Eza
“Baru kok, kamu mau pesan apa?”, tanya Wira sambil menyodorkan daftar menu kafe.
“Aku cappuccino aja”, balas Eza sambil sesekali mencuri pandang kepada Wira.
“Siip sudah aku pesankan, tinggal menunggu pesananmu tuan putri”, canda Wira.
“Ehheheheh,,iya makasih mas Wira,,,,uhm,, mas, kamu tahu kan tujuan kita kemari?”,Eza membuka pembicaraan penting ini.
“Ya tahulah za,,,sesuai yang di telfon kemarin kan?.
“Iya, jadi bagaimana kamu mau tidak jadi pacarku? Kalau kamu terima aku cium keningku ya, kalau enggak kamu tampar pipiku”, kata Eza dengan penuh H2C (Harap-harap Cemas).
Pilihan yang sulit bagi Wira tapi dia sudah tahu jawaban yang akan diberikan kepada gadis yang sekarang sedang berada dihadapanya sambil memejamkan mata. Ya, dalam penantian jawaban yang terasa lama ini padahal hanya beberapa menit saja seharusnya tapi benar-benar membuat Eza serasa dalam penantian sebuah masa depannya, entahlah, ciuman kah atau tamparankah yang akan diberikan Wira kepadanya tapi Eza sudah mempersiapkan hal terpahit sekalipun. Dan yang terjadi.......?!
Beberapa menit berselang, Eza merasakan sesuatu menyentuh keningnya, itu seperti sebuah ciuman. Ya, itulah jawaban Wira, dia menerima Eza menjadi pacarnya. Yeeahhh,,,, seketika Eza membuka matanya dan merasakan penantiannya selama ini mendapatkan jawaban yang memang dia inginkan... “Thank's God !Finally,,,,”, ucapnya dalam hati.

== | | ==

LDR adalah jalan yang mereka pilih, karena memang keduanya bertempat tinggal di kota yang berbeda. Saat itu Wira bertempat tinggal di daerah Sragen, Jawa Tengah, sedangkan Eza tinggal di sebuah kota yang bernama Purjo. Dua bulan sudah mereka pacaran hanya melalui telfon dan sms. Menghabiskan waktu bersama ketika semua aktivitas masing-masing mulai kosong, dan itu hanya melalui telfon atau sms. Meskipun jarak yang membuat mereka jauh jasmani, tapi rohani mereka dekat dan terus saja dekat hingga keduanya merasa saling membutuhkan satu sama lain. Ya, lagi-lagi cinta yang menguatkan keduanya. Mungkin Eza tidak akan bisa menjalani LDR dengan orang selain Wira, begitu juga sebaliknya. Sampai pada akhirnya......

“Ketemu yuk,,,aku kangen mas, pengen ngobrol berdua,,,.”ajak Eza kepada Wira
“Boleh juga tuh? Kapan?”, tanya Wira
“Nanti waktu dan tempatnya aku sms ya mas,,,oke?”, kata Eza

Tiga hari berikutnya mereka akhirnya bertemu di tempat yang telah ditentukan oleh Eza sebelumnya. Singkat cerita, mereka bertemu di sebuah tempat wisata alam sekaligus restourant di daerah Dayu, Jawa Tengah. Keduanya bercengkrama hangat layaknya sepasang kekasih yang sudah lama tidak bertemu hingga akhrinya mereka bersama saat itu. Kebersamaan yang tidak akan pernah mereka lupakan, menghabisakan waktu bersama, melakukan hal-hal yang mereka suka, berkeliling-keliling kota, dan berujung pada perpisahan diujung mata senja.
Waktu yang bisa mempertemukan mereka, tapi waktu pulalah yang menentukan perpisahan mereka. Rasanya baru saja mereka bartemu dan bercanda, tapi waktu serasa begitu cepat berlalu ketika mereka bersama. Dan, senjapun mulai menampakkan seringai jingga di langit-Nya, itu tandanya malam akan segera datang dan mematikan sang surya.
Eza harus segera kembali ke kotanya karena besok harinya masing-masing dari keduanya harus kembali menjalani aktivitas masing-masing. Iya, mereka LDR lagi.

