Senin, 12 Mei 2014

11:11 PM


Waktu di mana semua hal di dunia nyata terhenti, menghilang, dan takkan pernah kembali.”

Denting jam ditembok, seolah seperti sebuah simphony yang memekakan telinga, dan mengiris ulu hati. Alunan pilu not-not yang entah dari mana sumbernya, merangkai menjadi alunan dentingan yang syahdu. Teriris.

Dentingan yang tidak biasa yang pernah aku dengar. Jam dinding itu selalu berdenting di putaran-putarannya dan selalu sama. Tapi, tepat pukul 11: 11, dentingannya sangat lembut, lebih lama, dan selalu berhasil membuat bulu kudukku berdiri tiap kali aku mendengarnya.Mungkin saja kalau jam dinding itu bisa bicara,dia ingin sekali mengatakan sesuatu kepada setiap seseorang yang melewatinya, tapi....jam dinding hanyalah jam dinding, dia benda mati dan tak akan bisa berkata.......

Jam dinding itu menempel di dinding diantara rak-rak buku milik omaku, jam dinding yang selalu menyita perhatianku tiap kali aku berada di ruangan baca itu. Karena bentuknya yang unik, terkesan klasik, dan usianya melebihi usia anak sulung omaku- itu lebih dari 45 tahun lalu-serta karena suara dentingan yang tidak biasa.

Setelah sekitar 10 jam perjalanan, akhirnya siang itu, aku dan kedua orang tuaku tiba di kediaman omaku. Semenjak opah meninggal beliau hanya tinggal sendiri di rumah yang cukup besar itu, dan hanya ditemanin beberapa pembantu dan sopir yang bekerja paruh waktu.
Kulitnya yang keriput, rambutnya yang memutih, badannya yang tak lagi tegap ketika berdiri, selalu menyambut setiap orang yang mampir di rumah itu dengan hangatnya, menyiapkan semuanya sendiri, detail. Sampai handuk mandi untuk para tamunya beliau siapkan juga. Mentari yang bersinar sangat terik di hari itu membuatku enggan untuk berkeliling jalan-jalan ke kebun bunya milik omaku. Padahal dulu aku suka sekali beramain di sana ketika aku kecil kata oma, entahlah kapan waktu itu ,bahkan aku tidak ingat jika aku pernah suka bermain di kebun bunga oma.

Aku berjalan meninggalkan ruang keluarga dan menuju tempat istirahatku yang sudah disipakan oleh oma, tapi langkahku terhenti di ruang baca. Keinginanku untuk bersantai di kamar seolah terkalahkan oleh ketertarikanku untuk berdiam di ruang baca. Ruang baca itu selalu tertata rapi persis seperti terakhir kali aku ke tempat ini, setahun lalu. Entah kenapa aku suka sekali berada di ruangan ini, mungkin karena nyaman, bersih dan pasti banyak buku-buku langka di sini. Jane Austin, Mary Shelley, Sir Walter Scott, Robert Shouthey, William Blake, dan William Shakespeare dengan master piecenya “Romeo & Juliet”, telah menjadi penghuni di ruang baca ini sejak bertahun-tahun lalu.

Semua koleksi buku-buku yang ada di ruang baca ini adalah milik Opa. Sering kali Opa menghabiskan waktunya di ruangan ini – kata Oma. Sayangnya, aku belum sempat bertemu dengan Opa, beliau meninggal tepat 7 hari sebelum aku lahir. Aku hanya melihat wajah Opa dalam foto keluarga yang dipajang Oma di ruang keluarga. Tapi kata ayah, aku mirip Opa, bukan wajahnya melainkan cara berpikirnya, tingkahlakunya, celetukku yang spontan dan sering kali mengingatkan ayah kepada Opa.

Aku mulai asik memilih-milih buku untuk aku baca nantinya, tapi ketika tanganku asik bermain diantara buku-buku, ekor mataku melihat suatu benda tergeletak di atas meja di pojok ruangan. Itu seperti sebuah photo album. Aku menghentikan aktifitasku dengan buku-buku di rak lemari dan menghampiri album foto itu. Aku duduk di kursi goyang kesayangan oma sambil melihat-lihat foto-foto yang ada di album itu.

Keasyikanku terhenti ketika aku melihat foto seorang gadis dalam album, gadis yang belum pernah aku lihat sebelummya. Memakai baju coklat , rambutnya dikepang dua dengan pita-pita kecil menghiasainya. Hanya saja, dari foto yang aku lihat itu, gadis itu seperti mengidap Downsyndrom, gadis yang berumur belasan tapi di dalamnya terdapat jiwa balita. Tapi dia manis.

Berbagai pertanyaan muncul dibenakku, sebenarnya siapa gadis ini? Mengapa aku tidak pernah tahu selama ini? Kenapa tidak ada yang menceritakan kepadaku siapa gadis ini?
Aku terus mencari tahu sebenarnya siapa gadis album itu. Dan, aku menemukan satu foto kartu ucapan ulang tahun. “Selamat Ulang Tahun, Merlyn...” -Peluk Cium Papa Mama- Merlyn ? Siapa Merlyn?

Aku tertidur di ruang baca Oma sekitar satu jam, ibuku membangunkan aku dan menyuruhku untuk mandi dan bersiap makan malam bersama. Saat itu pertanyaan-pertanyaan tentang Merlyn yang sebelum aku tertidur terus saja bertengger di kepalaku, saat itu juga entah hilang kemana. Seperti ada sesuatu yang hilang, yang seharusnya aku tanyakan kepada ayah dan omaku, tapi apa?

Selama di meja makan aku hanya terdiam dan memakan makanan sekenanya saja,sepertinya cacing dalam perutku kali ini sedang malas untuk mendendangkan keluhan laparnya kepadaku, tidak seperti biasanya.
“Kinan, masakan Oma tidak enak? Kenapa kamu tidak semangat begitu makannya? Kamu sakit?”, pertanyaan Oma yang berentet membuyarkan lamunanku.
“Tidak Oma, makanannnya enak kok, mungkin Kinan kecapeka aja Oma”, kataku sambil tersenyum manis kepada Oma.
“Ya sudah, kamu habiskan makan malammu terus kembali ke kamarmu buat istirahat”Ayah menambahkan.
“Iya yah...”

Aku masih termenung, memikirkan apa yang sebelumnya aku pikirkan, kenapa aku tidak bisa ingat sama sekali? Rasa penasaranku semakin membesar ketika aku melewati ruang baca itu lagi. Album fotonya masih tergeletak di tempat yang sama. Berharap dari album itu aku bisa teringat kembali apa yang sehrusnya aku tanyakan.

Merlyn.
Satu nama yang membuat aku penasaran, kali ini aku harus bertanya tentang gadis itu.Dan, entah kenapa perasaan penasran ini tidak biasa, aku biasanya tidak seperti ini bila penasaran akan sesuatu, tapi kali ini, beda. Aku tulis nama itu dalam ponselku sebagai reminder, bila aku nanti lupa lagi setelah tertidur di ruangan ini. Bener sekali, seketika rasa kantuk melandaku, mataku seakan tak bisa diajak kompromi, aku melihat jam saat itu tepat pukul 11:11 malam. Kenapa tiba-tiba malam terasa sangat cepat sekali? Bukankah baru saja aku makan malam bersama keluargaku.

Tubuhku serasa lemas, kakiku terasa lemah untuk menopang tubuh ini. Kurebahkan badanku di sofa ruang baca itu masih dengan memegang album ditangan. Mataku akhirnya terpejam, aku tertidur lagi.

Gelap.
Aku berjalan melewati sebuah lorong tanpa cahaya, terlihat satu titik cahaya di ujung lorong yang membuatku berjalan ke arahnya. Ternyata lorong itu membawaku kesebuah ruangan. Tapi di mana itu?

Mimpi yang mengerikan. Aku melihat sebuah pembunuhan dengan mata kepalaku sendiri. Seorang gadis yang dibunuh dengan kejam dan meninggal di ruangan itu dengan keadaan tragis. Sayangnya ruangan yang terlalu redup membuatku sulit melihat siapa-siapa saja yang membunuh gadis itu, Kejadiannya sangat cepat. Tidak banyak yang bisa aku rekam dalam ingatanku dari mimpi itu, hanya saja, yang paling aku ingat wajah dari gadis di mimpiku itu. Wajahnya mirip dengan gadis yang pernah aku lihat di album foto Oma. Sebenernya siapa dia?

Sentuhan dan panggilan lembut ibu membangunkan ku perlahan. Aku terjaga dari mimpiku. “Kamu, kenapa tidur di sini, Kinan?”.”Iya bu, aku ngantuk banget tadi bu, jadi tertidur di sini.”

Aku melihat arloji yang aku pakai, waktu itu menunjukkan pukul 9.15 malam. Seketika aku kaget, karena ketika aku masuk ke ruang baca tadi jam sudah menunjukkan pukul 11.11malam . Aku pikir arlojiku yang rusak. Aku memastikan penglihatanku dengan melihat jam dinding di ruang baca itu. Astaga, jam tua itu menunjukkan jam 9.15 malam. Entahlah apa yang terjadi, mungkin mataku saja yang mulai rusak. Lain kali mungkin aku harus memakai kaca mata.

