Jumat, 11 September 2015

Part 4




Mendung semakin pekat, malam semakin tidak bersahabat, lantunan nyanyian sang angin malam mulai membisikkan badai, butiran air dari sang mata langit berjatuhan menjadi bulir-bulir yang semakin membesar dan rapat. Hujan.

Aku termenung disamping jendela kamarku, kubiarkan sedikit terbuka dan hujan diluarpun ribut ingin masuk melalui celah-celah jendela. Langit seolah mengerti kegundahan hatiku. Seharusnya aku lebih bisa menerima kenyataan kalau ternyata Reno sama sekali tidak tertarik kepadaku. Aku harus cukup tahu diri. kalau memang Reno harus memilih, tentu bukan aku jawabannya. Masih banyak yang lebih baik di luar sana. Ah, basi ! Aku sedang tidak mau mendengar kata-kata bijak itu.

Aku biarkan lamunanku jauh melayang entah sampai ke negeri antah berantah. Jauh, fantasiku terlalu jauh. Aku tarik diriku dari lamunanku dan aku tahu, aku masih duduk termenung disamping jendela kamarku. Sebaiknya aku kembali ke duniaku, dunia yang penuh dengan ambisi, dunia yang penuh dengan kompetisi, dan dunia yang dulu ada sebelum Reno ada dalam hidupku.

Sepertinya aku harus kembali,,,,,

Ponselku berbunyi, Michale Buble – Love iring favoritku terdengar memenuhi ruangan kerjaku. Tampak dilayar kaca sebuah panggilan dari “Manusia Planet” , aku biarkan terus Michale Buble bernyanyi sampai akhirnya ponsel itu diam, baru aku menyentuhnya dan meyakinkan diri kalau yang baru saja telfon adalah Reno.

Setelah perbincangan itu, aku mundur perlahan dari dunia Reno. Aku mulai pura-pura sibuk dihubungi, pura-pura banyak acara, pura-pura tidak ingiin makan siang dengannya, pura-pura tidak mau dijemput, dan kepura-puraan lain yang aku lakukan selama ini hanya untuk menghindar dari Reno. Maaf Reno.....

Ini, kali keduanya aku benar-benar jatuh cinta kepada seorang pria. Sebelumnya kepada Yoga yang tak pernah tersampaikan , dari cinta monyet sampai sekrang ini. Dan ini, aku dipertemukan dengan Reno dengan cara yang sungguh singkat dan tak pernah aku bayangkan sebelumnya akan ada pertemuan seperti itu dalam hidupku.

Memang, Tuhan selalu punya caranya sendiri untuk mepertemukan seorang yang berjodoh....

Jodoh ? Aku rasa akan ada pertemuan aneh lagi setelah ini. Aku tak yakin akan berjodoh dengan Reno, jangankan berjodoh, mencoba menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih saja tidak.

Sejak itulah intensitas pertemuan kami drastis berkurang. Aku yang kembali dengan segudang kesibukanku, dan Reno? Entahlah,,,sudah lama kita tidak pernah komunikasi lagi. Mungkin Reno benar-benar hanya sepenggal kisah yang datang dalam cerita hidupku, hanya sebagai orang yang datang dan pergi begitu saja tapi membekaskan sebuah rasa yang berbeda.

Mendung di hatiku semakin pekat, hujan deras sepertinya tak bisa lagi di tahan. Aku biarkan hujan itu membasahi seluruh hatiku, tak terlihat dari luar, hanya ada senyum kamuflase yang menutupi apa yang sebenarnya terjadi.Hujan itu, karena ada rasa rindu yang besar ditahan dan tak tersampaikan. Aku merindukan saat-saat singkat bersama Reno. Aku merindukan bercanda dengannnya, bertukar pikiran dengannya, bercerita hal-hal gila bersamanya.

Genap sebulan sudah aku menghilang dari kehidupannya, pun Reno benar-benar menghilang dari hidupku. Kalaupun bertemu mungkin kita sudah tak seperti dulu lagi. Dan ternyata pertemuan itu kembali terjadi, di tempat pertama kali kita bertemu, di tempat favoritku. Kalau saja aku tahu akan pertemuan itu lagi tak akan aku pergi ke cafe sore itu.
Seperti tak percaya apa yang ada dihadapanku, aku melihat sesosok Reno sedang asik berbincang dengan seorang gadis manis, berambut panjang, dan berparas elok. Sungguh, seperti yang terjadi di sinetron-sinetron, atau di film-film drama lainnya, kejadian yang membuat tokoh Protagonis bisa menjadi tokoh Antagonis seketika ketika hal buruk terjadi dalam ceritanya.

Aku mematung, kaki terasa berat melangkah. Apa yang terjadi, kakiku seperti memaku di tempat aku berdiri saat itu, di depan pintu tepat cafe itu. Ingin sekali berputar arah dan berbalik berlari sekencang-kencangnya dan sejauh-jauhnya dan tak akan kembali lagi. Tapi sayangnya, Reno terlanjur melihatku ketika itu, tak mungkin aku berbalik arah dan pergi, itu sama aja aku kalah.

Aku kuatkan hatiku, aku yakinkan padanya kalau semua akan baik-baik saja. Aku tahu ada yang tercabik-cabik rasanya di dalam, hujan semakin pekat didadaku, perasaan rindu yang dalam itu terbayarkan dengan luka yang amat sangat dalam. Kenyataan yang sama sekali tak pernah aku harapkan. Tapi,,, beginilah adanya....
Aku lunakkan lidahku yang kelu, untuk menyapa dua orang yang ada di hadapanku.
“Hallo.....”.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar