Follow Us @soratemplates

Selasa, 22 Januari 2019

Self Healing with Writing

Januari 22, 2019 0 Comments

Well,,, I’d like to tell about how I handle my broken heart phase so far.

So, here...after my last broken heart phase, around two years or something years ago -idk the exactly- I felt that I coudln’t fall in love anymore, or feel something like I couldn’t believe to the kind of relationship between man-woman. Why.... ?

I think that was normal feeling pasca broken heart phase,,,, but time by time, even I more careful to make a new relationship, eventually I fall in love again as if I forgot about ”how hard time that I’ve throughout in my broken heart phase”. I couldn’t deny when I fall in love with someone.But before we talk about that, we back to the topic about process that I’ve through.

Bagiku, jatuh cinta itu sesuatu yang sakral dan tidak mudah. Meskipun aku beberapa kali make a relationship tapi gak ada rasa cinta, ini pernah terjadi padaku. Jadi , relationship hanya sebuah status -palsu- ,dan itu melelahkan guys. Mending berpura-pura bahagia dari pada harus berpura-pura mencinta.

Jadi, ketika aku sudah mulai jatuh cinta kepada seseorang, biasanya aku selalu menyerahkan segala rasa kepada ybs (*yang bersangkutan). Nah, ini yang membuat para wanita(khususnya aku) move on nya lama, karena para perempuan mencintai dengan cara yang salah. Ini aku bisa nulis kayak gini soalnya lagi “waras” aja, coba kalo mengalami sendiri (lagi). :D

Berkali-kali gagal dan patah hati membuatku lebih berhati-hati untuk kembali menjalin hubungan pacaran, apalagi memutuskan untuk menikah. Sebelumnya beberapa kali pria memintaku untuk menjadi pendamping hidupnya, sayangnya perasaan itu tak juga kunjung kurasakan. Bukannya sok-sok menolak atau jual mahal, sini pengennya dilamar sama seorang yang juga aku cintai dan aku inginkan dalam hidup begitu juga sebaliknya, seseorang itu menginkan aku dalam hidupnya. *uhuk...

So, apa  yang aku lakukan ketika berada di fase ini ?

Banyak guys,,,,salah satunya menulis, because writing is selfhealing from depression. For me…it works.
Dengan menulis, aku bisa menumpahkan segala perasaan yang tak bisa aku ungkapkan ke orang dan akhirnya aku tumpahkan melalui  kertas putih, atau ke blog ini. Itu caraku merelease energy negative yang ada di diriku. Terlepas tulisan yang aku buat akan dipublish atau hanya sekedar memenuhi draft-ku itu gak masalah, yang penting aku bisa menyampaikannya lewat kata-kata. Kebanyakan sih, memang gak semua tulisan yang aku bikin itu harus saat itu juga aku publish, biasanya aku menunggu waktu yang tepat (*ceileh) untuk mempublish nya…

Jadi, gak semua tulisan yang aku publish saat itu adalah apa yang aku rasa saat itu juga, karena sering kali tulisan yang aku publish adalah sesuatu yang  ditulis beberapa waktu yang lalu, mungkin bisa sebulan, dua bulan, atau tahun-tahun lalu. Hehehehe

Well, back to the topic. Biasanya dalam proses menulis, aku tergantung sekali sama mood ku saat itu, karena emang tulisanku gak pernah ada deadline nya. Hehehehe. Jadi, ya,,,,kalo moodnya lagi pengen nulis, ya pasti bakalan jadi banyak hal yang bisa aku tulis, tapi…sering kali juga, banyak artikel atau cerita yang berhenti di tengah jalan dan masih menjadi penghuni di draft blog. Hem….Buatku itu sih gak masalah guys, karena yang penting apa yang ada diotak dan sudah dirangkai diangan-angan akhirnya bisa menjadi suatu tulisan yang nanti, suatu saat hari nanti tulisan itu akan aku baca kembali.

Nah, itu caraku menyampaikan isi hati atau uneg-uneg yang ada di kepala karena sudah terlalu penuh dan perlu ada media untuk menampung.

Terus apakah aku menulis hanya ketika sedih saja ? atau bikin puisi atau cerita yang melulu mellow ?
Gak juga sih, buktinya,,, bisa stalking blogku :D

Mostly sih, emang blog ku ini isinya puisi galau semua, iya saya menyadari hal itu, hahaha tapi ada beberapa postingan yang menceritakan tentang hal yang gak melulu soal cinta,cinta, dan cinta. :D
Ada beberapa puisi tentang kehidupan, tentang ibu juga ada. Beberapa juga ada cerpen dengan genre horror, tapi ya masih amatiran jadi pas dibaca lagi “B” aja hehheh…

Eniwei, apapun itu gak ada salahnya kamu mencurahkan semua perasaan yang ingin kamu curahkan, atau tentang ide, opini , atau apapun itu lewat tulisan. Salah satu misi ku menulis adalah “aku menulis sesuatu yang pada suatu hari nanti akan aku baca kembali” entah itu cerita sedih atau bahagia.

So, ready to create your story ? 💗💗💗






                                                                         

Kamis, 10 Januari 2019

Membaca buku Vs Menonton Film

Januari 10, 2019 0 Comments
Membaca buku  atau menonton film?

Mostly, bakalan pilih nonton film ya ? Siapa sih yang gak doyan nonton film ? akupun begitu, seneng banget nonton film. Paling seneng sih nonton film horor. Hahah

Anyway, kali ini aku gak akan bahas tentang film yang pernah aku tonton atau buku apa yang sering aku baca. Tapi, kali ini aku pengen membandingkan dampak dari menonton film dan membaca buku. Pengen share aja dari pengalamanku selama ini mengenai dampak dari dua kesenangan itu.

Well, ngomong-ngomong mengenai dampak nih, pertama aku mau bahas dampak dari menonton film ya (sebenernya menonton bisa apa aja, kayak nonton TV, layar tancep atau apapun itu, karena banyak hal bisa ditonton, jadi aku persempit aja bahasannya menjadi menonton Film). Biasanya, aku kalau abis nonton film entah itu di bioskop atau di laptop, aku bakalan lebih cepet lupa ama ceritanya kalau udah selesai, hahhaha. Nah, cepat lupanya aku dalam mengingat-ngingat film yang pernah aku tonton, bikin aku gak kebayang-bayang sama film horor yang udah pernah aku tonton. Biasanya sih, beberapa viewers bakalan terbayang-bayang ama hantu yang main di film horor yang abis ditonton (parno). Tapi, kalau aku, untungnya gak terbayang-bayang dengan hantu yang pernah  ditonton dimovie. Jadi, selalu aja terus penasaran kalo ada film horor baru, pengennya ndak mau melewatkan. Karena menurutku, menonton merupakan kegiatan pasif yang tidak memerlukan banyaknya kinerja otak kita. (*ini teori aku sendiri yang buat :D)

Berbeda dengan menonton, jelas membaca itu membutuhkan otak yang siap menampung dan mengimajinasikan apa yang ada di dalam cerita tersebut. Ini membuatku lebih membekas dan berkesan. Saat kita membaca, kita membutuhkan konsentrasi yang lebih. Karena bukan hanya sekedar membaca tulisan, tapi otak juga akan memviasualisasikan cerita apa yang tertangkap oleh otak. Disinilah daya imajinasi kita diasah. Aku sering kali berhenti pada kalimat-kalimat yang otakku gak bisa "terima" , ehm maksudnya di sini yang susah dicerna atau divisualisasikan. Ini sebabnya aku cenderung lama baca-baca buku yang bahasanya "tinggi" , secara aku orangnya telmi a.k.a telat mikir, lola atau loading lama. Karena itu aku lebih seneng ama novel metropop yang ringan, lugas dan menghibur. :D

Ok, fine. Intinya, membaca itu -buatku- lebih banyak meninggalkan kesan dari pada sekedar menonton. Bukan berarti kalo nonton gak meninggalkan kesan, tapi membaca kesannya lebih lama tinggal di dalam otakku. Aku pernah merasa kecewa pada sebuah film yang diadaptasi dari novel, sebagai contoh film 5cm, karena sebelum film itu direlease aku baca novelnya duluan, pas nonton filmnya langsung banyak adegan dalam novel yang di skip dalam film. Iya, karna bisa saja gak mungkin film yang durasinya kurang lebih 2 jam-an (kalo gak salah), bisa merangkum semua isi novel yang baratus2 halaman. Well, yang ini forgivable lah ya...

Tapi, masih inget film Supernova gak ? yang di angkat dari novel serial pertama Supernova - Kstaria, Putri , dan Bintang Jatuh, itu menurutku yang memerankan sebagai Diva dalam film, -maaf- kurang sesuai dengan karakter Diva yang ada di novel (karena jauh sebelum filmnya release, duluan baca novel). Aku, sebagai pecinta serial Supernova (*eaaaa) cukup kecewa dengan Supernova dalam versi visualnya. Karena Diva -yang aku imajinasikan- bukan sekedar perempuan biasa (gak bisa jelasin pokoknya baca sendiri aja novelnya, and you will know how intelectual she is). Yang ini forgivable sih, soalnya masing2 imajinasi orang kan berbeda ya, jadi mungkin ibu suri (panggilan buat Dewi Lestari), meng-imajinasikan sosok Diva apabila divisualisasikan seperti yang ada di film. Sedangkan aku, (mungkin) berkespektasi lebih tentang sosok Diva ini. 

Well, yang mau aku bilang di sini sebenarnya apa ? 
Tanpa kita sadari ketika membaca, imajinasi kita jauh melebihi diri kita sendiri, maksudnya kita memvisualisasikan sendiri alur, plot, serta karakter yang disajikan dalam novel yang kita baca. Sehingga, apabila sang author mencoba memvisualisasikan karakter dalam tokoh nyata, apabila tidak sesuai dengan yang kita imajinasikan ini akan membuat kita merasa kecewa. Ini wajar saja, bukan big problem kok. Karena masing-masing dari kita memiliki imajinasinya sendiri.

