Rabu, 22 Januari 2014

EZA
(Dalam dimensi yang tak tersentuh)

Pernah merasakan jatuh cinta pada pandangan pertama? Kalau istilah kerennya she “love in First sight” , perasaan berbunga-bunga, senyum-senyum sendiri, tiap hari jadi semangat, pokonya indah deh :D udah pernah kan pastinya, nah mungkin perasaan ini yang sedang dialami Eza ketika dia bertemu dengan makhluk tampan nan rupawan, Wira. Dan pertemuan sore itu membuat keduanya tahu bahwa hidup mereka tidak akan pernah sama seperti sebelumnya.
Wira seorang cowok bertubuh atletis , proporsional tinggi, sempat menarik perhatian Eza yang dibuat tertegun beberapa saat ketika melihat sosok Wira di depannya sedang berenang dengan lihainya.
“Akkkkkkhhh,,,,keren banget tuh cowok,namanya siapa ya?”,kata Eza dalam hati.
“Pengen kenalan she, etapi masa iya cewek duluan nyamperin,ahh, tapi kapan lagi cobak ,ketemu cowok jago renang, berbadan atletis, keren pula ! “, pujinya dalam hati.
Otak Eza mulai menari-nari berimajinasi, mencari cara bagaimana agar bisa berkenalan dengan cowok yang membuatnya sempat mematung beberapa detik itu. #Tssaahhhhhhh !
Wira yang sedang asik berenang tidak menyadari dirinya tengah diikuti oleh mata seorang gadis dipingir kolam yang sedang mencari cara berkenalan dengannya.
Akhirnya setelah mengumpulkan keberaniannya, Eza melangkah tanpa ragu menghampiri Wira yang masih terus berenang.
“Mas atlet ya, renangnya bagus.” Eza mulai menarik perhatian Wira
Wira yang sedikit terkejut karena kedatangan Eza hanya melemparkan senyum manis kepada gadis itu tanpa membalas pertanyaan darinya,lalu Wira pun melanjutkan renangnya. Karena rasa penasaran, Eza pun mengikuti Wira dan beranang di belakang mencoba mengejar Wira yang mulai berenang menjauh darinya.
“Kok menjauh mas, aku cuman mau kenalan aja kok, namaku Eza, nama kamu siapa?” .”Ehm, aku Wira”, dengan wajah sedikit malu dan rasa tidak percaya ada cewek manis yang ngajak kenalan di tempat seperti ini. Duh !
Dan akhirnya keduanya pun mulai saling membicarakan hal-hal yang menyenangkan, mulai dari hobi, sekolah , keluarga dan bertukar nomer telfon. “Yeahhhh,,, I get it.”kata Eza dalam hati.
Awal dari petukaran nomer telfon inilah kedekatan mereka mulai terjalin setelah perkenalan sore itu. Mulai dari sekedari saling mengirim pesan singkat sampai saling bertelfon berjam-jam, hem indahnya. :D
Ya, perkenalan yang cukup singkat dan pendekatan yang tidak begitu lama ini memunculkan perasaan lain di hati Eza, “....perasaan apa ini...? uhm,, mungkin hanya perasaan sekedar suka saja,” gumamnya dalam hati Sangkalan Eza terhadap perasaannnya ini semakin hari semakin besar dan mematahkan logikanya. Fix, Eza jatuh cinta kepada Wira !
Eza,,,gadis simple, suple , rame , ceria, kadang pula absurd,berimajinasi tinggi, dan kreatif ini juga termasuk cewek yang sulit jatuh cinta. Tapi setelah bertemu dengan Wira, What happend?