== || ==



Sebulan kemudian.....
Eza yang beberapa bulan lagi lulus dari SMA, mulai mempersiapkan diri mengikuti UMPTN yang diadakan di sekolahnya. Dan dari hasil UMPTN itu , akhirnya dia diterima disalah satu Universitas di Jogjakarta, UNY. Satu mimpinya mulai terwujud yaitu bisa kuliah di kota impiannya. Tentu saja kabar gembira ini langsung dia beritahukan kepada Wira, yang ketika itu masih menunggu hasil dari UMPTN yang dia ikuti di sekolahnya.
Karena harus kuliah di Jogjakarta, yang memang berjarak jauh dari tempat tinggalnya, Eza memutuskan untuk sewa kamar kos di dekat-dekat kampusnya dan tentulah dia akan sangat jarang untuk mengunjungi Wira di kotanya, Sragen. Dan, lagi-lagi Eza memutuskan untuk bertemu dengan Wira di Sragen, sebelum akhirnya Eza pindah ke Jogjakarta.
“Mas, nanti aku akan jarang mengunjungimu lho....”,kata Eza dengan suara parau...
“Iya za, gak apa-apa, nanti aku yang akan mengunjungimu...”, kata Wira menenangkan.
“Iya mas janji ya....! Oiya mas, boleh minta sesuatu gak?”, pinta Eza.
“Apa za?”,kata Wira
“Boleh gak aku minta jaketmu ini,,,,gak akan aku cuci sebelum kita bertemu lagi.”
Sambil tersenyum Wira melepas jaket hijau yang dia kenakan ini, dan memakaikannya di badan Eza. Hangat yang Eza rasakan, pelukan itu tidak akan pernah dia lupakan dan selalu menjadi hal yang membuatnya rindu kepada Wira. Di satu sisi, Wira yang entah kenapa saat itu merasakan kerisauan yang lain di hatinya enggan melepaskan pelukannya. Seperti sebuah firasat, tapi entahlah, Wira mengabaikan perasaan itu, dia tidak ingin membuat Eza semakin risau setelahnya.
“Ini hanya sementara sayang, kita akan bertemu lagi.” bisik Wira kepada Eza.
Keduanya tidak pernah tahu, bahwa hari itu adalah terakhir pertemuan mereka.

Dan hari itupun datang,,,,
Eza, mulai dengan semua aktivitasnya sebagai mahasiswa baru di UNY. Semuanya berjalan seperti biasa. Namun komunikasi dengan Wira mulai tidak lancar seperti biasanya. Baru seminggu berlalu, Wira merasa Eza mulai berubah sikapnya kepadanya. Karena Eza yang mempunyai segudang kesibukan sehingga waktu untuk sekedar memberi kabar kepada Wira pun tidak ada. Wira yang saat itu mulai merasakan perubahan sikap Eza yang drastis mencoba berusaha tetap berfikir positif.
“Ah, mungkin dia sibuk dengan kuliahnya.” Gumamnya dalam hati sambil memandang handphone dan selalu berharap segera ada balasan pesan dari Eza.
Dan,sesuatu buruk terjadi pada Wira yang membuat keduanya benar-benar terpisah. Dari sinilah awal perpecahan itu terjadi.
Tepat sepuluh hari tanpa kabar dari Eza, Wira kehilangan hanphonenya. Semua nomer dan data-datanyapun ikut hilang. Pun, Wira tidak hafal nomer Eza, sehingga dia tidak bisa memberi kabar bahwa hanphonenya hilang. Wira mencoba menghubungi friendster Eza, tapi tidak ada respon juga. Fix ! Wira hilang kontak dengan Eza selama Enam bulan.
Enam bulan berlalu, tanpa kabar dan interaksi dengan Eza, membuat Wira membulatkan tekad untuk kuliah di Jogjakarta, tapi bukan di UNY. Wira berharap dengan keputusannya ini, dia bisa menemukan Eza di sana. Tapi hasilnya nihil !. Wira mencoba mencari Eza di kampus UNY dan tidak satupun orang yang mengenalnya, karena mungkin Wira yang tidak begitu banyak teman di UNY. Sehingga tidak banyak informasi pula yang dia dapat. Tiba-tiba satu perasaan kekecewaan muncul di hatinya. “Bodoh, kenapa dulu aku tidak bertanya di mana daerah Purjo itu dan kuliah di UNY ambil jurusan apa.” Katanya dalam hati, kesal.No Hope !
Wira tidak berhenti mencari-cari keberadaan Eza, sampai pada akhirnya dia mencoba kembali mencari melalui frendster dan FB. Ketika itu, FB masih belum begitu booming dan hanya beberapa orang tertentu yang memiliki akun tersebut, termasuk Wira. Dia mencoba mencari-cari namanya di akun tersebut, tapi tetap saja hasilnya, NIHIL. Semenjak itu Wira mulai berputus asa dan tidak mencari-cari lagi melalui social media, karena percuma saja dia mencari-cari sementara keberadaan Eza saja dia tidak tahu.
Setiap minggu Wira mencari Eza di UNY, berharap ada kejelasan tentang keberadaan Eza waktu itu. Tapi tetap saja, tidak ada hasil. Dan hari itu hari di mana tepat tiga tahun setelah pamitnya Eza kuliah di Jogjakarta, dan secara tidak sengaja, ketika dia iseng mengetik nama Eza dikotak pencarian akun Fbnya, muncul nama Eza. Sungguh, seperti mendapat satu kejelasan tentang keberadaan Eza. Jelas, Wirapun senang dan langsung mengirim pesan ke FB Eza. Awalnya Wira sangat senang dan Excited, tapi setelah dia membaca kronologi di akun FB Eza, dan salah satu postingan Eza ketika itu....