Malam itu berlalu dengan hati yang tak karuan. Mimpi yang mengerikan, jam didinding dan penglihatanku yang mulai tidak bagus.Dan keganjalan-keganjalan lainnya yang aku alami. Entahlah,,,sebelum aku terlelap lagi dalam tidurku, aku berdo'a semoga aku masih bisa melihat esok pagi yang cerah.

Mentari yang hangat lembut menyentuh wajahku, aku terbangun. Senyum manispun aku berikan kepada sang surya yang masih berkenan datang di pagiku. Aku bergegas mandi dan menyiapkan diri untuk sarapan pagi bersama Oma, ayah dan ibu. Karena Oma pasti akan ngamuk kalau aku tidak ikut sarapan pagi.

Benar saja, Oma yang sedang berada di dapur bersenandung kecil dan sesekali mengencangkan suaranya untuk sekedar memberi tanda jika sarapan sudah siap. Ibu yang ikut menyiapkan sarapan pagi senyum-senyum kecil melihat kelakuan Oma yang seperti orang jatuh cinta. Pagi yang indah.

Kamipun berkumpul kembali di meja makan yang berukuran cukup besar itu, kira-kira cukup untuk tujuh orang itu. Hari itu hari kedua aku berada di rumah Oma, rencananya besoknya kami kembali ke kota karena akan ada acara di kantor ayah yang mengharuskan aku dan ibu ikut menghadirinya. Tapi ternyata kami harus tetap berada di rumah Oma.

Pagi itu juga aku iseng bertanya kepada Oma tentang gadis yang aku lihat di album foto Oma. Ketika itu kita sedang berkumpul di ruang keluarga. Oma yang tadinya begitu berseri wajahnya, mendadak berubah seperti ada duka yang tersimpan. Luka dalam. Dengan pandangan kosong Oma akhirnya menceritakan semuanya.

Merlyn, gadis bungsu Oma, yang mengidap down syndrom atau yang biasa dikenal dengan keterbelakangan metal. Menghilang seperti tertelan bumi di rumah puluhan tahun yang lalu. Ketika kejadian itu Oma tinggal bersama Paman Josh ,Bibi Lisa, dan Merlyn -anak kedua,ketiga,dan keempat dari Oma- sedangkan ayahku anak pertama Oma yang harus kerja keras menjadi tulang punggung keluarga menggantikan Opa yang telah meninggal. Yang mengharuskan Ayah bekerja di negeri Paman Sam serta melanjutkan study-nya di sana.

Malam kejadian itu, Oma sedang menghadiri acara peresmian perusahaan milik kolega Opa yang mengharuskan Oma tidak turut serta mengajak Merlyn menghadiri acara malam itu. Sepanjang acara hati Oma merasa tidak tenang meninggalkan Merlyn di rumah sendirian di kamarnya meskipun di rumah ada Paman dan Bibi. Benar saja, sesampainya di rumah Oma tidak menemukan Merlyn di kamarnya ,pun di tempat lainnya.

Oma mencari Merlyn keseluruh ruangan rumah tapi hasilnya nihil. Keesokan harinya Oma memanggil polisi untuk melacak keberadaan Merlyn. Tapi, pihak polisipun angkat tangan menangani kasus Merlyn ini. Paman dan bibi yang ketika itu berada di rumah ketika kejadian diperikas dan polisi tidak banyak mendapat informasi dari mereka. Merlyn hilang ditelan bumi.

Awalnya Oma percaya pasti Merlyn ada di sebuah tempat, tapi dimana?
Masalah ini berlarut-larut tanpa ada penyelesaian. Oma hanya bisa menangis sepanjang hari menangisi kepergian Merlyn. Masih hidup ataukah sudah meninggal. Bertahun-tahun berlalu dan masih menyisakan misteri tentang keberadaan Merlyn. Akhirnya Oma merelekan kepergian Merlyn, dan membuat satu kuburan yang bertuliskan nama Merlyn pada batu nisan itu.

Bukan waktu yang sebentar untuk menyembuhkan luka kehilangan kedua orang yang Oma sayang. Opah dan Merlyn.

Hingga akhirnya aku lahir ke dunia seperti memberikan warna yang baru untuk hidup Oma. Paling tidak, Oma bisa sedikit melupakan Merlyn yang malang.

Sejam, dua jam, dan hampir 5 jam aku duduk berbincang dengan Oma. Tepukan pundak Oma mengakhiri percakapan kami ketika itu.
Bagitu banyak pertanyaan berkecamuk di kepala, diamku memikirkan Merlyn yang malang. Seharusnya cerita ini sudah dikubur dalam-dalam, bersama jasad Merlyn -yang dianggap ditelan bumi- yang damai. Damai? Aku rasa tidak.

Malam itu aku kembali bercengkrama dengan buku-buku Opah lagi. Sesuatu yang aku cari aku harap bisa aku temukan malam itu juga.

Pukul 11 malam, aku masih tetap di sana, di ruang baca itu. Rasa kantuk bukan lagi merasuki pelupuk mata melainkan hilang entah kemana, biasanya aku jam segini sudah berada di alam mimpiku. Tapi tidak malam itu.

Aku masih berada di alam sadarku. Jelas sekali sekelibatan seseorang mulai masuk ke dalam ruang baca. Siluet wajah seorang perempuan tergambar jelas di dinding depanku. Takut. Aku harap tidak menghinggapi dadaku ketika itu. Tapi ketakutan itu malah semakin membesar dan menguasai dadaku.Sesak !

Aku memejamkan mata. Tak sekalipun aku membuka. Beberapa menit berlalu aku baru sadar, seharusnya aku menyaksikan semuanya. Bukankah ini yang aku cari?
Mungkin jawaban dari petanyaan ku terjawab selama.

Kujadikan ketakutan sebagai kekuatanku ketika itu. Aku takut jantungku akan melemah setelah berdetak begitu cepat. Melihat kejadian yang tak dilihat orang awam, mendengar suara yang bahkan tak terdengar. Baru sekali aku mengalaminya.

Suara tangis, rintihan, ketawa terbahak, cacian-makian. Terdengar jelas, seisi rumah seharusnya mendengar juga.Tapi tidak, hanya aku saja yang mendengar. Ingin sekali berteriak melihat siluet kejadian pembunuhan di depanku.

Tapi aku tidak bisa. Aku pasrah dengan semua yang aku lihat di depanku ketika itu. Aku harap aku kuat, jantungku tidak melemah atau bahkan tiba-tiba berhenti. Lagi-lagi aku tidak bisa mengeluarkan suara dari mulutku, apalagi untuk teriak. Aku bungkam.

Dua orang dewasa, seperti perempuan dan laki-laki sedang mengancam seorang gadis. Dibunuh secara sadis, dan akhirnya dikubur dibalik tembok. Anehnya sejak kapan mereka mempersiapkan branksa besar dibalik tembok itu. Seperti sudah dipersiapkan, tubuh gadis itu dimasukkan ke dalam brankas yang berlapis baja tebal.

Pembunuhan itu seperti sudah dipersiapkan. Brankas besar dibalik tembok itu, seperti ukurannya udah diukur sesuai dengan ukuran tubuh korban. Tapi yang dibunuh itu siapa? Mengapa dia dibunuh? Apa motif pembunuhan itu?

Aku terbangun dengan nafas tersengal, keringat bercucuran, sekujur tubuhku serasa sakit semua. Dan aku menemukan diriku sudah berada di kamarku sendiri. Seingatku aku berada di ruang baca Opah. Lalu siapa yang memindahkanku ke tempat tidur ini? Apa yang terjadi tadi malam hanyalah mimpi? Tapi itu terlalu nyata untuk sebuah mimpi.

Aku menceritakan semua yang telah aku alami kepada ayah , ibu dan omaku. Hingga akhirnya ayah yang tadinya tidak percaya dengan apa yang aku ceritakan, mau menurutiku untuk membungkar tembok yang berada di balik jam dinding tua di ruang baca Opah.

Sial !
Yang aku takutkan benar terjadi. Jasad Merlyn tersimpan rapi di balik tembok itu. Seharusnya aku tidak mengungkap misteri ini tapi, sebuah kesalahan besar bila aku tak juga membuka tabir misteri kematian sang gadis malang. Merlyn.

Omah shock, ibu memegangi pundak omah dari pertama dibungkarnya tembok itu. Ayah hanya bisa terduduk lemas melihat pihak otopsi memeriksa jasad saudara bungsunya yang terbujur kaku. Dan aku,,,hanya bisa diam.

Tubuh mungil Merlyn dipindahkan dari kotak besi yang dingin ke dalam peti yang memang seharusnya jasad itu bersemayam. Anehnya, belasan tahun jasad Merlyn dikubur di balik tembok itu, dan tidak ada yang mencurigainya. Bahkan dari jasad Merlyn tak tercium bau busuk yang biasa dikeluarkan dari tubuh yang telah mati.

Kini arwah Merlyn sudah tenang dialamnya, ditempat yang seharusnya....





Tidak ada komentar:

Posting Komentar