Wira succesed to makes Eza falling in love with him. Tssaahhhhhhhhhhhhhhh !!!
Eza yang tidak bisa menahan perasaan yang semakin hari semakin menggunung ini akhirnya memutuskan untuk mengutarakan perasaannya kepada Wira.
“Apa? Kamu mau nembak Wira? ,”sontak Dara kaget mendengar niatan Eza.
“Iya ra, abis,,,dia gak nembak-nembak aku padahal udah deket banget gitu selama hampir satu bulan ini, ya,,meskipun cuman lewat hape.” kata Eza mencoba meyakinkan Dara.
“Iya, tahu..tapikan kamu cewek za, masa iya cewek duluan yang nembakduluan?gengsi dong.”protes Dara
“Ya ampun, gender banget she kamu ra,,ahahaha,,,lagian kalo nurutin gengsi gak bakal tuh perasaan aku bisa tersampaikan. Yang pentingkan aku berusaha mengungkapakan perasaan ke dia Ra, sebelum aku terlalu terlambat untuk bilang ke dia, gak peduli apa jawabannya ntar.” tiba-tiba hening .
“Ishhh,,,udah neh udah males kalo udah mulai melow gini,,ehehe,,,aku selalu dukung semua yang bisa membuat kamu bahagia Za.” kata Dara sambil memeluk sahabatnya ini.
Ini neh yang membuat Eza tidak bisa jauh dari sahabatnya ini.
Yups, dukungan dari sahabat udah ditangan itu seperti kekuatan yang besar bagi Eza untuk menyampaikan perasaannya kepada Wira. Dan sore itu,....terdengar ringtone ponsel Wira, dengan sigap Wira mengambil ponsel yang tergeletak di meja komputernya.
“Halo....!”, sapa Wira.
“Iya halo Wira, selamat sore.....”balas suara yang di seberang,
“Hay za, sore juga, lagi apa kamu?”, tanya Wira kepada Eza
Dan seperti biasa keduanya terlanrut dalam permbicaraan yang akrab dan hangat. Entah kenapa satu dan yang lain tidak merasa bosan walau sering kali mereka bertelfon berjam-jam dan menanyakan hal yang sama setiap harinya.
You know boy, the smallest something you do it can take up the most room in my heart,”kata Eza dalam hati sambil mendengarkan Wira bercerita tentang kegiatannya hari itu. Smapai pada akhirnya mereka terperangkap dalam pembicaraan yang menjurus ke hati. Duh !
“Hello, za, kok diem? Kamu masih di sana kan?”,suara Wira membuyarkan lamunan Eza.
“Eh, iya mas,ehehe,uhm aku mau bicara sama kamu.” kata Eza terbata-bata.
“Etdah,,kita udah ngobrol hampir satu jam Za, emang ini gak bicara?”,tanya Wira dengan nada bercanda.
“Bukan itu mas, aku mau bicara serius tentang,,,,uhm,,,perasaan,,,perasaanku kepadamu,,,sebenernya aku mulai suka sama kamu mas.”kemudian keduanya terdiam dan hening.
Perasaan Eza yang bercampur aduk antara lega sudah menyatakan perasaannya tapi juga merasa cemas serta penasaran menunggu respon dari Wira yang sedari tadi menyimak pernyataan Eza hanya bisa tersenyum manis dan bilang, “ Ngomong langsung dong, masa cuman lewat telfon?”. Deg....!!!
Perasaan Eza yang semakin tak menentu, terselip rasa takut, iya takut, takut ditolak. Dan setelah berpikir panjang Eza memutuskan untuk bertemu di tempat yang sama saat mereka pertama kali bertemu, hari sabtu pukul 10.00 siang.