Well,,, jadi, pesan yang ingin aku sampaikan di sini adalah.... buat kamu yang kurang suka membaca, cobalah untuk mencoba membaca apapun itu, misalkan dimulai dari buku-buku bacaan favorit (kalo aku sih novel). Dan rasakan sensasinya, bagaimana kamu ikut masuk ke dalam cerita dan menyaksikan apa yang terjadi dalam cerita.
Selamat mencoba ^_^




Jumat, 10 Agustus 2018

Extraordinary Love (from Original title : My Wedding Trauma)

Agustus 10, 2018 0 Comments

*Gladis*

Tak pernah aku bisa memilih kepada siapa aku akan jatuh cinta, kalau bisa , aku ingin jatuh cinta kepada orang yang tepat, orang yang juga mencintaiku, orang yang hanya tercipta untukku, orang yang hanya akan memandangku dan tak pernah berpaling pada perempuan lain selain aku.

Harapan yang hanya akan dan terus menurus membuatku semakin tak bisa menggunakan logika secara manusiawi, aku terlampau jauh berimajinasi, membayangkan hal terbaik yang hanya akan datang padaku setiap hari.

Seperti kutukan cinta dari si cupid untukku, dia menancapkan panahnya tepat di jantungku dengan berlumuran cinta yang mematikan. Membuatku nyaris lumpuh dan tak sanggup lagi berjalan, aku benar-benar sekarat. Cupid, alih-alih balas dendam padamu, bernafas saja aku butuh alat bantu sekarang. Karena buncahan amarah dan genangan air mata dipelupuk mata membuatku tak bisa lagi menampungnya di hatiku yang sempit ini. Aku butuh udara….

Aku terus berjalan, entah ke arah mana, yang aku tahu aku hanya akan berjalan sampai aku tak sanggup lagi berjalan. Sampai pada akhirnya aku akan menemukan setitik cahaya pengharapan hatiku. Menuntun jalanku yang tanpa arah karena pada akhirnya cahaya itu akan membuatku memiliki arah, sebuah tujuan untuk melabuhkan hati di dermaga yang tepat. Tapi aku lelah sekarang, rasanya ingin berhenti saja. Meski aku belum menemukan “tempatku”.

Terima kasih untuk kamu yang telah membuatku berada disetangah mati dan setengah hidup. Aku jadi mengerti, menyerahkan rasa sepenuhnya kepada hati yang salah hanya akan berakhir tragis. Aku pun jadi sadar diri, tak pantas aku mengkambinghitamkan mu atas kesedihanku ini, karena caraku mencintaimulah yang salah yang membuatku berakhir di sini. Di jurang kepedihan, karena kesedihanku yang mendalam ini tak bisa aku tangiskan.

Tiga bulan berlalu, tertatih aku menjalani hari, mengumpulkan sisa-sisa semangat hidup ini. Sudah cukuplah aku berada di antara hidup dan mati selama ini. Berkali-kali aku mencoba mengulum sakit ini sendiri dengan diiringi rasa getir obat-obat dosis tinggi. Ya, obat tidur dengan dosis tinggi menjadi pilihan makan malamku setelah susu dan roti. Berkali-kali pula aku keluar masuk ICU.
Melihat keadaanku yang tak tertolong membuat keprihatinan di diseluruh anggota keluargaku, semua orang terpukul, dan ibuku adalah orang yang selalu menguatkanku padahal beliau yang paling terpukul melihat kondisi anaknya yang seperti orang sekarat. Dibalik senyum nya beliau menyimpan kepedihan yang mendalam Karena anak perempuan satu-satunya ditinggal di altar pernikahan ada keresahan yang tergambar jelas di wajahnya. Dan ternyata itu membuat hatiku semakin sakit.

“Ibu, aku baik-baik saja. Ibu jangan terlalu menkhawatirkanku.”

“Ibu mana yang tidak terluka melihat anaknya sakit begini ?’.

Akhirnya aku memutuskan untuk meninggalkan rumah dan memilih untuk tinggal sendiri di apartemenku. Karena berada dalam rumah itu membuatku mengingatnya. Di setiap sudut rumah itu memberikan kenangan yang terlalu indah untuk dilupakan. Tapi aku harus tetap melakukannnya bagaimanapun caranya.
Dia, sudah terlalu banyak memberiku kenangan yang manis dan pahit dalam waktu bersamaan.

Jangan sering minum obat tidur kalau tidak bisa tidur. Lebih baik sholat malam atau mengaji atau membaca buku. Itu akan membuatmu tenang.”

“Terima kasih ibu obatnya, aku bakal ingat terus” , senyumku dalam pelukanya, dan kini pelukanku merenggang, melihat sebentar wajah lembut ibuku.

“Telfon ibu kalau kamu tidak bisa tidur atau sekedar ingin ngobrol.”
 
“Iya, ibu sayang”.

Ibu melepaskan pelukannya dan mengantar kepergianku dari gerbang rumah. Aku berharap ini akan menjadi gerbang masa laluku dan juga gerbang masa depanku. Semoga….
========================================================================
Sadar Karena hidupku yang sekarang lebih penting dari masa laluku, aku berusaha bangkit dari jurang kesedihan. Menata kembali hidupku yang cukup berantakan karena kegagalanku menikah. Gagal ? ok, aku anggap ini bukan kegagalan, tapi ini sebuah penundaan. Tuhan punya rencananya sendiri, aku yakin itu….
Tiga bulan, waktu yang cukup lama untuk membuatku kembali beraktifitas di luar apartement, memulai mencari perkerjaan lagi karena sebelum acara pernikahanku -yang pada akhirnya gagal- aku sudah mengajukan surat resignku dari perusahaan advertising , tempatku bekerja 5 tahun terakhir. Meskipun beberapa kali managerku memintaku untuk kembali kalau aku sudah siap, tapi tiga bulan terakhir aku masih terus menolaknya. Tapi kali ini aku tak punya alasan lagi menolak….

Senin depan kamu bisa kembali ke kantor, Dis ?”, suara diseberang membuyarkan lamunanku.

“I will consider it, lagi pula saya tidak ada pekerjaan sekarang.” 


“You should do it ! Great, semoga kamu tidak berubah pikiran lagi. See u on Monday,Dis.” 

Tak banyak persiapan yang aku lakukan untuk mulai lagi kembali ke kantor lamaku. Aku hanya akan menyiapkan hati untuk pertanyaan-pertanyaan tentang gagalnya pernikahanku. Bagaimana aku harus menghadapi teman-teman kantor yang memandangku sebagai pengantin wanita yang gagal menikah dan terlihat begitu menyedihkan. Atau aku harus mengganti penampilanku, sedikit berbeda dengan penampilanku yang dulu, hanya sedikit saja. Tak banyak. Ah,tidak tidak. Gladis tidak akan berubah seperti apapun dan siapapun. Karena Gladis hanya akan menjadi lebih kuat dari Gladis yang sebelumnya. Iya benar. Gladis akan baik-baik saja. Hanya perlu mencari kesibukan untuk mengisi hari-harinya. Iya benar. Aku hanya perlu menyiapkan dan menata……hati.

Banyak artikel yang sudah aku baca mengenai bagaimana cara move on (sebegitu inginnya aku moveon). Dan dari artikel yang aku baca, dan aku tau dari satu artikel ke artikel yang lain sarannya selalu sama. Pertama,aku harus menghapus foto-fotoku bersamanya, menghapus nomer kontaknya, jangan lagi stalking akun social medianya, sesekali lakukanlah perjalanan, lakukan hal-hal yang membuatmu bahagia. Ya kebanyakan semua artikel menyebutkan saran-saran itu. Aku masih menunggu ada artikel tentang caranya move on dan menuliskan salah satu tips nya untuk membolehkan si pembaca melakukan pembunuhan kepada orang yang telah membuat dirinya hancur atau menuntut ke mantan secara hukum ke pengadilan. Karena kepergiannya yang mendadak membuat hidup seseorang berantakan yang merugikan secara materiil dan non-materiil. Tapi, bagaimana aku bisa menuntutnya ? keberadaannya saja aku tidak tau dimana. Banyak pertanyaan yang ingin aku tanyakan padanya. Kenapa, kenapa , dan kenapa ?
Sesak.

Berjalan di sepanjang boulevard kantor adalah kebiasaaan yang sering aku lakukan akhir-akhir ini. Menghirup udara segar di luar kantor dan melihat-lihat atau sekedar ber-say hello dengan teman-teman kantor yang melintas. Itu membuatku sedikit bisa bernafas, meluapkan pikiran yang berjejal ribuan pertanyaan di kepala. Hal yang paling mengganggu, di tengah-tengah kesibukanku tiba-tiba teringat dia, seseorang yang dulu aku hanya memikirkannya saja membuatku bahagia, tapi kini memikirkannya membuat mataku berair.

“Hai, Gladis, long time no see…”

Suara itu membuyarkan lamunanku. Suara yang tak asing lagi bagiku.

“Hai ndra, iya.” Jawabku singkat.

“Udah lama masuk kantornya ? kok aku baru liat kamu sekarang ?”.

“Udah seminggu yang lalu. Kamu sibuk mungkin.”

“Uhm, mungkin juga. Anyway,glad to see you again dis. And sorry,,, I’ve heard about your wedding. Are You OK ?”.

“Everything’s OK now, ndra. Don’t worry. That was long time ago.”

“Great. You must be stronger than you think. ‘

“Thanks, ndra…”.

“Anytime, anyway, we should meet next time. Aku mau traktir kamu di Cafe baruku. Ya, cafe kecil sih dis, I hope you like it” senyum khasnya memperlihatkan deretan gigi putihnya.

“It’s sound great, ndra.I should go there once at least.”

“Sip, nanti aku kontak kamu lagi ya. Aku harus pergi dulu ketemu klien.”

“Bye….”

Narendra, sahabatku, dulu. Sebelum aku mengenal Wisnu dan akhirnya memutuskan menikah dengan Wisnu, orang yang telah mengacaukan hidupku. Aku dan Narendra bersahabat dari aku kecil Karena dia pindah ke komplek perumahanku dan menempati rumah kosong tepat di sebelah rumahku. Kami tumbuh bersama, menangis dan tertawa bersama. Tak ada rahasia antara aku dan dia. Ketika SMA kita berdua merupakan sahabat yang bikin iri semua teman-teman di sekolah. Keikutsertaan Rendra -panggilan akrabnya- dalam beberapa ekskul dan prestasinya di dalam kelas membuatnya menjadi popular di sekolah kami waktu itu. Jujur aku bangga punya sahabat sepertinya. Banyak cewek-cewek yang memandang iri tiap kali kami menghabiskan waktu bersama. Singkat cerita kita masuk di kampus yang sama dan masuk di jurusan yang sama pula. Semuanya berjalan baik-baik saja, sampai akhirnya aku mengenal Wisnu. Entah apa yang Rendra tau tentang Wisnu, dia menentangku keras ketika aku bilang akan menikah dengan Wisnu.

“Dis, lu yakin mau nikah sama si Brengsek Wisnu itu ? kalian kan baru kenal.”

“Ndra, kok lu ngomong Wisnu brengsek sih ? Emang dia salah apa sama lu ? Lagi pula kenapa kalau gua baru kenal ama dia ? Hak apa lu menentang gua nikah sama dia ?”.

“Dis, lu tuh gak kenal Wisnu seperti apa. Dia…”

“Udah lah ndra, gua gak ada waktu buat denger fitnah-fitnah yang lu bikin buat ngancurin gua ama Wisnu. Lu emang sahabat gue ndra, tapi lu gak berhak buat ngatur hidup gua. Bahkan lu gak bisa ngatur gua kepada siapa gua jatuh cinta.”

“Dis, don’t say that I didn’t warn you ya. Elu gak ngasih gua kesempatan buat jelasin apa yang gua tau tentang Wisnu. Dan lu bilang gua fitnah dia ? Gua gak sepicik itu dis.”

Shut up, ndra. I’m too exhausted to lend you my ear to hear that I won’t to hear. You’re not my best friend anymore. Mulai sekarang jangan saling mencampuri kehidupan masing-masing. I won’t to know about your life and you don’t deserve to know about my life as well.”

Ya, that’s my stupid mistake that I’ve ever did. Kebodohan yang aku sesali sampai sekarang Karena aku saat itu hanya ingin mendengar apa yang ingin aku dengar tentang Wisnu. Andai saja saat itu aku denger dulu penjelasanmu ndra. Andai gua gak dibutakan oleh cintanya Wisnu yang ternyata palsu. Andai gua lebih mendengarkanmu Ndra. Andai lu tau , betapa malu dan menyesalnya gua saat ini ndra. Bahkan gua gak bisa lagi melihat matamu saat kita bicara tadi. Andai lu tahu , Ndra…..

========================================================================
*Narendra*

Gladis. Kamu akan selalu menjadi orang yang pertama yang aku ingat saat aku membuka mataku di pagi hari dan di saat aku memejamkan mataku ketika hariku begitu berat. Memikirkanmu adalah kebahagiaan bagiku. Tapi, aku hanya pecundang yang mencintaimu dalam diamku, mengagumimu dalam gelapku, memimpikanmu dalam setiap malam-malamku.
Kamu tau betapa pecundangnya aku Dis. Saat kamu memutuskan untuk menikah dengan si bangsat Wisnu itu. Aku tak bisa melakukan apa-apa. Pun ketika kamu ditinggalkan tepat pada hari pernikahanmu, aku tak bisa melakukan apa-apa, Karena kamu yang telah membangun benteng tinggi antara kita Dis. Kamu tak mengijinkanku menghancurkan atau bahkan memanjat tembok itu. Kamu membiarkanku membusuk dengan segala rasa yang kamu tak pernah tahu. Aku mencintaimu dalam diam. Aku akan menjadi pecundang dimatamu. Selamanya…..

Kamu ingat Dis, pertengkaran terakhir kita saat itu, itu cukup menghancurka hidupku, aku tidak berniat untuk menghancurkan hubunganmu dengan Wisnu, aku hanya benar-benar peduli denganmu Dis. Wisnu itu benar-benar brengsek. Tapi kamu gak ngasih aku kesempatan buat menjelaskan semuanya.
Kamu yang memutuskan untuk kita tidak saling berhubungan lagi. Kamu tahu betapa remuknya hatiku saat itu Dis. Tapi entah kenapa aku tak bisa membencimu malah aku merasa hampa tanpamu. Aku seperti seseorang yang kehilangan satu kakiknya, berjalan tertatih menaiki tangga panjang yang tak ada ujungnya.Tau dis, aku pernah ingin melakukan hal nekat saat sebelum hari pernikahanmu. Ingin sekali aku menculikmu dihari pernikahanmu dan aku bawa pergi kamu. Hanya kita berdua.
Tapi akal sehatku masih cukup waras untuk menghentikan imajinasi liarku. Karena aku melihatmu tertawa bahagia ketika kamu bersama Wisnu. Mendengar pernikahanmu gagal karena Wisnu brengsek itu meninggalkanmu membuat hatiku tambah hancur Dis. Ingin sekali aku membunuhnya sebagai balasan telah menyakiti hatimu. Tapi aku tak bisa melakukan apa-apa Dis,lagi-lagi kamu yang memintaku untuk tidak mencampuri hidupmu. Seharusnya saat itu aku tak menghiraukan amarahmu, tapi seharusnya aku mendampingimu. Aku malah tak berani menampakkan batang hidungku di depanmu. Seharusnya hari itu aku datang saja dis, tak usah kupedulikan kata-kata pedasmu itu. Persetan dengan harga diri, aku lebih memilih diinjak-injak harga diriku dari pada aku melihatmu hancur sepert ini.

Tapi semua sudah terjadi. Lagi-lagi aku hanya menjadi seorang pecundang. Sampai saat ini. Saat aku bertemu di boulevard kantor kita. Saat aku dengan canggungnya menyapamu, setelah beberapa menit sebelum aku memutuskan untuk menyapamu aku ingin sekali langsung memelukmu untuk meredakan kesedihanmu. Itu akan aku lakukan apabila aku dan kamu masih bersahabat seperti dulu. Tapi aku sadar, aku tak bisa melakukan itu karena kita tak lagi sama.

“Hai Gladis, long time no see…”

Setelah aku mengumpulkan kebaranianku untuk menampakkan lagi diri ini di depanmu dan menyapamu. Kamu tahu dis, aku sungguh menantikan hari ini, hari saat aku bertemu lagi denganmu. Aku rindu kamu dis…..
==========================================================================
#Gladis dan Narendra#

Gimana kopinya dis, enak ?’.

“Uhm, lu tau kan ndra gua gak ngerti soal kopi, tapi menurutku sebagai orang yang awam tentang kopi, ini serius nikmat.”

“Serius ? wah, syukurlah,,, gua pikir lu gak bakal suka. Kalo enak lu bayarnya lebih mahal yak”.

“Eniwei, cafenya nyaman ndra, konsep cafenya juga unik.”

((( Dis, ini kan konsep cafenya ide lu dulu ketika kita iseng bicara soal impian kita, dan elu dis, elu yang ngasih gua ide buat bikin café Karena gua penikmat kopi parah, dan dari elu konsep ini dis. Elu Lupa ?))).

(((Ndra, kenapa gua ngerasa café ini dibuat buat gua ya ndra. Gua inget ndra, konsep yang sekarang lu pake buat café ini kan ide gua ndra. Dan elu masih inget dengan baik apa yang gua katakan waktu itu ke elu ndra ?)))

“Elu, sekarang apa kabar Ndra ?”, banyak yang ingin gua tanyain tapi kenapa yang keluar pertanyaan basi ini. Duh Dis…

Ya gini aja Dis, gak banyak yang berubah dari gua, heheh”. Gak ada yang berubah Dis, termasuk perasaan gua ke elu. Duh Ndra, bego banget disituasi kayak gini lu masih egois gilak.

“……owh gitu , hehe.” tanggapan macam apa ini Dis ? otak lu udah gak bisa diajak mikir kreatif lagi. Cari bahasan yang lain deh…

Ndra, sorry ya sikap gua ke elu gak baik. Gua gak tau Ndra, apa gua masih pantes ketemu elu lagi. Gua malu , Ndra….”.

“Dis, udah ya, gua udah maafin elu, jauh sebelum elu minta maaf ke gua. Yang penting kan sekarang. Yang udah berlalu yaudah. Buat pelajaran kita semua.”

“Gua gak baik-baik aja Ndra. Lu salah kalau gua baik-baik aja. Gua hancur Ndra. Dan yang lebih menyakitkan buat gua, bukan karena Wisnu ninggalin gua, tapi karena persahabatan kita berakhir karena keegoisan gua. Ketololan gua karena terlalu cepat percaya ama orang brengsek kayak Wisnu.”

(((Dis, tolong jangan nangis. Gua gak bisa nahan buat meluk elu kalo elu nangis)))

“Sorry, Ndra….gua gak bisa sering ketemu sama elu lagi. Gua udah gak bisa menjadi sahabat baik lu lagi.”

(((Dis, sebegitu cintanya kah elu sama sibangsat Wisnu itu ? sampai orang yang tulus punya perasaan ke elu gak pernah terlihat sama elu ?)))

Thanks, buat hari ini Ndra.Gua balik dulu.”

“……….”

(((Peluk)))

“….Ndra….”

“Sorry Dis, Sorry gua gak bisa nahan buat gak meluk elu. Gua minta tolong kayak gini sebentar lagi aja”.

(((Ada satu hal ingin gua lakuin ketika pertama kali gua ketemu elu lagi Ndra. Meluk elu)))

“Maafin gua Ndra….”


Cinta dan patah hati memang satu paket lengkap.Semakin sering kamu jatuh cinta, semakin sering kamu juga bakalan patah hati. Berani jatuh cinta harus juga berani buat patah hatinya. Itu seninya mencintai……
Yang perlu kita lakuin ketika kita jatuh cinta sama seseorang. Gak perlu banyak mikir, rasain aja apa yang sedang terjadi di dalam hatimu. Biarkan logika memilih dan seleksi sesuai kriteria yang ada di kepala, tapi hati akan selalu punya caranya sendiri untuk menentukan. Kepada siapa akhirnya dia jatuh cinta……
Jatuh cinta itu gak salah, hanya terkadang cara kita mencintai yang salah….


*Hope you enjoy it* 💕
















Senin, 06 Agustus 2018

Wanita single di usia "Dua puluh Tua"

Agustus 06, 2018 0 Comments

Buat kamu yang merasa resah gelisah karena jodoh tak kunjung jua datang diusia-usia yang udah gak santai buat dilamar, sini ngobrol sama aku, biasanya yang bisa merasakan resah gelisahmu adalah orang yang sedang/atau telah menjalani masa-masa itu. I feel you.....girls....

Well, kalau usia menjadi patokan kita untuk mencapai sesuatu semisal lulus kuliah, karir, dan jodoh..... aku....termasuk yang paling lambat jika dibandingkan dengan teman-teman sebayaku.

Lulus SMA tahun 2009, baru mulai kerja tahun 2010, gak langsung kuliah karena orang tua tidak ada biaya. Jadi kumpul-kumpul uang dulu dan akhirnya tahun 2012 baru bisa masuk kuliah, 4 tahun menjalani half worker-half student sugguh sangat menyenangkan. Tantangan untuk mendisiplinkan diri lebih besar, management waktu, dan dituntut menjadi multi-tasking tapi tetap harus fokus.
Masa-masa menyenangkan itu malah ketika proses skripsi, kenapa ?  Itu saat-saat up-down nya mood yang paling mempengaruh proses penulisan.

Akhirnya...2016, lulus juga....tepat waktu. Di sini aku mikir, mending lulus tepat waktu atau lulus di waktu yang tepat ya ? *silahkan buat teman-teman yg mau sharing juga*

Akhir 2016, usiaku 26 tahun udah lulus kuliah, kerjaan sudah ada, tapi malah ditinggalin pacar. Cukup menyesal juga, karena aku buang2 waktu berhargaku. Padahal aku udah menjalankan management waktu sebaik mungkin, tapi ternyata itu tidak berlaku untuk urusan cinta. Dan, jodohku semakin jauh.

Setelah lulus kuliah, awal-awal tahun 2017, antara proses penyembuhan hati yang berantakan dan kalang-kabut mencari aktifitas untuk mengisi hari sabtu-minggu -karena biasanya sabtu-minggu ke kampus- ini malah kayak orang luntang-lantung, tak tentu arah, gak ada tujuan. Menyedihkan.

Akhirnya di tahun 2017, aku bertekad untuk mencari tempat kerja baru, suasana baru. Tapi, ternyata gak mudah. Aku mulai mengasihani diriku sendiri "aku gak punya tujuan". Sempat depresi, down, krisis kepercayaan diri, swing mood banget, susah senyum, badan kurus. Jangankan memikirkan soal cinta, untuk mengembalikan kepercayaan diri saja aku kesulitan.

Satu-satunya yang membuatku bisa lupa dengan semua kesedihanku adalah perjalanan. Tahun 2017 aku habiskan waktu untuk pergi ke tempat-tempat favorit, melakukan hal2 yang belum pernah aku lakukan sebelumnya, menemui orang2 yg belum pernah aku temui sebelumnya. Girls, it's worth it banget, kamu akan lupa dengan segala hal yang membuatmu resah, sedih, frustasi, (juga termasuk lupa usia 😂). Jadi lakukanlah perjalanan.

Akhir tahun 2017, usiaku 27 tahun, dan Idk why, aku lebih ikhlas menjalani semua, malah usia 27 adalah "golden age" ku, kalau orang2 biasa bilang tahun ke-25 adalah golden age, tapi yang aku rasakan malah di tahun ke-27 ini.

Early 2018 and am going to 28, aku diterima kerja di tempat yang emang aku impikan, benar-benar menikmati pekerjaan yang sekarang, aku jadi menemukan "diriku sendiri".I've got my carrier and relationship as well. ❤️️ *uhuk*

Well, intinya adalah jangan terpaku dengan angka pada usia, tidak ada istilah terlalu tua untuk mencapai sesuatu. Karena yang terbaik selalu membutuhkan waktu untuk datang dalam kehidupanmu. Tetap fokus pada pencapain, tapi jangan lupakan prosesnya. Karena yang tepenting dari sebuah tujuan adalah perjalanannya. 😁

Keep calm and stay young....



Rabu, 10 Januari 2018

Neverland ala Anita

Januari 10, 2018 0 Comments

Neverland berasal dari kata Never (tidak pernah) dan Land (daratan). Artinya daratan yang tidak pernah ada tapi ada. Dimana tempatnya ? di otak.
And I believe that everyone has their own Neverland.

Kalau Di neverland ku, di sana ada kerajaan besar, terbuat dari permen dan coklat. Bangunannya kokoh meskipun seringkali diterpa angin dan hujan.
Di Neverland, tinggal berbagai macam jenis makhluk hidup, bukan makhluk hidup biasa, karna di sana hewan dan tumbuhan pun bisa berbicara seperti manusia lainnya. Ada Brokolicious, Melonista, Wortelita, Cabelita, Catty, Doggie dan masih banyak lagi.
Di Neverland, sepanjang mata memandang terhampar rumput hijau nan subur, pohon-pohon rimbun yang teduh tanpa terkesan angker, bukit-bukit yang subur ditumbuhi berbagai tanaman terbaik dan seperti tidak pernah habis bila tiap hari dimakan dombanisa dan Rusalita.

Di Neverland, aku bisa selalu menemukan hal-hal yang menyengkan di sana, aku bisa mencurahkan semua kekesalan, kekecewaan, dan kesedihan yang aku alami di "sini".
Di Neverland, tinggal juga satu makhluk kreatif yang senantiasa bekerja tanpa lelah di segala kondisi jiwa.

Jadi, bagaimana Neverland itu bisa berpengaruh terhadap tubuh ini ?
Ketika di dunia nyata aku mengalami kesedihan aku hanya akan menyebrang ke Neverland, di sana aku datang dengan segala kekesalan yang tengah aku alami. Setelah meluapkan segalanya, Neverland akan mengolah kesedihan itu dan mengubahnya menjadi molekul-molekul yang menyenangkan, semua hal yang bisa membuat hati ini menjadi bersemangat kembali. Kemudian, hasil olahan yang  berupa molekul ajaib itu yang akan dialirkan oleh sel darah dari otak menuju ke hati. Sel darah menjadi satu2nya distributor yang akan memastikan molekul ajaib terdistribusikan dengan baik ke hati. Sehingga, hati yang telah terkontaminasi dengan berbagai macam penyakit hati akan diobati dan disembuhkan dengan baik.
Apabila hati yang sehat dan bersih, maka akan memberikan energi positif terhadap tubuh ini.
Di sinilah manusia kreatif itu mulai bekerja, dia mengeluarkan karya-karya dari susunan aksara nan indah untuk bisa ditulis agar pesannya bisa disampaikan dengan baik.

Jadi sebenernya kamu bicara apa ta ? Aku bicara tentang sugesti. Bagaimana sugesti dari dalam diri sendiri menjadi motivasi terbesar yang bisa diberikan. Karena Neverland itu terdapat di salah satu bagian tubuh terpenting kita yaitu otak. Jadi, otak yang akan memberi signal ke pada anggota tubuh bahwa hati telah bisa melakukan fungsinya dengan baik. Dengan begitu, tubuh mendapat energi positif dari dalam tubuh dan melakukan hal-hal yang positif juga.

So, everyone deserves to have their own Neverland.
Selain itu, jangan gantungkan kebahagiaanmu kepada orang lain, karna tak ada orang yang berhak atas itu. Yang mengenal dirimu adalah dirimu sendiri, bukan orang lain.

Rabu, 11 Oktober 2017

Tips Agar Perjalanan "Sendiri"mu Menyenangkan

Oktober 11, 2017 0 Comments
Everybody loves to travel. Iya itu udah pasti. Apalagi kalau bisa traveling bareng teman, sahabat, atau keluarga. Lebih istimewa lagi kalo bisa traveling bareng pasangan (ini buat yang punya pasangan ya), kalau anak muda jaman sekarang bilangnya relationship goals. Ya semacam itulah. :D

Tapi, pernah gak kalian melakukan perjalanan sendiri ? Entah itu perjalanan jarak dekat atau jauh ? Pasti akan BT banget ya kalau semisal harus bepergian sendiri kemana-mana. Pasti akan muncul pikiran begini, "nanti aku ngobrol ama siapa?", "nanti makannya ama siapa ?", "nanti kalau tidur gmna ? gak ada tempat sandaran ? *ehh...., apalagi kalau destinasi yang akan kita datangi itu merupakan tempat yang belum pernah kita datangi sebelumnya. Nah, karena banyaknya pertimbangan inilah yang menjadikan beberapa perjalanan kamu batalkan gara-gara takut mati gaya selama perjalanannya kan sayang banget. - Iya aku juga sayang-

Berdasarkan pengamatan dari pengalaman yang udah pernah aku alami, alasan kenapa seseorang itu melakukan perjalanan sendiri adalah pertama, karena seseorang itu memang butuh waktu untuk sendiri, kedua karena terpakasa. Kalau aku lebih sering yang kedua guys, hahahah...

Anyway, mau terpaksa atau enggak, aku mau kasih tips nih buat bikin perjalanan sendirimu menyenangkan, check this out:

Pertama, sebelum hari H datang, pastikan kalau kondisi badan kamu benar-benar fit. Tapi, kalau misalkan mendadak gak enak badan , batuk atau pusing, harus cepat tanggap dan sedia obat atau sejenis fresh care untuk meredakannya. Karena kita akan melakukan perjalanan sendiri -dimana gak akan ada teman bisa buat kita berkeluh kesah apalagi senderan- jadi, kira harus pintar-pintar mengurus diri kita sendiri ya guys.

Berikutnya, kalau kamu hobi membaca, membawa buku favorit selama perjalanan jauh itu worthy banget. Karena kamu bisa membaca novel atau bacaan kesukaanmu selama perjalanan, jadi ini sangat berguna banget buat kill the time. Dan perjalanan yang jauh dan sendiri mu itu gak akan terasa membosankan. Coba deh !