5 agustus 2010
Setahun Sudah hubungan kami berjalan
Dengan kerasnya bentuk perjuangan ini sampai aku dapat bertahan.
Inilah puncak keputus asaanku
Aku berjuang untuk berubah menjadi lebih baik,tapi ini tak berarti...
Dia, seorang laki-laki yang begitu lembut, telah dihadapkan pada 2 jalan oleh Tuhan.
Tetap disini, atau melangkah perg.
Dan dia memilih untuk berjalan pergi dari hadapanku.
Aku harus mulai paham.
Inilah jalan terbaik yang ditunjukkan Tuhan.
Akan ku tunjukkan ketabahanku, akan ku tunjukkan keikhlasanku..
Karena di sini, masih ada cinta yang megalir.

Deg seketika jantung Wira berhenti sejenak, seketika itu juga Wira lemas, syok dan nangis. Ternyata Eza sudah tidak ada. Perasaan yang bercampur aduk, tidak percaya bahwa kenyataannya Eza sudah berpulang 

kepada-Nya Innalillahi wa Innaillaihi Rojiun. Berjuta pertanyaan berkecamuk di kepala Wira, sebenarnya 

apa yang terjadi? Kemana Eza selama ini? Apa yang menyebabkan Eza meninggal dunia.? Pertanyaan yang 

ingin sekali dia dapatkan jawabannya.Tangannya yang masih gemeteran mecoba memegang mouse 

komputer dan mecari teman-teman Eza yang sekiranya tahu tentang Eza dan berharap mendapatkan 

informasi .


Wira, masih dengan pandangan kosong. 

Akhirnya dia menemukan salah satu foto di album foto Eza, dan di sana ada tag foto satu nama,Dara. Buru

buru Wira membuka kronologi FB Dara mencoba mengirim pesan singkat ke inbok fb Dara.Tidak lama

 berselang Dara membalas inbok Wira yang kebetulan juga sedang ON FB. Wira? Nama yang tidak asing

lagi baginya, pernah dia mendengar tentang Wira dari sahabatnya Eza, itu sekitar tiga tahun yang lalu. Tapi

 apakah ini Wira yang pernah Eza ceritakan? Itu Sudah lama sekali....!

Akhirnya keduanya terlibat dalam percakapan melalui inbok FB, Wira menanyakan semua pertanyaan yang

 berkecamuk di kepalanya selama ini. Dara, dengan perasaan yang sangat berat menceritakan semua 

yang dia tahu ketika itu.


Dan, ternyata di sisi lain ketika itu......


Eza sangat kecewa kepada Wira yang hilang tanpa kabar dan tanpa satu alasanpun, padahal dia mencoba

 membalas semua pesan dari Wira,ya meskipun itu sudah terlambat. Eza berfikir Wira telah berubah, dengan

 meninggalkannya tanpa pesan. Pun, Wira tidak mencoba mendatanginya di UNY ketika itu. Eza yang mulai

 berputus asa karena tidak ada kejelasan tentang Wira, mencoba melampiaskannya ke hal-hal negatif.

Sungguh sangat disayangkan, padahal Eza yang tadinya sangat ceria, baik , dan dekat dengan teman

-temannya di kampus justru memendam semua sakitnya sendiri. Sekalipun dia dekat dengan Dara, tapi tak


 pernah Eza bercerita banyak tentang Wira ketika itu, karena membahas tentang Wira seperti menciptakan

 luka yang dalam di hati Eza. 

Entahlah, apa yang ada di pikiran Eza ?Mungkin Putaw, ganja, narkoba , obat penenang , dan rokok adalah

 sahabat terbaiknya ketika itu. Karena dengan barang-barang itulah dia merasa bisa melupakan masalahnya.

Setiap hari kerjaannya hanya clubbing dan dugem sampai pagi. Dunia malam yang mulai dekat

 dengannya ,membawanya masuk ke dalam lembah kehancuran. Semua sahabat Eza yang dari awal telah

 menasihatinya tapi tidak pernah didengar olehnya, merekapun mulai prihatin akan kondisi Eza ketika itu.

 Hingga pada akhirnya, perdebatan Dara dan Eza disuatu malam....

 “Eza, kamu mau lebih hancur seperti apa lagi she? Kamu gak sayang ama badanmu, hidupmu, masa

 depanmu? Bagaimana kalau keluargamu tahu tentang keadaan kamu saat ini? Kuliahmu, dosenmu, sahabat

-sahabatmu....?”, Dara yang mulai protes dengan keadaan Eza ketika itu.

“Ra, kamu tuh gak tahu rasanya ada diposisiku, kamu tuh gak tahu aku....!”. Kata Eza

 “ Ya, kamu benar, aku memang gak tahu kamu, kamu bukan Eza yang aku kenal dulu.” Kata Dara sambil

 meninggalkan Eza yang masih menghisap rokoknya. Deg !
  
Kata-kata Dara, mulai dia pikirkan, tetesan air mata dari sahabatnya mulai dia perdulikan. Mereka bersusah

 payah membangkitkannya kembali, tapi kenapa tidak satupun dia hiraukan. Eza menangis, Eza sadar, Eza

 menyesal, Eza bertobat. “Tuhan,,,maafkan aku.” tangis Eza dalam sujud.

 Mulai saat itu, Eza benar-benar bertobat, dia mulai kembali ke jalan-Nya, menata kembali masa depannya

, kuliahnya, juga sahabat-sahabatnya. Eza meminta maaf kepada semua sahabatnya, tentu saja mereka

 kembali menerima Eza kembali dengan pelukan hangat.

“Eza,,,kembali....”, kata Dara dalam hati sambil memeluk Eza

Yah,,,semuanya kembali seperti sedia kala, hanya satu yang tetap tidak berubah, Eza tidak jua mendapatkan

 kabar dari Wira. Eza melangkah sendiri tanpa Wira, menggapai mimpi tanpa sosok seorang yang dia cinta

. Dia, bertekad untuk melupakan Wira, meskipun masih besar perasaannya kepada Wira, masih saja

 gemuruh rindu memuncak di hatinya. Tapi dia harus bangkit dan melalui semuanya.


== || ==





Februari 2012




Masa perkuliahan Eza sudah mulai memasuki masa-masa kerja lapangan , atau biasa yang disebut PKL. Kali

 ini dia dan teman kelompoknya mendapat tempat praktek mengajar di daerahnya di Purjo. Ternyata Purjo

 yang dia sebut-sebut itu lengkapnya adalah Purworejo.

Februari 2012, pagi itu Eza dan juga teman-teman kelompok KKN-PKL nya berangkat ke Purworejo

 untuk melakukan observasi di sekolah dan selesai setelah observasi , Eza dan teman-temannya kembali ke

 Jogjakarta karena masih ada beberapa agenda yang harus mereka lakukan. Dalam perjalan pulang ke Jogja

 inilah musibah itu terjadi, motor yang dikendarai Eza terserempet sebuah mobil , seketika itu pula Eza oleng

 ke kanan dan dari arah berlawan datang sebuah mobil yang sedang menyalip dan akhirnya kecelakaan itu

 terjadi. Eza meninggal di tempat.

Setelah mendengar semua cerita dari Dara, Wira hanya bisa mematung, tidak tahu lagi apa yang harus dia

 lakukan saat itu, seperti dia tdak ada tenaga, sebelah hatinya serasa tidak berfungsi lagi. Belahan jiwanya

 telah berada di alam yang berbeda. Ternyata Tuhan lebih sayang kepada Eza dari pada Wira dan orang

-orang disekitar Eza.

 “Sekarang aku benar-benar menemukanmu Za, setelah sekian lama aku mencarimu”, kata Wira sambil

 memegangi batu nisan yang bertuliskan nama Eza.

Satu janji Eza yang selalu Wira ingat sampai sekarang, “Yank, kalau kita ketemu lagi, aku ingin cium kening

 kamu lamaaaaaaa banget.” Kata Eza sambil tersenyum manis.

Damailah dalam tidur panjangmu bidadari surgaku, aku akan mengenangmu dalam lubuk hatiku. Nanti aku

 pasti akan kembali bersamamu.”



Ketika komunikasi menjadi masalah utama, dan kesalahpahaman menghancurkan semuanya, cinta sejati mungkin hanya sebatas wacana saja”



*Thank's buat Rico (@iconessia ) yang udah memberi kesempatan aku buat nulis cerpen ini :)