Sabtu, pukul 10.00 siang
Dengan setelan kaos polos merah jambu yang dipadukan dengan syal kotak-kotak biru, plus skiny jeans yang dikenakan Eza siang itu membuatnya terlihat suple tapi tetap casual, rambut panjangnya yang sengaja dibiarkan tergerai menambah ayu wajahnya.Eza. Jelas nampak kerisauan diwajah Eza ketika dia mulai memasuki parkiran kolam renang Dayu, tempat di mana pertama kali dia bertemu Wira . Sambil melirik jam tangan yang dikenakannya , Eza baru sadar kalu ternyata dirinya sudah terlambat dari jam yang telah disepakati.
“Duh, telat , pasti mas Wira sudah menunggu lama.” gumamnya sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.
Di kolam renang itu memang disediakan temnpat sejenis kafe kecil yang diperuntukan bagi pengunjung yang sekedar mengantar keluarganya berenang atau sekedar mencicipi kopi yang memang terkanal nikmat di sekitar daerah Dayu. Tidak terlalu lama mencari-cari di dalam kafe, Eza sudah bisa langsung mengenali Wira yang tengah duduk sendiri di sudut kafe, tapi berbeda dengan Eza,Wira terlihat lebih tenang dan santai. Dengan kemeja kotak-kotak dan celana jeans yang terlihat apik di badan Wira , membuat Eza lagi-lagi mematung sebelum akhirnya menghampiri Wira.
“Hai, Eza, sini !', panggil Wira kepada Eza sambil melambaikan tangannya.
“Eh, hay, iya !”, balas Eza sambil berjalan menghampiri Wira.
“Sudah lama?', tanya Eza
“Baru kok, kamu mau pesan apa?”, tanya Wira sambil menyodorkan daftar menu kafe.
“Aku cappuccino aja”, balas Eza sambil sesekali mencuri pandang kepada Wira.
“Siip sudah aku pesankan, tinggal menunggu pesananmu tuan putri”, canda Wira.
“Ehheheheh,,iya makasih mas Wira,,,,uhm,, mas, kamu tahu kan tujuan kita kemari?”,Eza membuka pembicaraan penting ini.
“Ya tahulah za,,,sesuai yang di telfon kemarin kan?.
“Iya, jadi bagaimana kamu mau tidak jadi pacarku? Kalau kamu terima aku cium keningku ya, kalau enggak kamu tampar pipiku”, kata Eza dengan penuh H2C (Harap-harap Cemas).
Pilihan yang sulit bagi Wira tapi dia sudah tahu jawaban yang akan diberikan kepada gadis yang sekarang sedang berada dihadapanya sambil memejamkan mata. Ya, dalam penantian jawaban yang terasa lama ini padahal hanya beberapa menit saja seharusnya tapi benar-benar membuat Eza serasa dalam penantian sebuah masa depannya, entahlah, ciuman kah atau tamparankah yang akan diberikan Wira kepadanya tapi Eza sudah mempersiapkan hal terpahit sekalipun. Dan yang terjadi.......?!
Beberapa menit berselang, Eza merasakan sesuatu menyentuh keningnya, itu seperti sebuah ciuman. Ya, itulah jawaban Wira, dia menerima Eza menjadi pacarnya. Yeeahhh,,,, seketika Eza membuka matanya dan merasakan penantiannya selama ini mendapatkan jawaban yang memang dia inginkan... “Thank's God !Finally,,,,”, ucapnya dalam hati.

== | | ==

LDR adalah jalan yang mereka pilih, karena memang keduanya bertempat tinggal di kota yang berbeda. Saat itu Wira bertempat tinggal di daerah Sragen, Jawa Tengah, sedangkan Eza tinggal di sebuah kota yang bernama Purjo. Dua bulan sudah mereka pacaran hanya melalui telfon dan sms. Menghabiskan waktu bersama ketika semua aktivitas masing-masing mulai kosong, dan itu hanya melalui telfon atau sms. Meskipun jarak yang membuat mereka jauh jasmani, tapi rohani mereka dekat dan terus saja dekat hingga keduanya merasa saling membutuhkan satu sama lain. Ya, lagi-lagi cinta yang menguatkan keduanya. Mungkin Eza tidak akan bisa menjalani LDR dengan orang selain Wira, begitu juga sebaliknya. Sampai pada akhirnya......

“Ketemu yuk,,,aku kangen mas, pengen ngobrol berdua,,,.”ajak Eza kepada Wira
“Boleh juga tuh? Kapan?”, tanya Wira
“Nanti waktu dan tempatnya aku sms ya mas,,,oke?”, kata Eza

Tiga hari berikutnya mereka akhirnya bertemu di tempat yang telah ditentukan oleh Eza sebelumnya. Singkat cerita, mereka bertemu di sebuah tempat wisata alam sekaligus restourant di daerah Dayu, Jawa Tengah. Keduanya bercengkrama hangat layaknya sepasang kekasih yang sudah lama tidak bertemu hingga akhrinya mereka bersama saat itu. Kebersamaan yang tidak akan pernah mereka lupakan, menghabisakan waktu bersama, melakukan hal-hal yang mereka suka, berkeliling-keliling kota, dan berujung pada perpisahan diujung mata senja.
Waktu yang bisa mempertemukan mereka, tapi waktu pulalah yang menentukan perpisahan mereka. Rasanya baru saja mereka bartemu dan bercanda, tapi waktu serasa begitu cepat berlalu ketika mereka bersama. Dan, senjapun mulai menampakkan seringai jingga di langit-Nya, itu tandanya malam akan segera datang dan mematikan sang surya.
Eza harus segera kembali ke kotanya karena besok harinya masing-masing dari keduanya harus kembali menjalani aktivitas masing-masing. Iya, mereka LDR lagi.

== || ==



Sebulan kemudian.....
Eza yang beberapa bulan lagi lulus dari SMA, mulai mempersiapkan diri mengikuti UMPTN yang diadakan di sekolahnya. Dan dari hasil UMPTN itu , akhirnya dia diterima disalah satu Universitas di Jogjakarta, UNY. Satu mimpinya mulai terwujud yaitu bisa kuliah di kota impiannya. Tentu saja kabar gembira ini langsung dia beritahukan kepada Wira, yang ketika itu masih menunggu hasil dari UMPTN yang dia ikuti di sekolahnya.
Karena harus kuliah di Jogjakarta, yang memang berjarak jauh dari tempat tinggalnya, Eza memutuskan untuk sewa kamar kos di dekat-dekat kampusnya dan tentulah dia akan sangat jarang untuk mengunjungi Wira di kotanya, Sragen. Dan, lagi-lagi Eza memutuskan untuk bertemu dengan Wira di Sragen, sebelum akhirnya Eza pindah ke Jogjakarta.
“Mas, nanti aku akan jarang mengunjungimu lho....”,kata Eza dengan suara parau...
“Iya za, gak apa-apa, nanti aku yang akan mengunjungimu...”, kata Wira menenangkan.
“Iya mas janji ya....! Oiya mas, boleh minta sesuatu gak?”, pinta Eza.
“Apa za?”,kata Wira
“Boleh gak aku minta jaketmu ini,,,,gak akan aku cuci sebelum kita bertemu lagi.”
Sambil tersenyum Wira melepas jaket hijau yang dia kenakan ini, dan memakaikannya di badan Eza. Hangat yang Eza rasakan, pelukan itu tidak akan pernah dia lupakan dan selalu menjadi hal yang membuatnya rindu kepada Wira. Di satu sisi, Wira yang entah kenapa saat itu merasakan kerisauan yang lain di hatinya enggan melepaskan pelukannya. Seperti sebuah firasat, tapi entahlah, Wira mengabaikan perasaan itu, dia tidak ingin membuat Eza semakin risau setelahnya.
“Ini hanya sementara sayang, kita akan bertemu lagi.” bisik Wira kepada Eza.
Keduanya tidak pernah tahu, bahwa hari itu adalah terakhir pertemuan mereka.