Next, jangan lupa charge hape yang penuh ya guys, karena selain membaca buku, mendengarkan musik selama perjalanan itu juga akan membuat perjalanan terasa lebih cepat dan menyenangkan. Selain mendengarkan musik, bagi pecinta film kamu bisa menyimpan film ke memori hape kamu. Atau kalau itu dari youtube atau media lainnya kamu bisa save offline video dan menontonnya ketika kita dalam perjalanan.

Selanjutnya, jangan lupa bawa makan dan minum. Selain dua item di atas, kamu juga harus bawa makanan dan minuman secukupnya selama diperjalanan. Perjalanan sendiri bukan berarti kamu gengsi untuk makan di kendaraan, kan gak asik banget kalo harus menahan lapar gara-gara gengsi atau malu karena gak ada temen makan. Tapi, bagi kalian yang melakukan perjalanan dengan kereta api, saat jam makan kamu bisa ke gerbong restorasi untuk membuka bekal atau memesan makanan di sana apabila kamu terlalu gengsi atau malu untuk makan di depan penumpang yang gak kamu kenal.

Nah, itu kiranya beberapa tips buat kamu yang enggan buat nge-trip sendiri. Semoga tips di atas bermanfaat ya...... ^_^
❤❤❤❤❤❤❤









Minggu, 24 September 2017

Jingga Kembali

September 24, 2017 0 Comments
Aku putuskan untuk menguburmu dalam, tapi namamu terlalu jelas untuk dilupa.
Aku mencoba mematikan bara apinya, karena aku takut akan terbakar panasnya.
Susah payah aku berjalan tanpamu, terseyok-seyok dengan luka yang susah sembuh, luka parah tapi tak berdarah.

Kemudian....

Aku memutuskan melukismu dalam setiap puisiku, mengabadikanmu dalam aksara dan bahasa yang hanya aku dan hatiku yang mengerti.

Aku sudah baik-baik saja seperti ini, duduk di tempatku seharusnya berada dan menikmati apa yang bisa aku nikmati.

Aku juga sudah baik-baik saja tanpa kamu ada...

Tapi kemudian kamu kembali, mengingatkanku akan luka yang sudah lama pergi,
mengingatkanku akan rasa yang sudah lama mati.

Tapi hati hati tetaplah hati, kamu akan selalu menjadi orang yang paling bisa aku maklumi.
Dan lagi-lagi kamu kembali, dan akhirnya pergi lagi....
Seperti kabut, yang datang dan pergi saat aku tak bisa memprediksi kondisi hati....


Kamis, 07 September 2017

Date The Girl Who Reads - Rosemarie Urquico

September 07, 2017 0 Comments



This is the reason why you (boys) should date the girl who reads. I was smiling every time I read this one. Why ? Since, I feel that this quote for me :'D 
And, make me proud that the girl who reads also have their own unique characters that make them beautiful from inside. Her knowledge, her opinion, her thinking has built her behaviours as well. So, imaginative girl isn't as weird as you think, boys. You just couldn't think as imaginative as her. Remember that. :)

#Date The Girl Who Reads - Rosemarie Urquico

“You should date a girl who reads.
Date a girl who reads. Date a girl who spends her money on books instead of clothes, who has problems
with closet space because she has too many books. Date a girl who has a list of books she wants to read, who has had a library card since she was twelve.

Find a girl who reads. You’ll know that she does because she will always have an unread book in her bag.
She’s the one lovingly looking over the shelves in the bookstore, the one who quietly cries out when she has
found the book she wants. You see that weird chick sniffing the pages of an old book in a secondhand book
shop? That’s the reader. They can never resist smelling the pages, especially when they are yellow and
worn.

She’s the girl reading while waiting in that coffee shop down the street. If you take a peek at her mug, the
non-dairy creamer is floating on top because she’s kind of engrossed already. Lost in a world of the author’s
making. Sit down. She might give you a glare, as most girls who read do not like to be interrupted. Ask her if
she likes the book.

Buy her another cup of coffee.

Let her know what you really think of Murakami. See if she got through the first chapter of Fellowship.
Understand that if she says she understood James Joyce’s Ulysses she’s just saying that to sound intelligent.
Ask her if she loves Alice or she would like to be Alice.

It’s easy to date a girl who reads. Give her books for her birthday, for Christmas, for anniversaries. Give her
the gift of words, in poetry and in song. Give her Neruda, Pound, Sexton, Cummings. Let her know that you
understand that words are love. Understand that she knows the difference between books and reality but by
god, she’s going to try to make her life a little like her favorite book. It will never be your fault if she does.

She has to give it a shot somehow.

Lie to her. If she understands syntax, she will understand your need to lie. Behind words are other things:
motivation, value, nuance, dialogue. It will not be the end of the world.

Fail her. Because a girl who reads knows that failure always leads up to the climax. Because girls who read
understand that all things must come to end, but that you can always write a sequel. That you can begin
again and again and still be the hero. That life is meant to have a villain or two.

Why be frightened of everything that you are not? Girls who read understand that people, like characters,
develop. Except in the Twilight series.

If you find a girl who reads, keep her close. When you find her up at 2 AM clutching a book to her chest and weeping, make her a cup of tea and hold her. You may lose her for a couple of hours but she will always
come back to you. She’ll talk as if the characters in the book are real, because for a while, they always are.

You will propose on a hot air balloon. Or during a rock concert. Or very casually next time she’s sick. Over
Skype.

You will smile so hard you will wonder why your heart hasn’t burst and bled out all over your chest yet. You
will write the story of your lives, have kids with strange names and even stranger tastes. She will introduce
your children to the Cat in the Hat and Aslan, maybe in the same day. You will walk the winters of your old
age together and she will recite Keats under her breath while you shake the snow off your boots.

Date a girl who reads because you deserve it. You deserve a girl who can give you the most colorful life
imaginable. If you can only give her monotony, and stale hours and half-baked proposals, then you’re better
off alone. If you want the world and the worlds beyond it, date a girl who reads.
Or better yet, date a girl who writes.”

― Rosemarie Urquico

Kamis, 23 Maret 2017

Part 5

Maret 23, 2017 0 Comments


Rindu ,,,,
tak selamanya ada penawarya,
hanya terkadang kita perlu untuk merasakannya saja tanpa perlu orang lain tahu akan apa yang dirasa.
Seperti bulan yang selalu merindukan bintang meski awan tebal menyelimuti indah sinarnya,,,
Mugkin rindu hanya perlu untuk disimpan di hati karna bila disampaikan kepada seseorang hanya akan menambah perih karena terluka oleh rindu,
Lebih perih lagi ternyata seseorang itu tak pernah merindukan ,karna dia memiliki penawar rindunya sendiri...

Kini aku sadar kalau ternyata terlalu cepat menafsirkan kebaikan yang diberikan oleh seseorang terhadap kita bisa menjadi boomerang untuk kita sendiri.Terlalu bergantung pada seseorang itu dan bahkan menggantungkan kebahagiaan kita kepadanya. Bodoh !
Orang rasional seperti ku masih juga lumpuh hanya karna kata-kata cinta, gombalan, dan perlakuan manis. Tidak, ini bukan pertama kalinya, tapi sudah kesekian kali. Dan terjadi lagi...

Aku berjalan menyusuri boulevard menuju ke tempat kerjaku. Beberapa saat aku terdiam di tempat-tempat di mana aku biasa menghabiskan waktu dengan Reno (ketika itu).Terkadang, tempat-tempat yang awalnya menjadi lokasi favorit, kini hanya menimbulkan luka dihati ketika berada di sana, bahkan hanya melewatinya saja membuat aku terdiam, ada perasaan yang tiba-tiba masuk entah apa itu. Dua perasaan yang muncul bersamaan antara benci dan rindu.

Semakin aku memikirkannya semakin aku tahu begitu naifnya aku yang terus-terusan saja memikirkannya. Orang yang telah membuatku berpikir kalau dirinya adalah seseorang yang akan terakhir belabuh di dermagaku, orang yang akan mengijinkanku menjadi satu-satunya penumpang dan akan berlayar bersamanya. Ternyata itu hanya imajinasiku saja, sekalipun dia tidak pernah mengharapkan bahkan menginginkan aku menanjadi satu-satunya penumpang dalam kapalnya.

Dia selalu punya caranya sendiri untuk membuat kejutan-kejutan dalan hidupku. Seperti yang telah dia lakukan beberapa minggu lalu di cafe favorit aku dan  dia. Bukan sesuatu yang menyenangkan, tapi sesuatu yang membuatku enggan lagi mampir di cafe itu. Kini, aku bukan lagi pengunjung setia di cafe itu, aku bukan lagi orang yang menempati meja yang dekat jendala.

Butuh waktu untuk benar-benar merelakan seseorang itu pergi, apalagi mereka pergi di saat kita belum siap sama sekali, saat kita masih terus merindukannya tapi dia tak pernah kembali lagi...

Aku, harus mengalami masa-masa terpuruk lagi, masa-masa yang paling aku benci. Bila aku tak pernah jatuh cinta, aku gak harus berpisah dengannya. Bila aku gak pernah bertemu dengannya aku gak akan pernah merindukannya, bila aku gak pernah mengenalnya aku takkan pernah ingin tahu tentang hidupnya. Tapi aku melanggar itu semua. Itu hanya doa yang tak akan pernah terkabul.

Semua sudah terjadi, jatuh cinta dan patah hati memang satu paket komplit.
Tentangnya menyimpan air mata, tawa, investasi waktu, dan pengharapan. Menyangkal, menolak, memberontak hanya akan membuat aku semakin lelah. Akhirnya aku mengitkuti arusnya yang misterius ini, mau sampai mana akan menemukan hilirnya.




Selasa, 29 November 2016

Cinta Tak Harus Memiliki (?)

