Kamis, 23 Maret 2017

Part 5



Rindu ,,,,
tak selamanya ada penawarya,
hanya terkadang kita perlu untuk merasakannya saja tanpa perlu orang lain tahu akan apa yang dirasa.
Seperti bulan yang selalu merindukan bintang meski awan tebal menyelimuti indah sinarnya,,,
Mugkin rindu hanya perlu untuk disimpan di hati karna bila disampaikan kepada seseorang hanya akan menambah perih karena terluka oleh rindu,
Lebih perih lagi ternyata seseorang itu tak pernah merindukan ,karna dia memiliki penawar rindunya sendiri...

Kini aku sadar kalau ternyata terlalu cepat menafsirkan kebaikan yang diberikan oleh seseorang terhadap kita bisa menjadi boomerang untuk kita sendiri.Terlalu bergantung pada seseorang itu dan bahkan menggantungkan kebahagiaan kita kepadanya. Bodoh !
Orang rasional seperti ku masih juga lumpuh hanya karna kata-kata cinta, gombalan, dan perlakuan manis. Tidak, ini bukan pertama kalinya, tapi sudah kesekian kali. Dan terjadi lagi...

Aku berjalan menyusuri boulevard menuju ke tempat kerjaku. Beberapa saat aku terdiam di tempat-tempat di mana aku biasa menghabiskan waktu dengan Reno (ketika itu).Terkadang, tempat-tempat yang awalnya menjadi lokasi favorit, kini hanya menimbulkan luka dihati ketika berada di sana, bahkan hanya melewatinya saja membuat aku terdiam, ada perasaan yang tiba-tiba masuk entah apa itu. Dua perasaan yang muncul bersamaan antara benci dan rindu.

Semakin aku memikirkannya semakin aku tahu begitu naifnya aku yang terus-terusan saja memikirkannya. Orang yang telah membuatku berpikir kalau dirinya adalah seseorang yang akan terakhir belabuh di dermagaku, orang yang akan mengijinkanku menjadi satu-satunya penumpang dan akan berlayar bersamanya. Ternyata itu hanya imajinasiku saja, sekalipun dia tidak pernah mengharapkan bahkan menginginkan aku menanjadi satu-satunya penumpang dalam kapalnya.

Dia selalu punya caranya sendiri untuk membuat kejutan-kejutan dalan hidupku. Seperti yang telah dia lakukan beberapa minggu lalu di cafe favorit aku dan  dia. Bukan sesuatu yang menyenangkan, tapi sesuatu yang membuatku enggan lagi mampir di cafe itu. Kini, aku bukan lagi pengunjung setia di cafe itu, aku bukan lagi orang yang menempati meja yang dekat jendala.

Butuh waktu untuk benar-benar merelakan seseorang itu pergi, apalagi mereka pergi di saat kita belum siap sama sekali, saat kita masih terus merindukannya tapi dia tak pernah kembali lagi...

Aku, harus mengalami masa-masa terpuruk lagi, masa-masa yang paling aku benci. Bila aku tak pernah jatuh cinta, aku gak harus berpisah dengannya. Bila aku gak pernah bertemu dengannya aku gak akan pernah merindukannya, bila aku gak pernah mengenalnya aku takkan pernah ingin tahu tentang hidupnya. Tapi aku melanggar itu semua. Itu hanya doa yang tak akan pernah terkabul.

Semua sudah terjadi, jatuh cinta dan patah hati memang satu paket komplit.
Tentangnya menyimpan air mata, tawa, investasi waktu, dan pengharapan. Menyangkal, menolak, memberontak hanya akan membuat aku semakin lelah. Akhirnya aku mengitkuti arusnya yang misterius ini, mau sampai mana akan menemukan hilirnya.