Dan hari itupun datang,,,,
Eza, mulai dengan semua aktivitasnya sebagai mahasiswa baru di UNY. Semuanya berjalan seperti biasa. Namun komunikasi dengan Wira mulai tidak lancar seperti biasanya. Baru seminggu berlalu, Wira merasa Eza mulai berubah sikapnya kepadanya. Karena Eza yang mempunyai segudang kesibukan sehingga waktu untuk sekedar memberi kabar kepada Wira pun tidak ada. Wira yang saat itu mulai merasakan perubahan sikap Eza yang drastis mencoba berusaha tetap berfikir positif.
“Ah, mungkin dia sibuk dengan kuliahnya.” Gumamnya dalam hati sambil memandang handphone dan selalu berharap segera ada balasan pesan dari Eza.
Dan,sesuatu buruk terjadi pada Wira yang membuat keduanya benar-benar terpisah. Dari sinilah awal perpecahan itu terjadi.
Tepat sepuluh hari tanpa kabar dari Eza, Wira kehilangan hanphonenya. Semua nomer dan data-datanyapun ikut hilang. Pun, Wira tidak hafal nomer Eza, sehingga dia tidak bisa memberi kabar bahwa hanphonenya hilang. Wira mencoba menghubungi friendster Eza, tapi tidak ada respon juga. Fix ! Wira hilang kontak dengan Eza selama Enam bulan.
Enam bulan berlalu, tanpa kabar dan interaksi dengan Eza, membuat Wira membulatkan tekad untuk kuliah di Jogjakarta, tapi bukan di UNY. Wira berharap dengan keputusannya ini, dia bisa menemukan Eza di sana. Tapi hasilnya nihil !. Wira mencoba mencari Eza di kampus UNY dan tidak satupun orang yang mengenalnya, karena mungkin Wira yang tidak begitu banyak teman di UNY. Sehingga tidak banyak informasi pula yang dia dapat. Tiba-tiba satu perasaan kekecewaan muncul di hatinya. “Bodoh, kenapa dulu aku tidak bertanya di mana daerah Purjo itu dan kuliah di UNY ambil jurusan apa.” Katanya dalam hati, kesal.No Hope !
Wira tidak berhenti mencari-cari keberadaan Eza, sampai pada akhirnya dia mencoba kembali mencari melalui frendster dan FB. Ketika itu, FB masih belum begitu booming dan hanya beberapa orang tertentu yang memiliki akun tersebut, termasuk Wira. Dia mencoba mencari-cari namanya di akun tersebut, tapi tetap saja hasilnya, NIHIL. Semenjak itu Wira mulai berputus asa dan tidak mencari-cari lagi melalui social media, karena percuma saja dia mencari-cari sementara keberadaan Eza saja dia tidak tahu.
Setiap minggu Wira mencari Eza di UNY, berharap ada kejelasan tentang keberadaan Eza waktu itu. Tapi tetap saja, tidak ada hasil. Dan hari itu hari di mana tepat tiga tahun setelah pamitnya Eza kuliah di Jogjakarta, dan secara tidak sengaja, ketika dia iseng mengetik nama Eza dikotak pencarian akun Fbnya, muncul nama Eza. Sungguh, seperti mendapat satu kejelasan tentang keberadaan Eza. Jelas, Wirapun senang dan langsung mengirim pesan ke FB Eza. Awalnya Wira sangat senang dan Excited, tapi setelah dia membaca kronologi di akun FB Eza, dan salah satu postingan Eza ketika itu....

5 agustus 2010
Setahun Sudah hubungan kami berjalan
Dengan kerasnya bentuk perjuangan ini sampai aku dapat bertahan.
Inilah puncak keputus asaanku
Aku berjuang untuk berubah menjadi lebih baik,tapi ini tak berarti...
Dia, seorang laki-laki yang begitu lembut, telah dihadapkan pada 2 jalan oleh Tuhan.
Tetap disini, atau melangkah perg.
Dan dia memilih untuk berjalan pergi dari hadapanku.
Aku harus mulai paham.
Inilah jalan terbaik yang ditunjukkan Tuhan.
Akan ku tunjukkan ketabahanku, akan ku tunjukkan keikhlasanku..
Karena di sini, masih ada cinta yang megalir.