November 29, 2016 0 Comments



Berawal dari "Jodoh gak kemana", dan berujung dengan "Cinta tak harus memiliki". Entah kenapa saya gak suka kata-kata itu. Klise. Dramatisasi yang hanya ada dalam puisi dan lirik lagu, novel juga sinetron. Mungkin maksudnya bagus sih, biar kita gak perlu terlalu "ngoyo". Tapi gini lho, kalo kita terpaku dengan kata-kata itu kita sama sekali gak ada usahanya, hanya menunggu datangnya jodoh kepada kita atau rela begitu saja melihat cinta kita meninggalkan kita tanpa kita melakukan sesuatu.
Hello,,, hidup itu perjuangan kalo gak mau berjuang gak usah hidup. Simple kan :D

Dalam kehidupan nyata, keikhlasan untuk membiarkan orang yang kita sayang atau yang kita cinta malah menjalin hubungan atau bahkan memutuskan menikah dengan orang lain itu bukanlah hal mudah. So, apa yang harus kita lakukan ?

Jadi begini (seharusnya), ketika kita sudah mengusahakan apa yang seharusnya kita perjuangkan tapi ternyata takdir berkata lain, yang perlu kita lakukan adalah....kita harus tetap sadar, bangun dari mimpi, dan jangan sampai lumpuh (otak). Karena ada banyak kasus ketika mereka patah hati dan terjatuh, cinta buta malah yang muncul dalam hatinya. Sebagian pecinta itu menganggap dirinya telah memiliki "cinta sejati yang padahal itu hanyalah kebutaan sejati" (perahu kertas -Dee). Cinta sejati itu ya harus memiliki bukan hanya sebatas berhenti dihati. Itu sih menurut saya :D

Tidak ada salahnya untuk tetap berdiri pada satu hati, karena sebagian orang tak mudah untuk berpaling. Lagi-lagi ini masalah waktu, tidak butuh waktu panjang untuk membuat seseorang itu jatuh cinta, tapi sebaliknya kita butuh waktu yang panjang untuk sekedar berpaling dari hati seseorang.

Sebenarnya tulisan ini adalah nasihat untuk puisi-puisi yang pernah aku posting sebelumnya. Selamanya kita tidak bisa menyimpan perasaan itu sendiri, diam-diam mencintai seseorang tanpa dia tahu kalau kita mencintainya. Itu adalah perasaan yang ternaif yang pernah saya rasakan. Karena sebelum saya memperjuangkan sesuatu itu, saya terlebih dulu dibuatnya menyerah.
(Anyway, sisi positif dari kondisi terpuruk saya dimana ketika itu perasaan saya yang berperan lebih dominan, puisi lah satu-satunya media terbaik untuk menyalurkan perasaan. :))

Jadi, pesan moral yang mau saya sampaikan di sini adalah perjuangkan apa yang seharusnya kamu perjuangkan tapi ketika kita tak bisa memiliki seseorang yang kita cintai, sesegera mungkin untuk mematikan perasaan itu, sebelum baranya membakar dirimu sendiri. Apabila kita mencintai seseorang sebisa mungkin untuk membuatnya tau tentang perasaanmu Karena dalam contoh kasus seperti ini, kamu, adalah satu-satunya orang yang menderita. Mencitai seseorang dengan sepenuh hati boleh saja, tapi jangan lupa kalau dirimu juga butuh dicintai.

Stop admiring and stop chasing the wrong person, since the right person never let you down. ^_^



Jumat, 11 September 2015

Part 4

September 11, 2015 0 Comments



Mendung semakin pekat, malam semakin tidak bersahabat, lantunan nyanyian sang angin malam mulai membisikkan badai, butiran air dari sang mata langit berjatuhan menjadi bulir-bulir yang semakin membesar dan rapat. Hujan.

Aku termenung disamping jendela kamarku, kubiarkan sedikit terbuka dan hujan diluarpun ribut ingin masuk melalui celah-celah jendela. Langit seolah mengerti kegundahan hatiku. Seharusnya aku lebih bisa menerima kenyataan kalau ternyata Reno sama sekali tidak tertarik kepadaku. Aku harus cukup tahu diri. kalau memang Reno harus memilih, tentu bukan aku jawabannya. Masih banyak yang lebih baik di luar sana. Ah, basi ! Aku sedang tidak mau mendengar kata-kata bijak itu.

Aku biarkan lamunanku jauh melayang entah sampai ke negeri antah berantah. Jauh, fantasiku terlalu jauh. Aku tarik diriku dari lamunanku dan aku tahu, aku masih duduk termenung disamping jendela kamarku. Sebaiknya aku kembali ke duniaku, dunia yang penuh dengan ambisi, dunia yang penuh dengan kompetisi, dan dunia yang dulu ada sebelum Reno ada dalam hidupku.

Sepertinya aku harus kembali,,,,,

Ponselku berbunyi, Michale Buble – Love iring favoritku terdengar memenuhi ruangan kerjaku. Tampak dilayar kaca sebuah panggilan dari “Manusia Planet” , aku biarkan terus Michale Buble bernyanyi sampai akhirnya ponsel itu diam, baru aku menyentuhnya dan meyakinkan diri kalau yang baru saja telfon adalah Reno.

Setelah perbincangan itu, aku mundur perlahan dari dunia Reno. Aku mulai pura-pura sibuk dihubungi, pura-pura banyak acara, pura-pura tidak ingiin makan siang dengannya, pura-pura tidak mau dijemput, dan kepura-puraan lain yang aku lakukan selama ini hanya untuk menghindar dari Reno. Maaf Reno.....

Ini, kali keduanya aku benar-benar jatuh cinta kepada seorang pria. Sebelumnya kepada Yoga yang tak pernah tersampaikan , dari cinta monyet sampai sekrang ini. Dan ini, aku dipertemukan dengan Reno dengan cara yang sungguh singkat dan tak pernah aku bayangkan sebelumnya akan ada pertemuan seperti itu dalam hidupku.

Memang, Tuhan selalu punya caranya sendiri untuk mepertemukan seorang yang berjodoh....

Jodoh ? Aku rasa akan ada pertemuan aneh lagi setelah ini. Aku tak yakin akan berjodoh dengan Reno, jangankan berjodoh, mencoba menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih saja tidak.

Sejak itulah intensitas pertemuan kami drastis berkurang. Aku yang kembali dengan segudang kesibukanku, dan Reno? Entahlah,,,sudah lama kita tidak pernah komunikasi lagi. Mungkin Reno benar-benar hanya sepenggal kisah yang datang dalam cerita hidupku, hanya sebagai orang yang datang dan pergi begitu saja tapi membekaskan sebuah rasa yang berbeda.

Mendung di hatiku semakin pekat, hujan deras sepertinya tak bisa lagi di tahan. Aku biarkan hujan itu membasahi seluruh hatiku, tak terlihat dari luar, hanya ada senyum kamuflase yang menutupi apa yang sebenarnya terjadi.Hujan itu, karena ada rasa rindu yang besar ditahan dan tak tersampaikan. Aku merindukan saat-saat singkat bersama Reno. Aku merindukan bercanda dengannnya, bertukar pikiran dengannya, bercerita hal-hal gila bersamanya.

Genap sebulan sudah aku menghilang dari kehidupannya, pun Reno benar-benar menghilang dari hidupku. Kalaupun bertemu mungkin kita sudah tak seperti dulu lagi. Dan ternyata pertemuan itu kembali terjadi, di tempat pertama kali kita bertemu, di tempat favoritku. Kalau saja aku tahu akan pertemuan itu lagi tak akan aku pergi ke cafe sore itu.
Seperti tak percaya apa yang ada dihadapanku, aku melihat sesosok Reno sedang asik berbincang dengan seorang gadis manis, berambut panjang, dan berparas elok. Sungguh, seperti yang terjadi di sinetron-sinetron, atau di film-film drama lainnya, kejadian yang membuat tokoh Protagonis bisa menjadi tokoh Antagonis seketika ketika hal buruk terjadi dalam ceritanya.

Aku mematung, kaki terasa berat melangkah. Apa yang terjadi, kakiku seperti memaku di tempat aku berdiri saat itu, di depan pintu tepat cafe itu. Ingin sekali berputar arah dan berbalik berlari sekencang-kencangnya dan sejauh-jauhnya dan tak akan kembali lagi. Tapi sayangnya, Reno terlanjur melihatku ketika itu, tak mungkin aku berbalik arah dan pergi, itu sama aja aku kalah.

Aku kuatkan hatiku, aku yakinkan padanya kalau semua akan baik-baik saja. Aku tahu ada yang tercabik-cabik rasanya di dalam, hujan semakin pekat didadaku, perasaan rindu yang dalam itu terbayarkan dengan luka yang amat sangat dalam. Kenyataan yang sama sekali tak pernah aku harapkan. Tapi,,, beginilah adanya....
Aku lunakkan lidahku yang kelu, untuk menyapa dua orang yang ada di hadapanku.
“Hallo.....”.


Kamis, 10 September 2015

Part 3

September 10, 2015 0 Comments



Aku percaya suatu saat akan ada masa di mana aku harus memperjuangkan cintaku. Tapi bukan untuk saat ini, aku masih nyaman dengan status single yang aku sandang beberapa tahun terakhir ini. Kalau hanya merubah status single menjadi berpacaran, bisa saja aku lakukan kapanpun aku mau, tinggal pilih mana cowok yang sudah mengantri menjadi pacarku. Ahahaha,,, wanna puke ?

Aku bukan orang seperti itu. Menjalin hubungan dengan orang itu adalah hal yang sakral buat aku, bukan hal biasa. Bagiku, tidak mudah menyatukan dua hati yang berbeda,khususnya berbeda tujuan. Pernah beberapa kali aku menjalin hubungan (pacaran) dengan beberapa pria . Tidak pernah berjalan lama, tidak ada yang membekas sampai ke hati. Karena mungkin mereka bosan dengan apa yang ada pada denganku. Ya, memang benar aku membosankan. Jangankan seorang pacar, seorang sahabatpun aku tak punya. Karena aku tidak mudah menerima seseorang yang baru dalam hidupku apalagi bisa percaya dengan orang lain, itu sulit bagiku.
Aku lebih memilih menghabiskan waktu bersama keluarga ketika aku sedang tidak sibuk bekerja dari pada pergi hangout, dugem, nonton, atau bahkan jalan-jalan di mall .Ternyata aku memang tidak suka keramaian, bising, hiruk pikuk gemerlap kehidupan di kota, aku tak suka. Ironis memang, aku yang sekarang sungguh sangat kontras dengan aku yang dulu. Aku yang sekarang pendiam, dan kurang suka bersosialisasi malah ditempatkan di kantor jurnalistik yang harus bertemu dengan banyak rekan kerja. Sebenarnya akupun tidak begitu menyukai pekerjaan ini, tapi seiring berjalannya waktu aku mencintai pekerjaanku ini.

