Rabu, 09 September 2015

Part 2





Menunggu itu bukan hanya tentang hal menunggu, tapi tentang bagaimana kamu menjaga keyakinan hati selama menunggu.”

Menunggu itu membosankan, menunggu itu buang-buang waktu, tapi buat mereka yang mampu menjaga keyakinan hatinya akan sesuatu yang mereka tunggu, itu tidaklah sulit. Justru dengan menunggu saat itu tiba, kita punya semangat yang lebih dan memiliki tujuan untuk menjalani hari-hari.

Kakiku melangkah meninggalkan ruangan kerjaku di lantai 2 kantor jurnalistik. Pukul 5.15 pm, sudah tidak begitu banyak karyawan yang berlalu lalang di ruangan itu. Sebagian dari mereka sudah pulang sejak lima belas menit yang lalu dan yang lainnya masih dengan deadline mereka yang harus segera diserahkan ke pimpinan redaksi. Aku masuk ke dalam lift dan langsung memencet tombol lantai dasar. Kesibukan hari ini membuatku merasa lapar lebih cepat dari jam makan malam yang seharusnya.
Akhirnya aku memilih untuk bersantai dan menyantap beberapa cup cake di Cafe depan kantorku.Cafe ini salah satu tempat favoritku dari awal aku kerja di kantor jurnalistik ini, dua tahun yang lalu. Aku yang tidak begitu banyak teman menghabiskan banyak waktuku di kedai cafe ini. Sampai pemilik dan pelayan cafe itu hafal denganku, tempat aku biasa duduk untuk minum kopi dan kopi yang aku pesan. Persis sama tiap harinya tidak pernah berbeda, yang berbeda hanya pakaian yang aku kenakan tiap harinya. Membosankan ? Ini bukan membosankan tapi ini bentuk konsistensiku terhadap sesuatu yang aku suka apalagi yang aku cinta.

Dua cupcake dan moccachino sudah habis aku lahap, memanjakan perutku yang sedari tadi meronta-ronta minta diisi. Cukuplah appatizers ini mengganjal perut sampai waktu makan malam nanti tiba.
Aku memutuskan untuk menghabiskan sisa-sisa waktu di cafe sambil mendengarkan lagu-lagu kesayangan di iphone kesayanganku.Headset sudah menancap di kuping, tiba-tiba terasa pundakku disentuh seseorang dari belakang.
Sesosok pria sudah berdiri sambil tersenyum dibelakangku ketika aku membalikkan badan.
Tanpa ragu dia langsung mengulurkan tangannya mengajakku berkenalan.

Namanya Reno, mahasiswa yang sedang magang menjadi wartawan di stasiun tv lokal. Ternyata beberapa hari ini dia sudah memperhatikanku, mengamati setiap gerak-gerikku selama di kedai kopi itu. Menungguku di tempat yang sama setiap harinya.Tercengang juga mendengar pengakuannya, sedikit risih dan berfikir negatif tentang Reno. Jangan-jangan pria yang sedang berada di depanku ini FREAK ? Atau hanya orang iseng yang akan usil kepadaku . Hohoho, awas aja kalau berani macam-macam denganku.

Reno seperti tahu apa yang sedang aku pikirkan karena sedari tadi aku hanya diam. Langsung saja dia meminta maaf atas pengintaiannya selama beberapa hari ini. Kemudian dia mengemukakan maksud kenapa dirinya melakukan pengintaian selama ini. Adalah karena dia ingin mengangkat profil seorang jurnalis untuk dia presentasikan dalam tugas mata kuliahnya.

Satu yang membuat aku bertanya waktu itu? Kenapa harus aku yang dia pilih, secara aku belum pernah mencapai suatu hal besar dalam bekerja di dunia jurnalistik selama ini. Dan dia hanya menjawab, “karena kamu adalah jurnalis pertama yang saya temui di cafe ini.”, jawabnya singkat.
Entahlah itu awal dari sebuah modus atau apakah aku tidak paham tapi yang pasti aku jadi tergerak untuk membantu dia dalam hal ini. Itu Saja.

Perbincangan sore itu aku sudahi karena langit sudah mulai menghitam. Aku menuju parkiran depan dan langsung cepat-cepat naik ke dalam taksi yang sudah aku pesan sedari tadi. Sedikit agak ngeri kalau Reno mengikuti taksi yang aku tumpangi dan tiba-tiba berada di depan rumahku. Sungguh, malas untuk membayangkannya juga.

Sesampainya di depan rumah bersyukur sekali tidak ada mahluk seperti Reno yang aku temui di sana. Buru-buru aku membuka pintu rumah dan masuk ke dalam. Bagiku hari itu sungguh sangat absurd, di sela-sela hariku yang padat muncul sesosok makhluk entah dari planet mana mengajakku kenalan dan sepertinya aku akan sering bertemu dengannya karena aku berjanji untuk menyelesaikan tugas kuliahnya itu. Sungguh orang yang aneh. Gumamku.

Sedang asiknya aku mengingat-ngingat kejadian di kedai kopi tadi, tiba-tiba ekor mataku melihat sebuah kotak di atas lemari. Aku mengambil kotak itu dan baru sadar, kotak itu tersimpan lama di atas lemari itu bertahun-tahun lalu. Hanya kadang berpindah tempat apabila aku membersihakn lemari. Sekalipun aku tak pernah membukanya. Kotak itu dari Yoga. Mendadak perasaanku berubah aneh ketika mengingatnya, ada perasaan yang besar, jantung tiba-tiba berdetak lebih cepat, aliran darah terasa mengalir lebih cepat. Dada seperti tidak mampu menahan guncangan rindu yang serasa ingin keluar memecah dada. Aku seperti petasan yang siap meledak, menjadi berkeping-keping tak bersisa.

Aku membuka kotak itu perlahan, aku takut akan ada sesuatu yang membuatku melompat ketakutan ketika membuka kotak itu, karena Yoga selalu melakukannya tiap kali dia memberi sebuah kado kepadaku. Tapi kali ini yang aku lihat hanya daun yang mengering, di sebelahnya terdapat tulisan yang bertuliskan tangan sedikit berantakan tapi bermakna.

This is remebering the last time we touched, the last time we spoke.”

Seperti ada sihir yang mulai bekerja ketika aku selesai membaca tulisan itu. Seketika genangan bulir-bulir air mata tak mampu aku tahan di pelupuk mata, mengalir dengan lancarnya melewati pipiku dan membentuk gumpalan bulir-bulir besar yang siap jatuh ke bumi. Yoga,,,aku kangen....”, isakku dalam tangis sambil mendekap erat kotak dalam pelukan. Aku tertidur dengan perasaan rindu yang semakin mendalam kepada Yoga.



pict : google

Tidak ada komentar:

Posting Komentar