Deg seketika jantung Wira berhenti sejenak, seketika itu juga Wira lemas, syok dan nangis. Ternyata Eza sudah tidak ada. Perasaan yang bercampur aduk, tidak percaya bahwa kenyataannya Eza sudah berpulang 

kepada-Nya Innalillahi wa Innaillaihi Rojiun. Berjuta pertanyaan berkecamuk di kepala Wira, sebenarnya 

apa yang terjadi? Kemana Eza selama ini? Apa yang menyebabkan Eza meninggal dunia.? Pertanyaan yang 

ingin sekali dia dapatkan jawabannya.Tangannya yang masih gemeteran mecoba memegang mouse 

komputer dan mecari teman-teman Eza yang sekiranya tahu tentang Eza dan berharap mendapatkan 

informasi .


Wira, masih dengan pandangan kosong. 

Akhirnya dia menemukan salah satu foto di album foto Eza, dan di sana ada tag foto satu nama,Dara. Buru

buru Wira membuka kronologi FB Dara mencoba mengirim pesan singkat ke inbok fb Dara.Tidak lama

 berselang Dara membalas inbok Wira yang kebetulan juga sedang ON FB. Wira? Nama yang tidak asing

lagi baginya, pernah dia mendengar tentang Wira dari sahabatnya Eza, itu sekitar tiga tahun yang lalu. Tapi

 apakah ini Wira yang pernah Eza ceritakan? Itu Sudah lama sekali....!

Akhirnya keduanya terlibat dalam percakapan melalui inbok FB, Wira menanyakan semua pertanyaan yang

 berkecamuk di kepalanya selama ini. Dara, dengan perasaan yang sangat berat menceritakan semua 

yang dia tahu ketika itu.


Dan, ternyata di sisi lain ketika itu......


Eza sangat kecewa kepada Wira yang hilang tanpa kabar dan tanpa satu alasanpun, padahal dia mencoba

 membalas semua pesan dari Wira,ya meskipun itu sudah terlambat. Eza berfikir Wira telah berubah, dengan

 meninggalkannya tanpa pesan. Pun, Wira tidak mencoba mendatanginya di UNY ketika itu. Eza yang mulai

 berputus asa karena tidak ada kejelasan tentang Wira, mencoba melampiaskannya ke hal-hal negatif.

Sungguh sangat disayangkan, padahal Eza yang tadinya sangat ceria, baik , dan dekat dengan teman

-temannya di kampus justru memendam semua sakitnya sendiri. Sekalipun dia dekat dengan Dara, tapi tak


 pernah Eza bercerita banyak tentang Wira ketika itu, karena membahas tentang Wira seperti menciptakan

 luka yang dalam di hati Eza. 

Entahlah, apa yang ada di pikiran Eza ?Mungkin Putaw, ganja, narkoba , obat penenang , dan rokok adalah

 sahabat terbaiknya ketika itu. Karena dengan barang-barang itulah dia merasa bisa melupakan masalahnya.

Setiap hari kerjaannya hanya clubbing dan dugem sampai pagi. Dunia malam yang mulai dekat

 dengannya ,membawanya masuk ke dalam lembah kehancuran. Semua sahabat Eza yang dari awal telah

 menasihatinya tapi tidak pernah didengar olehnya, merekapun mulai prihatin akan kondisi Eza ketika itu.

 Hingga pada akhirnya, perdebatan Dara dan Eza disuatu malam....

 “Eza, kamu mau lebih hancur seperti apa lagi she? Kamu gak sayang ama badanmu, hidupmu, masa

 depanmu? Bagaimana kalau keluargamu tahu tentang keadaan kamu saat ini? Kuliahmu, dosenmu, sahabat

-sahabatmu....?”, Dara yang mulai protes dengan keadaan Eza ketika itu.