@KantorJurnalistik

Hal menyenangkan yang selalu aku lakukan ketika sampai di kantor dan kepagian adalah membuat hot chocolate kesukaannku. Coklatnya yang mampu menyihir perasaan orang yang meminumnya menjadi lebih baik. Uhm, ya mungkin begitu. Paling tidak ada satu ritual pagi hari yang bisa aku jadikan moodboster hari itu.
Hari itu akan banyak sekali schedule meeting dan presentasi untuk project baru. Semua yang diperlukan untuk kegiatan mendebarkan itu sudah siap rapi aku simpan di dataku. Semoga hari itu lancar dan berakhir bahagia, uhm ?* maksud aku semoga hari itu bisa berakhir di cafe langganan dan menghabiskan secangkir kopiku di sana.Bahagiaku itu. :)

Tepat, jam kantor usai, aku tidak langsung merapikan meja kerjaku. Ku biarkan file-file meeting tadi tetap menghiasi meja kerjaku, berantakan sih, tapi itu seninya. Telfon kantor tiba-tiba berdering membuyarkan keasikanku bercengkrama dengan keyboardku. “Halo,,,dengan bu Rena?',suara diseberang menyapa dengan backsound knalpot motor dan deruman mobil-mobil berseliweran langsung aku mengenali suara security kantor.”Iya saya sendiri,,,kenapa pak ?”, balasku dengan tetapan mata tak lepas dari layar monitor. “Bu Rena, ada tamu yang mencari anda bu, sedang menunggu di pos satpam depan.”*Deg* tiba-tiba ada yang aneh masuk ke dalam dada, membuat jantung sempat berhenti sepersekianribu detik dan kemudian berdetak kembali, itu membuat aku sulit bernafas.Segera aku menghentikan aktifitasku dan bergegas merapikan meja kantor.

Ku tarik blazer coklatku yang aku letakkan di punggung kursi kerjaku, merapikan sedikit rambutku dan kemudian bergegas menuju lift. Aneh, padahal aku tidak tahu siapa yang sedang menungguku di depan kantor, kenapa aku bisa se-excited ini ? Heloow, Rena...be rasional pls,,, (gumamku dalam hati).
Sampai di depan pos security, aku melihat sesosok makhluk bernama Reno sedang asik bercengkrama dengan pak security.

“Ouh, kamu to Ren?”, sedikit nada kecewa keluar dari mulutku tanpa tedeng aling-aling, membuat Reno menghentikan aktifitas berguraunya dengan pak security dan melihatku. “Kenapa Ren, kecewa ya melihat ternyata yang jemput kamu itu aku”,Reno cekikikan melihat ekspresiku.”Kita kan janjian di Cafe kemaren, kenapa kamu ke sini?.”
“Abisnya kamu lama sih, udah berakar aku di cafe itu,” masih dengan senyum lebarnya.
“Yaudah kita mulai di mana ngerjain tugasmu itu?”,tanyaku sedikit malas.
“Dihatimuuuuuu,,,,,,”,Reno semakin terkekeh melihat muka masamku. GARING.
Tak kuhiraukan celetukan Reno sambil lalu.

@Cafe

Dua moccachino dan dua pancake sudah tersaji di meja. Reno tengah serius dengan keyboard laptopnya dan aku di sebelahnya. Membenarkan satu dua slide show yang akan dipresentasikan pekan depan. Pikirku, rajin benar ini orang, padahal presentasi masih minggu depan tapi dia persiapkan semuanya jauh-jauh hari seperti mau presentasi sebuah project baru.

Biasanya untuk sebagian mahasiswa cowok kebanyakan kurang memperhatikan tentang tugas-tugas kuliah, biasa mengerjakan di hari-hari Deadline tiba. Bukan hanya kaum lelaki saja tetapi bebarapa mahasiswi pun melakukan hal yang sama. Seperti akupun juga begitu. Karena ada tantangan tersenderi mengerjakan tugas di detik-detik Deadline, dan itu luar biasa berdebar rasanya. Seperti otak dipaksa untuk mengeluarkan semua kemampuannya untuk menghasilkan sebuah tugas yang sempurna. Dan ide-ide konyol selalu datang entah dari mana asalnya. Senyum-senyum sendiri aku mengingat masa-masa dikejar-kerja Deadline tugas.

Aku masih asik dengan lamunanku ketika Reno diam-diam memperhatikanku. Sial ! Neh anak bikin aku salah tingkah. Tatapannya membuat aku reflek menunduk karena tidak bisa tahan lama memandang mata itu. Mukaku memerah. Deg.Kenapa sih Reno ini?

Setelah pertemuan itu, hari-hari berikutnya Reno rajin menghubungi nomer ponselku, sekedar menyapa, telfon ,sampai akhirnya janjian untuk makan siang atau makan malam di kafe langganan. Dan, sebulan mengenal makhluk alien ini membuatku seperti mempunyai dunia yang baru.Sepertinya aku sudah masuk ke dalam spesies alien ini , Reno. :D

Pertemuan yang tidak pernah aku sangka sebelumnya, pertemanan yang baru mau jalan 3 bulan, dan intensitas pertemuanku dengan Reno yang bisa dibilang seperti orang minum obat setiap hari selama 3 bulan itu membuatku mulai nyaman dengan makhluk langka itu. Reno mampu mengubah hidupku yang tadinya hanya hitam dan putih, kini dia tambahkan lagi warna orange, nila, tosca, navy, dan warna-warna kombinasi lainnya. Dan ternyata aku menyukai perubahan baru dalam hidupku ini.

“Heh, Reno,kamu kok keseringan sama aku, ntar lama-lama kamu suka lagi sama aku,” gurauku ke pada Reno yang tengah asik melihat-lihat hasil potretannya siang itu.

“Kalo emang iya gimana?”, celetuknya masih dengan mata yang tak lepas dari kamera.

“........”, aku mendadak terdiam.

“Kenapa kok diam?”

“........”, aku semakin bungkam.

“Ahahahhha,,,,Rena, rena, aku bercanda tauukkkkkk”,celotehnya semakin membuat hatiku ketika itu semakin tak karuan.

Bercanda ya? Cuman bercanda ya?
Kenapa? Seharusnya aku senang donk, Reno gak beneran suka sama aku, seharusnya aku bahagia donk, karena satu makhluk alien akan menghilang dari kehidupanku, karena mungkin tak lama lagi Reno akan punya pacar dan akan lebih sibuk dengan pacarnya dari pada meladeni perempuan jutek dan aneh sepertiku. Dan hidupku akan kembali normal seperti biasanya kan. Yang tenang dan gak ribet karena ada Reno. Tapi,,,,,,, kenapa aku sedih ? Seperti bunga yang sudah siap mekar, tapi kemudian layu karena tak ada lagi matahari untuknya berfotosintesis.


Rabu, 09 September 2015

Part 2

September 09, 2015 0 Comments




Menunggu itu bukan hanya tentang hal menunggu, tapi tentang bagaimana kamu menjaga keyakinan hati selama menunggu.”

Menunggu itu membosankan, menunggu itu buang-buang waktu, tapi buat mereka yang mampu menjaga keyakinan hatinya akan sesuatu yang mereka tunggu, itu tidaklah sulit. Justru dengan menunggu saat itu tiba, kita punya semangat yang lebih dan memiliki tujuan untuk menjalani hari-hari.

Kakiku melangkah meninggalkan ruangan kerjaku di lantai 2 kantor jurnalistik. Pukul 5.15 pm, sudah tidak begitu banyak karyawan yang berlalu lalang di ruangan itu. Sebagian dari mereka sudah pulang sejak lima belas menit yang lalu dan yang lainnya masih dengan deadline mereka yang harus segera diserahkan ke pimpinan redaksi. Aku masuk ke dalam lift dan langsung memencet tombol lantai dasar. Kesibukan hari ini membuatku merasa lapar lebih cepat dari jam makan malam yang seharusnya.
Akhirnya aku memilih untuk bersantai dan menyantap beberapa cup cake di Cafe depan kantorku.Cafe ini salah satu tempat favoritku dari awal aku kerja di kantor jurnalistik ini, dua tahun yang lalu. Aku yang tidak begitu banyak teman menghabiskan banyak waktuku di kedai cafe ini. Sampai pemilik dan pelayan cafe itu hafal denganku, tempat aku biasa duduk untuk minum kopi dan kopi yang aku pesan. Persis sama tiap harinya tidak pernah berbeda, yang berbeda hanya pakaian yang aku kenakan tiap harinya. Membosankan ? Ini bukan membosankan tapi ini bentuk konsistensiku terhadap sesuatu yang aku suka apalagi yang aku cinta.

Dua cupcake dan moccachino sudah habis aku lahap, memanjakan perutku yang sedari tadi meronta-ronta minta diisi. Cukuplah appatizers ini mengganjal perut sampai waktu makan malam nanti tiba.
Aku memutuskan untuk menghabiskan sisa-sisa waktu di cafe sambil mendengarkan lagu-lagu kesayangan di iphone kesayanganku.Headset sudah menancap di kuping, tiba-tiba terasa pundakku disentuh seseorang dari belakang.
Sesosok pria sudah berdiri sambil tersenyum dibelakangku ketika aku membalikkan badan.
Tanpa ragu dia langsung mengulurkan tangannya mengajakku berkenalan.