“Ra, kamu tuh gak tahu rasanya ada diposisiku, kamu tuh gak tahu aku....!”. Kata Eza

 “ Ya, kamu benar, aku memang gak tahu kamu, kamu bukan Eza yang aku kenal dulu.” Kata Dara sambil

 meninggalkan Eza yang masih menghisap rokoknya. Deg !
  
Kata-kata Dara, mulai dia pikirkan, tetesan air mata dari sahabatnya mulai dia perdulikan. Mereka bersusah

 payah membangkitkannya kembali, tapi kenapa tidak satupun dia hiraukan. Eza menangis, Eza sadar, Eza

 menyesal, Eza bertobat. “Tuhan,,,maafkan aku.” tangis Eza dalam sujud.

 Mulai saat itu, Eza benar-benar bertobat, dia mulai kembali ke jalan-Nya, menata kembali masa depannya

, kuliahnya, juga sahabat-sahabatnya. Eza meminta maaf kepada semua sahabatnya, tentu saja mereka

 kembali menerima Eza kembali dengan pelukan hangat.

“Eza,,,kembali....”, kata Dara dalam hati sambil memeluk Eza

Yah,,,semuanya kembali seperti sedia kala, hanya satu yang tetap tidak berubah, Eza tidak jua mendapatkan

 kabar dari Wira. Eza melangkah sendiri tanpa Wira, menggapai mimpi tanpa sosok seorang yang dia cinta

. Dia, bertekad untuk melupakan Wira, meskipun masih besar perasaannya kepada Wira, masih saja

 gemuruh rindu memuncak di hatinya. Tapi dia harus bangkit dan melalui semuanya.


== || ==





Februari 2012




Masa perkuliahan Eza sudah mulai memasuki masa-masa kerja lapangan , atau biasa yang disebut PKL. Kali

 ini dia dan teman kelompoknya mendapat tempat praktek mengajar di daerahnya di Purjo. Ternyata Purjo

 yang dia sebut-sebut itu lengkapnya adalah Purworejo.

Februari 2012, pagi itu Eza dan juga teman-teman kelompok KKN-PKL nya berangkat ke Purworejo

 untuk melakukan observasi di sekolah dan selesai setelah observasi , Eza dan teman-temannya kembali ke

 Jogjakarta karena masih ada beberapa agenda yang harus mereka lakukan. Dalam perjalan pulang ke Jogja

 inilah musibah itu terjadi, motor yang dikendarai Eza terserempet sebuah mobil , seketika itu pula Eza oleng

 ke kanan dan dari arah berlawan datang sebuah mobil yang sedang menyalip dan akhirnya kecelakaan itu

 terjadi. Eza meninggal di tempat.

Setelah mendengar semua cerita dari Dara, Wira hanya bisa mematung, tidak tahu lagi apa yang harus dia

 lakukan saat itu, seperti dia tdak ada tenaga, sebelah hatinya serasa tidak berfungsi lagi. Belahan jiwanya

 telah berada di alam yang berbeda. Ternyata Tuhan lebih sayang kepada Eza dari pada Wira dan orang

-orang disekitar Eza.

 “Sekarang aku benar-benar menemukanmu Za, setelah sekian lama aku mencarimu”, kata Wira sambil

 memegangi batu nisan yang bertuliskan nama Eza.

Satu janji Eza yang selalu Wira ingat sampai sekarang, “Yank, kalau kita ketemu lagi, aku ingin cium kening

 kamu lamaaaaaaa banget.” Kata Eza sambil tersenyum manis.

Damailah dalam tidur panjangmu bidadari surgaku, aku akan mengenangmu dalam lubuk hatiku. Nanti aku

 pasti akan kembali bersamamu.”



Ketika komunikasi menjadi masalah utama, dan kesalahpahaman menghancurkan semuanya, cinta sejati mungkin hanya sebatas wacana saja”



*Thank's buat Rico (@iconessia ) yang udah memberi kesempatan aku buat nulis cerpen ini :)