Namanya Reno, mahasiswa yang sedang magang menjadi wartawan di stasiun tv lokal. Ternyata beberapa hari ini dia sudah memperhatikanku, mengamati setiap gerak-gerikku selama di kedai kopi itu. Menungguku di tempat yang sama setiap harinya.Tercengang juga mendengar pengakuannya, sedikit risih dan berfikir negatif tentang Reno. Jangan-jangan pria yang sedang berada di depanku ini FREAK ? Atau hanya orang iseng yang akan usil kepadaku . Hohoho, awas aja kalau berani macam-macam denganku.

Reno seperti tahu apa yang sedang aku pikirkan karena sedari tadi aku hanya diam. Langsung saja dia meminta maaf atas pengintaiannya selama beberapa hari ini. Kemudian dia mengemukakan maksud kenapa dirinya melakukan pengintaian selama ini. Adalah karena dia ingin mengangkat profil seorang jurnalis untuk dia presentasikan dalam tugas mata kuliahnya.

Satu yang membuat aku bertanya waktu itu? Kenapa harus aku yang dia pilih, secara aku belum pernah mencapai suatu hal besar dalam bekerja di dunia jurnalistik selama ini. Dan dia hanya menjawab, “karena kamu adalah jurnalis pertama yang saya temui di cafe ini.”, jawabnya singkat.
Entahlah itu awal dari sebuah modus atau apakah aku tidak paham tapi yang pasti aku jadi tergerak untuk membantu dia dalam hal ini. Itu Saja.

Perbincangan sore itu aku sudahi karena langit sudah mulai menghitam. Aku menuju parkiran depan dan langsung cepat-cepat naik ke dalam taksi yang sudah aku pesan sedari tadi. Sedikit agak ngeri kalau Reno mengikuti taksi yang aku tumpangi dan tiba-tiba berada di depan rumahku. Sungguh, malas untuk membayangkannya juga.

Sesampainya di depan rumah bersyukur sekali tidak ada mahluk seperti Reno yang aku temui di sana. Buru-buru aku membuka pintu rumah dan masuk ke dalam. Bagiku hari itu sungguh sangat absurd, di sela-sela hariku yang padat muncul sesosok makhluk entah dari planet mana mengajakku kenalan dan sepertinya aku akan sering bertemu dengannya karena aku berjanji untuk menyelesaikan tugas kuliahnya itu. Sungguh orang yang aneh. Gumamku.

Sedang asiknya aku mengingat-ngingat kejadian di kedai kopi tadi, tiba-tiba ekor mataku melihat sebuah kotak di atas lemari. Aku mengambil kotak itu dan baru sadar, kotak itu tersimpan lama di atas lemari itu bertahun-tahun lalu. Hanya kadang berpindah tempat apabila aku membersihakn lemari. Sekalipun aku tak pernah membukanya. Kotak itu dari Yoga. Mendadak perasaanku berubah aneh ketika mengingatnya, ada perasaan yang besar, jantung tiba-tiba berdetak lebih cepat, aliran darah terasa mengalir lebih cepat. Dada seperti tidak mampu menahan guncangan rindu yang serasa ingin keluar memecah dada. Aku seperti petasan yang siap meledak, menjadi berkeping-keping tak bersisa.

Aku membuka kotak itu perlahan, aku takut akan ada sesuatu yang membuatku melompat ketakutan ketika membuka kotak itu, karena Yoga selalu melakukannya tiap kali dia memberi sebuah kado kepadaku. Tapi kali ini yang aku lihat hanya daun yang mengering, di sebelahnya terdapat tulisan yang bertuliskan tangan sedikit berantakan tapi bermakna.

This is remebering the last time we touched, the last time we spoke.”

Seperti ada sihir yang mulai bekerja ketika aku selesai membaca tulisan itu. Seketika genangan bulir-bulir air mata tak mampu aku tahan di pelupuk mata, mengalir dengan lancarnya melewati pipiku dan membentuk gumpalan bulir-bulir besar yang siap jatuh ke bumi. Yoga,,,aku kangen....”, isakku dalam tangis sambil mendekap erat kotak dalam pelukan. Aku tertidur dengan perasaan rindu yang semakin mendalam kepada Yoga.



pict : google

Selasa, 08 September 2015

Part 1

September 08, 2015 0 Comments

Jingga


Senja yang mulai menghilang
jingganya pun mulai memudar
barganti oleh sang langit gelap

Tapi,,,apa gerangan yang sedang kau renungkan
Apa pula yang sedang kau ragukan
Bukankah langit yang akan selalu mengenang
Bagaimana saat itu kita saling memandang

Aku mengerti apa yang sedang kau risaukan
Aku juga paham apa yang sedang kau rindukan

Nyanyian sang alam
Dekapan nyaman dari tangan sang bumi
sapaan hangat sang mentari

Tapi,,,
kini tak pernah kau rasakan lagi,,
bahkan engkau pun sudah sangat lupa
bagaimana ketika itu burung camar menari menantikan sang jingga.



Part 1



Ribuan masa yang lalu,

Rena,,,lari,,sini jangan sampai ke tangkap pak satpam!,”
ah,,cemen lu Ren,,segitu aja kagak berani,,,!”.
Lem nya yang banyak biar gak bisa lepas...,,ahahahha...”

------ Tawa itu....-----

Kita hanya anak remaja yang tanpa dosa mengusili satpam sekolah saat beliau mulai terkantuk-kantuk di pos jaganya. Melepaskan topi penutup wajahnya yang sedang tidur dan meletakkan petasan di bawah kursinya. Belum lagi kejahilan di kelas yang sering kali kami lakukan , seperti menyembunyikan semua kapur tulis di kelas sehingga para guru tidak bisa menulis di papan tulis, meletakkan lem di kursi, menyembunyikan baju olah raga teman, mengunci temen di kamar mandi, corat-coret tembok (untuk yang satu ini partner usilku itu memiliki keahlian yang lumayan dalam menghasilkan hasil karya di dinding kelas kami, ya meskipun akhirnya kena hukuman juga).

Suatu saat lu akan mendapat penghargaan untuk hasil karya ini ,”kataku sambil menepuk pundaknya dengan mata masih terkagum-kagum dengan hasil gambarnya.

Sekarang ribuan masa itu hanya akan menjadi kenangan kenakalan kami semasa kecil. Sering kali kebodohan yang pernah kami perbuat di masa lalu membuat aku terkekeh-kekeh sendiri. Kok bisa kami melakukannya. Tapi kenakalan, kejahilan, keusilan, dan partner jahilku itu pun menghilang. Dia Pergi.

Hari itu,entah tahun keberapa aku tak pernah melihatnya lagi, apalagi saling bertemu dan temu kangen dengannya ,komunikasi lewat telfon pun tidak. Sebenarnya aku ingin sekali menghubunginya kalau saja aku tahu nomer telfonnya.
Namanya Yoga, satu-satunya anak cowok yang mau berteman denganku. Dia juga yang selalu “ngomporin” aku tiap kali aku akan melakukan misi perjahilanku. Ahahhahaha.....Yoga, dimana kamu sekarang? Panggilku dalam hati. Ada kesan rindu dibalik itu.Iya, aku rindu kamu Yoga.

Terakhir kali aku bertemu dengannya ketika kita sama-sama ke acara Prompt Night yang diadakan sekolah kami dimasa putih abu-abu. Setelah malam itu Yoga menghilang. Nomernya tidak lagi bisa dihubungi, aku coba cari ke rumahnya ternyata Yoga dan keluarganya sudah pindah ke luar negeri. Aku mencoba bertanya ke beberapa tetangganya, tapi tak ada yang tahu alamat tempat tinggal Yoga yang baru. Masih di Asia kah, atau di Eropa? Entah dimana kamu sekarang yang pasti aku tak bisa melihatmu lagi.Sama sekali tak habis pikirku, kenapa Yoga menghilang tanpa memberi tahu aku sebelumnya, bahkan obrolan yang menjurus kalau dia mau pindahpun tidak. Kenapa mendadak? Kenapa harus begini ? Kenapa gak pamit ? Kenapa,,,, kamu pergi?

Sejak empat tahun yang lalu, perubahan pada diriku sungguh sangat drastis. Aku yang periang, yang usil, hyperaktif,suka mencari perhatian orang dengan kejahilanku, mendadak menjadi sangat pendiam, penyendiri, dan cuek. Keluargaku, teman-temanku, cukup bersyukur dengan perubahan sikapku ini. Tapi aku, aku sendiri tidak tahu apakah harus sedih atau harus senang, tapi yang pasti ada satu orang yang mampu membuatku seperti ini. Itu kamu Yoga. Kamu di mana?


Ribuan hari berlalu, ribuan kejadian pun terjadi tanpa ada Yoga. Kalau saja ada hal yang bisa membuatku melupakannya dalam hidupku ini, aku akan melakukannya. Tapi sayangnya, hanya Yoga yang bisa membuatku merasa berbunga-bunga, berharga, dan jatuh cinta. Ya, jatuh cinta, karena aku belum pernah jatuh cinta lagi kepada cowok lain selain Yoga.
Yoga sahabatku, yoga partnerku, Yoga juga cinta pertamaku, dan cinta pertamaku tak pernah tersampaikan kepadanya, karena dia terlanjur menghilang bak ditelan bumi. Lalu kepada siapa aku harus menyampaikan rasa ini?

Usiaku kini sudah kepala dua, sudah lebih dari nama sebuah Bioskop yang terkenal, tapi aku masih belum memikirkan untuk berumah tangga. Karirku yang cukup lumayan, wajahku yang tak begitu jelek (*katanya), dan pola pikir yang kadang jauh lebih dewasa dari perempuan-perempuan seusiaku, seharusnya membuatku lebih mudah menemukan jodohku. Tapi lagi-lagi, jodohku buatku tetapakan menjadi misteri yang terindah. Kepada siapa akhirnya kapal pencarian ini akan berlabuh. Tapi yang pasti aku berharap akan melabuhkan kapal pencarian ini di dermaga yang tepat.

Anyway, perkenalkan, namaku Rena, perempuan tulen asli dari jawa, keras kepala, pendiam, dan sedikit menyebalkan. Dan ini tentang ceritaku :)